Yakinlah, Formasi Menteri Bukan Kelas Teri!

Yakinlah, Formasi Menteri Bukan Kelas Teri!

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Terjawab sudah rasa penasaran publik pasca presiden Joko Widodo melantik 34 menteri dan 4 pejabat setingkat menteri di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019), disusul dengan pelantikan 12 wakil menteri pada Jumat (25/10/2019).

Pembentukan formasi kementerian beserta jajaran yang kemudian diberi nama “Kabinet Indonesia Maju” oleh bapak presiden sendiri. Berpetualang di sosial media, tidak sedikit warganet yang bertanya-tanya akan komposisi kementerian untuk mengarungi dinamika bangsa 5 tahun kedepan.

Sebenarnya, sejumlah nama yang diumumkan tidak mengejutkan masyarakat. Wajah-wajah lama kembali dipercayakan untuk posisi mereka sebelumnya, seperti Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan, Retno Marsudi sebagai Menteri Luar Negeri, atau Basuki Hadi Muljono sebagai Menteri PUPR.

Kemudian hadir pula bapak Prabowo Subianto yang kemudian resmi diumumkan sebagai Menteri Pertahanan. Sesuai juga dengan prediksi publik yang memang cukup mengejutkan dan menimbulkan tanya—untuk beberapa kalangan menganggap “harga diri” pak Prabowo turun karena di ujung cerita hanya menjadi “bawahan” presiden apabila melihat perjuangan beliau di pilpres yang bisa dibilang “habis-habisan”.

Legowo sajalah, kesampingkan ego kita, toh ini semua demi kepentingan bangsa.

Setelahnya, sangat banyak pesan yang diamanahkan presiden kepada para menterinya yang menjadi pondasi fundamental dalam bekerja lima tahun kedepan. Cukup banyak pesan presiden yang menjadi sorotan dalam arahannya, contohnya pada saat mantan Walikota Solo itu mengatakan bahwa tidak ada visi-misi menteri, yang ada hanyalah visi-misi presiden dan wakil presiden. Lalu pesan yang menjadi pekerjaan rumah paling besar dalam melawan polemik besar bangsa ini adalah :

“Saya perintahkan jangan korupsi. Ciptakan sistem yang menutup celah terjadinya korupsi.”

Bukan tanpa dasar presiden memberi garis bawah pada pesan tersebut, karena korupsi adalah hal yang tidak pernah selesai atau mungkin tidak mau diselesaikan oleh bangsa. Seakan tidak pernah belajar, bangsa ini terus-terusan mengulang cerita-cerita tentang korupsi. Padahal sejarah membuktikan bahwa korupsi sudah menyebabkan Indonesia mengalami dua krisis ekonomi ada rezim Orde lama dan Orde Baru.

Pesan tersebut berlaku mutlak kepada semua menteri. Tidak pandang siapapun, mereka akan dicopot di tengah jalan apabila tidak serius dan tersangkut kasus dalam menjalankan tugasnya. Karena apabila melihat formasinya, banyak pihak yang optimis “tim baru” kementerian ini akan berjaya tanpa kasus karena diisi oleh para profesional, walaupun tak sedikit juga yang pesimis.

Sekali lagi, bangunlah “positive-vibes”, karena yang terpilih adalah orang-orang terbaik, setidaknya dalam bidang mereka masing-masing.

Mengutak-atik Formasi ala Presiden

Ibarat dalam sepakbola, juru taktik harus menyusun formasi yang tepat untuk membangun sebuah tim juara. Seorang penyerang tidak akan berguna apabila ditempatkan sebagai seorang penjaga gawang, karena kemampuan mencetak gol dari sang penyerang sangat dibutuhkan tim untuk meraih kemenangan dari satu laga ke laga lainnya.

Baca Juga: Jusuf Kalla Purna Tugas di Pidato ke 601

Hal inilah yang dilakukan bapak Joko Widodo selaku “Juergen Klopp”-nya Republik Indonesia dalam menentukan posisi yang pas bagi para menteri sebagai pemain penting di segala sektor. Dalam sepakbola juga terdapat istilah “berjudi” ketika mencoba seseorang pemain untuk menempati posisi yang tidak biasa ditempatinya, yang kemudian akan memunculkan dua kemungkinan, strategi berhasil dan menang atau strategi gagal dan berbuah kekalahan.

Tanpa bermaksud mengindikasikan pak Jokowi “berjudi” dalam hal pemilihan para menteri dalam kabinet barunya. Karena tidak ada kata coba-coba dalam membangun republik ini, khususnya melihat orientasi presiden untuk memajukan kualitas sumber daya manusia dan perekonomian dalam ekspansi global. Karena ada begitu banyak elemen masyarakat yang mempertanyakan beberapa pos kementerian yang diisi oleh orang yang tidak relevan dengan bidang kementerian yang mereka duduki.

Sudahlah, segala keputusan presiden itu bukan asal tunjuk, segalanya sudah difikirkan dengan beberapa pertimbangan matang dengan para ahli, yang bahkan saya sendiri tidak terfikir akan hal itu.

Cukup mengejutkan ketika mendengar Nadiem Makarim ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, karena latar belakang menteri termuda pada kabinet ini yang bukan dari bidang pendidikan. Hal itu seolah membangkitkan ingatan saya pada sebuah perkataan dosen saya semasa kuliah,

“Para petinggi di Dinas Pendidikan atau Kementerian Pendidikan harus diisi oleh orang berlatarbelakang pendidikan! Bagaimana bisa dia menyusun kurikulum, menetukan indikator pencapaian pembelajaran bahkan mensupervisi pendidikan kalau dia tidak pernah menjadi guru atau kepala sekolah?!”

Namun kekhawatiran saya seolah mereda ketika presiden menuturkan alasan di balik penunjukkan mantan CEO Gojek ini, ialah faktor kemampuan manajerial, penguasaan teknologi yang sudah tidak diragukan lagi, dan kemampuannya mengembangkan SDM sesuai dengan kebutuhan era revolusi industri 4.0.

Masuk sih, pak..

Menteri Agama yang diisi oleh seorang pensiunan Jenderal juga menimbulkan tanya. Karena hal ini merupakan yang pertama setelah era reformasi. Untuk menanyakan sejauh apa pemahaman soal agama beliau sendiri, kita tidak punya hak atas itu. Terpenting adalah penunjukkan bapak Fachrul Razi sesuai dengan salah satu visi presiden yaitu menangkal radikalisme, akan sangat cocok apabila dipimpin oleh orang militer.

Sekali lagi, masuk sih pak..

Sejujurnya banyak wajah baru yang cukup menarik perhatian, namun yang menjadi highlight saya adalah Erick Thohir yang diangkat menjadi menteri BUMN dan Wishnutama Kusubandio sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Melihat bagaimana kolaborasi keduanya dalam gebrakan megah saat menangani event Asian Games 2018 menimbulkan rasa optimis bahwa akan ada inovasi yang mewah dalam implementasi kinerja kementerian masing-masing.

Masuk pak, ini ibarat menduetkan Ronaldo-Messi dalam satu tim..

Ambyar dirasakan masyarakat ketika mendengar bahwa ibu Susi Pudjiastuti tidak dipanggil kembali sebagai salah satu menteri oleh pak Jokowi. Masyarakat tidak hanya kagum pada sosoknya begitu sans-skuyliving, namun ketegasannya menenggelamkan kapal negara tetangga yang berani memasuki kawasan teritorial laut Indonesia, membuat negara disegani oleh negara lain dalam dunia kelautan. Ketegasan bu Susi tersebut semoga bisa menginspirasi pejabat lain dalam mengakkan kebenaran, terutama para koruptor, agar bisa “ditenggelamkan” juga, biar jera..

Kalo bu Susi ga ada, kurang masuk, pak..

Tetapi dari semua keputusan presiden tersebut, kita wajib kita menghormati, karena bagaimanapun beliau lebih tahu kapabilitas orang-orang pilihannya. Karena para menteri yang ditunjuk bukan kualitas teri, lihat saja track-record mereka, hampir seluruhnya kelas kakap.

Harapan kita hanyalah, formasi susunan pak Jokowi ini bisa membawa Indonesia berjaya, rakyat sejahtera, dan praktik korupsi tidak merajalela (apa salahnya berharap?).

Sumber Foto: sindonews.com

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.