Yang Terjauh Bukan Jarak, Tetapi ‘Long Distance Religionship’

Yang Terjauh Bukan Jarak, Tetapi ‘Long Distance Religionship’

Yang tak kita harapkan; sebuah perbedaan yang justru menyatukan kita.

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Cinta,

Boleh jadi merupakan suatu istilah yang sulit untuk dimaknai atau dibatasi secara jelas, definisi yang terkandung di dalamnya, acapkali adalah benang-benang rumit yang bermula dari sebuah ketertarikan dan kepemilikan, kolaborasi dari keduanya.

Kendatipun demikian, sulit juga untuk diingkari bahwa cinta adalah salah satu unsur kebutuhan hidup manusia. Sampai dengan sekarang ini masih banyak orang beranggapan bahwa cinta itu tidak lebih dari sekedar perasaaan yang menyenangkan untuk mengalaminya orang harus jatuh ke dalamnya.

Telah dibahas dalam salah satu artikel Thexandria yang berjudul “Budak Cinta, Nasibmu Kini” menunjukkan bawa cinta yang berlebihan utamanya pada satu sosok yang dicintai akan melahirkan tindakan-tindakan yang justru akan ”memenjara” bahkan ”menciderai”. Sosok itu harus dan tetap menjadi miliknya dengan segala pengorbanan yang bahkan di luar batas normal. Hal ini membawa budayawan dan seniman handal, Sujiwo Tedjo untuk bertutur;

“Cinta nggak butuh pengorbanan, begitu kamu merasa berkorban, kamu sudah nggak cinta.”

Cinta memang tak pernah salah. Cinta juga bisa tumbuh kapan saja, di mana saja. Ia pun sering datang tanpa lebih dulu ketuk pintu hingga tiba-tiba saja mereka yang kejatuhan cinta seketika bahagia dan lupa. Lupa bahwa ada keadaan dan batas yang seringkali membuat cinta menjadi salah, bisa salah waktu, bisa juga salah keadaan. Sebagai umat beragama hendaknya kita wajib percaya bahwa Tuhan menitipkan kepada setiap umat-Nya sebuah perasaan yang muncul dalam hati guna mengasihi sesamanya.

Bukan hanya perasaan cinta, namun anugerah utama yang Tuhan hadiahkan kepada manusia adalah agama dan iman. Karena agama adalah sebuah game of rules yang tersusun dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan atau perintah bagi kehidupan masing-masing.

Di dunia ini, banyak sekali kepercayaan masyarakat yang pada dasarnya dilandaskan dengan pengaruh pemimpin agama untuk memberikan masyarakat dunia sebuah pedoman untuk hidup. Meskipun agama berbeda-beda ajarannya, tetapi dari semua agama ada satu tujuan yang ingin dicapai para penganutnya yaitu, kedamaian dan keselarasan batin.

Melihat tujuan dari agama dan rasa cinta itu dititipkan, sangat indah bukan? Namun pada kenyataannya antara cinta dan agama tak pernah sesederhana itu. Apabila kedua aspek tersebut menyatu dalam perbedaan, tingkat kerumitan dari polemik hubungan jarak jauh (long distance relationship) yang banyak dijalani oleh pasangan masa kini akan menapaki satu level lebih mudah, long distance religionship-lah yang kepalang rumit.

Karena perjuangan yang dilakukan tidak sebatas gambaran kutipan lirik Upstair-Matraman, yaitu dengan menempuh jarak dari Jakarta-Bandung untuk mempersembahkan sekuntum mawar kepada sang pujaan hati.

Perbedaaan keyakinan yang merujuk kepada agama masing-masing akan memperjuangkan restu dari masing-masing orang tua yang dianggap fase paling berat untuk menapaki jenjang selanjutnya yang lebih sakral yaitu pernikahan.

Restu Orang Tua

Sejak awal, pasangan yang menjalani beda agama, sadar betul bahwa mereka membawa keyakinan berbeda yang sudah melekat sejak lahir dan dihayati sampai kelak saat hidup akan berhenti. Tapi sebagaimana layaknya manusia yang tengah dimabuk asmara, tantangan yang sudah jelas di depan mata pun dianggap seolah tak ada.

Semua jalan seolah nampak lurus dan mulus untuk mereka lalui berdua. Waktu berjalan tanpa terasa dan mereka berdua hanya bisa berharap untuk segera mendapat jalan terbaik demi kelanggengan hubungan mereka.

Meski di sisi lain, waktu juga sadar betul, bahwa kehidupan akan menjadi bom waktu.

Pada akhirnya pasangan dengan keyakinan yang berbeda menjadi sangat rawan akan konflik pada keluarga masing-masing. Konflik yang terjadi tidak hanya pada keyakinan antar pasangan, tetapi juga pada dogma yang disosialisasikan dan terlanjur terasosiasikan pada anak dari pasangan tersebut, sehingga kesamaan keyakinan antar pasangan selalu menjadi hal yang diidamkan oleh setiap pasangan. Dengan asumsi, di luar daripada kenyataan itu sendiri.

Sulit pula untuk disangkal, bahwa pasangan yang berbeda agama, cenderung lebih sulit mengadaptasi keselarasan, karna pernikahan tak hanya sekedar menggabungkan dua kepala, namun dua keluarga besar. Juga akan banyak ditemukan bahwa pada pasangan tersebut mengalami konflik non-realitas, yang mana merupakan konflik yang disebabkan oleh rasa kekecewaan yang disebabkan oleh tuntutan-tuntutan khusus dalam hubungan mereka. Dengan adanya perbedaan nilai dan prinsip tersebut, maka semakin besar juga tekanan yang ada, sehingga memperbesar rasa kecewa dalam hubungan tersebut.

Baca Juga: Kita Semua Pantas untuk Bahagia

Kedepannya pasangan yang berbeda agama akan memiliki kecenderungan untuk melakukan konversi. Konversi hanya dilakukan untuk memperoleh restu dari orang tua supaya pernikahan tersebut dapat dilangsungkan. Tetapi konversi malah menimbulkan konflik dalam diri, yang mana timbul rasa tidak aman secara batin karena menganut prinsip-prinsip yang sangat berbeda dengan apa yang sudah diinternalisasi sejak kecil.

Karena adanya perbedaan tersebut, maka konversi tersebut tidak bisa mengimani agama hasil konversi tersebut, yang menjadikan konversi hanya semata-mata karena keterpaksaan dan hanya sebagai pengesahan pernikahan semata yang berujung pada konflik batin berkelanjutan.

Dunia bisa saja menampakan wujud yang bijak.

Berbicara mengenai perbedaan keyakinan dalam sebuah hubungan, masih ada pula, yang memilih untuk bertaruh lebih jauh lagi, menjadikan dogma sebuah objek yang dapat terdegradasi oleh apa yang dinamakan sebuah cinta.

Karena adapula yang beranggapan bahwa agama, hanya sebatas “cara untuk menyentuh Tuhan”, sedangkan Tuhan itu sendiri, diyakini oleh mereka yang bertaruh, bahwa Ia Maha Mengerti dan Maha Mengasihi.

“Cobalah untuk me-respek perbedaan.

Antara kau, aku. hewan, setan. warna. hitam, putih. keras ataupun pelan.

Coba jabarkan isi otak Martin Luther ketika suarakan persamaan.

Apa masalahmu?! Masalahku dan kau bukan sebatas perbedaan.

Hanyalah tentang bagaimana, bagaimana kita hidup berdampingan..”

Sumber Foto: Dailydot.com

Share Artikel:

2 thoughts on “Yang Terjauh Bukan Jarak, Tetapi ‘Long Distance Religionship’

  1. teman saya dulu ada yang memperjuangkan cintanya, meski beda keyakinan. padahal keluarga dia tidak setuju. tapi sekarang sudah tidak lagi, karena sudah menemukan pasangan yang seiman.

    1. Semoga teman anda dan keluarganya berbahagia dan menjaga keharmonisan rumah tangganya. Dan bagi yang jomblo semoga segera dipertemukan dengan jodohnya.
      Salam, Thexandria 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.