Virus Corona, Warning dari Bill Gates, Analis Intelijen Israel, dan Teriakan “Wuhan Jiayou!”

Virus Corona, Warning dari Bill Gates, Analis Intelijen Israel, dan Teriakan “Wuhan Jiayou!”

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

China kembali menjadi pusat perhatian, kali ini bukan karena perang dagangnya dengan Amerika Serikat, maupun pertumbuhan postur militernya yang terus membesar.

Adalah virus corona, biang penyebab terjadinya paranoia masyarakat global, dikarenakan penyebarannya telah meluas keluar China. Laporan terakhir, virus corona telah menyebar hingga ke 13 negara di dunia. Negara tersebut adalah China, Jepang, Prancis, Australia, Amerika Serikat, Kanada, Nepal, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Taiwan, dan Vietnam.

Virus corona sendiri, ditemukan kasusnya pertama kali di Wuhan, China. Disinyalir kuat, virus corona bermula karna adanya pasar seafood Huanan yang menjajakan hewan-hewan liar seperti, kelelawar dan tikus. Walaupun juga tersiar beberapa spekulasi yang menyebutkan bahwa sumber virus corona tidak memiliki korelasi yang kuat dengan pasar seafood Huanan.

Namun berdasarkan penelitian sains dan kedokteran, virus corona sendiri sejatinya adalah sebuah virus ‘biasa’ yang kerap terjadi pada hewan-hewan liar. Yang menjadi masalah adalah, virus epidemik ini bermetamorfosa sedemikian rupa hingga mampu menular ke manusia.

Analis Intelijen Israel: Virus Corona Adalah Senjata Biologis yang Bocor

Dany Shoham, seorang ahli senjata biologis Israel, yang juga mantan perwira intelijen militer, mengaku telah mempelajari senjata biologis China.

Diketahui China memang memiliki dua laboratorium yang terhubung dengan program bio-warfare, di Wuhan, yang dikenal dengan nama Wuhan Institute of Virology.

“Laboratorium tertentu di institut ini mungkin terlibat dalam hal penelitian dan pengembangan senjata biologis rahasia China. Namun bukan sebagai fasilitas utama.” Kata Dhany dalam sebuah wawancara kepada The Washington Times beberapa waktu lalu.

Menurut Dany, pengerjaan senjata biologis dilakukan sebagai bagian dari penelitian sipil-militer yang tergolong sangat rahasia.

China dalam beberapa forum internasional, selalu membantah memiliki, mengembangkan, serta memproduksi senjata biologi ofensif.

Melihat preferensi Dany Shoham yang juga adalah seorang doktor dalam bisang mikrobiologis dan seorang perwira intelijen militer berpangkat Letkol, tentu statement Dany Shoham menimbulkan gejolak dan polemik, hingga berujung pada keyakinan beberapa penganut teori konspirasi, yang selama ini selalu picisan.

Kami berusaha mencari beberapa sumber yang lebih objektif. Hingga kami menemukan bahwa tudingan Dany Shoham tidaklah sepenuhnya benar.

Kami menemukan referensi bahwa paten yang diteliti oleh Wuhan Institut of Virology berbeda dari virus corona, walaupun masih dalam keluarga corona. Dan ditujukan untuk mencegah dan mengendalikan penyakit pada hewan ternak.

Warning Bill Gates sejak 2018

Salah satu orang terkaya di dunia, yakni Bill Gates, pernah memberikan warning pada 2018 silam.

Warning tersebut ia sampaikan pada sebuah forum yang diadakan oleh John Hopkins Center for Health Security, Forum Ekonomi Dunia, dan di yayasan pribadi milik Bill Gates dan Melinda.

Akan ada sebuah virus yang dikhawatirkan dapat membunuh sekitar 30 juta orang dalam rentan waktu setengah tahun. Begitu mengerikan memang.

“Dunia harus bersiap menghadapi pandemi seperti halnya menghadapi sebuah peperangan.” Begitu ujarnya.

Bill Gates meminta dunia bersiap menghadapi ancaman virus tersebut dengan mengembangkan sebuah vaksin. Ia juga tak menampil bahwa pengembangan vaksin yang dimaksud akan membutuhkan waktu yang lama, sekitar 5 tahun.

Perlu dicatat, tidak ada penyebutan istilah secara spesifik mengenai virus yang dimaksud.

Ketika merebaknya virus corona, banyak pihak yang mengkait-kaitkan warning Bill Gates dengan apa yang terjadi di Wuhan China.

Untuk membuktikannya, masih terbilang cukup sulit karna tak mudah menelusuri pernyataan Bill Gates secara utuh.

Sentimen Rasial dan Agama, Berkembang di Indonesia

Ini mungkin boleh jadi adalah sub judul yang paling menyedihkan yang pernah saya tulis.

Di sosial media, tempat segala informasi sekaligus kebencian tersebar dengan cepat tanpa mengedepankan rasionalitas dan humanitas.

Akarnya ialah kekerasan dan tindakan diskriminatif pemerintah China terhadap kelompok minoritas muslim Uyghur.

Banyak kelompok agama di Indonesia, yang kehilangan sisi kemanusiaan yang padahal lekat dalam dogma yang diyakini.

Mereka mengatakan bahwa apa yang menimpa masyarakat China, adalah sebuah kepantasan karna kezaliman terhadap kelompok Uyghur.

Tentu ini menjadi masalah, karna ketidakmampuan beberapa kelompok menyikapi wabah virus corona di China secara substansial.

Bahkan stigma negatif yang digeneralisasi antara pihak berwenang yang melakukan intimidatif kepada kelompok uyghur dan masyarakat Wuhan yang terkena corona. Menjadi bias karna mencampur adukan antra kebutaan ilmu dan kebencian semata.

Tidak adanya simpati terhadap masyarakat Wuhan, justru malah membuat orang-orang yang mengedepankan amarahnya terlihat sama berbahayanya dengan virus corona.

Apakah anda lebih baik? Think again.

Wuhan Jiayou!

Banyak cuplikan video yang tersebar di sosial media, memperlihatkan bagaimana suasana kota Wuhan seperti kota mati.

Di beberapa tempat umum, nampak orang-orang tergeletak karna terpapar virus corona, yang kemudian dievakuasi oleh petugas medis berseragam putih-putih anti radiasi.

Tak hanya dijalanan, di rumah sakit pun terjadi kekacauan psikologis yang menyayat hati. Dalam sebuah rekaman yang viral, nampak seorang petugas berteriak bahwa ia sudah tidak tahan menghadapi pasien virus corona yang terus berdatangan. Ia histeris dan terlihat kacau.

Kemudian adapula pasien yang kejang-kejang, mayat yang bergelatakan di lantai dan hanya ditutupi kain putih.

Seorang pasien bahkan membuka maskernya dan meludahi seorang petugas medis yang merawatnya. Dengan depresif ia berteriak jika ia mati, maka kau (petugas medis) akan ikut mati.

Baca Juga: Main ‘Monarki-monarki-an’ bareng Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, Romantisme Sejarah yang Salah Arah

Banyak cuplikan video yang tersebar di sosial media, memperlihatkan bagaimana suasana kota Wuhan seperti kota mati.

Di beberapa tempat umum, nampak orang-orang tergeletak karna terpapar virus corona, yang kemudian dievakuasi oleh petugas medis berseragam putih-putih anti radiasi.

Tak hanya dijalanan, di rumah sakit pun terjadi kekacauan psikologis yang menyayat hati. Dalam sebuah rekaman yang viral, nampak seorang petugas berteriak bahwa ia sudah tidak tahan menghadapi pasien virus corona yang terus berdatangan. Ia histeris dan terlihat kacau.

Kemudian adapula pasien yang kejang-kejang, mayat yang bergelatakan di lantai dan hanya ditutupi kain putih.

Seorang pasien bahkan membuka maskernya dan meludahi seorang petugas medis yang merawatnya. Dengan depresif ia berteriak jika ia mati, maka kau (petugas medis) akan ikut mati.

Sungguh sebuah kewajaran, kepanikan dan kekacauan terjadi begitu menyeramkan di kota Wuhan. Karena pemerintah China sendiri, mengisolasi kota tersebut agar virus tak malah menyebar ke kota-kota lain.

Pemerintah China juga secara cepat dalam waktu 48 jam membangun sebuah rumah sakit darurat, karna rumah sakit di Wuhan telah penuh oleh mereka yang terpapar virus corona.

Saat ini virus corona telah merenggut 132 orang di Wuhan.

Disaat masyarakat Wuhan terjebak di rumah-rumah dan apartemen mereka. Sebuah suara terdengar dari salah satu penghuni apartemen. Ia lantang berteriak, “Wuhan Jiayou!!!”, yang artinya, ‘semangat Wuhan!’

Siapapun orang itu, ia adalah pahlawan bagi Wuhan. Sebuah langkah kecil kadang dapat membuat impact yang besar. Teriakannya takkan mungkin terlupakan. Sebuah penekanan harapan, bahwa hidup adalah hak bagi setiap insan. Dan mereka, hanya perlu terus berjuang.

Wuhan Jiayou!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.