Untuk Sebutir Peluru yang Menghujam Dada

Untuk Sebutir Peluru yang Menghujam Dada

Untuk Sebutir Peluru yang Menghujam Dada

Penulis Zein_lich | Editor Rizaldi Dolly

Entah apa guna Tuhan melahirkanku dengan menyertai akal sehat, jika pita suara dan sebuah aksi sebagai bentuk implementasi dari segala polemik yang lebih dulu dicerna oleh otakku, yang ketika kuutarakan, demikian disanggah oleh tertawaan yang paling hina oleh mereka-mereka yang terhormat.

Untuk apa Tuhan menyematkan kebebasan sebagai hak umum dalam kehidupan, jika satu senapan saja bisa membatasi ruang pergerakan.

Dan kamu peluru, untuk apa kamu melumat dadaku? Bagaimana rasanya terpanggang bersama api yang belum juga padam, lebih gila dari lelucon pemilikmu bukan? Bahkan kau tak mampu membuatku benar-benar mati.

Maksudku, pemilikmu tak berhasil membunuhku. Aku masih ada meski ragaku telah terkubur di sana, bangkit kembali di tempat yang sama, ditemani jiwa-jiwa penyesal yang selama hidupnya tak mau bahkan tak berani berbuat apa-apa ketika merasa dizalimi. Aku ada, meski tak lagi jadi ancaman bagi orang-orang yang merasa terancam.

Tapi, pada dasarnya kau hanyalah benda mati, tak punya kehendak atau sedikitpun ambisi. Jadi mari bahas sedikit tentang satu boneka yang menjadikanmu alat untuk berburu keingkaran, serta janji suci: mengayomi kami dengan setulus hati, demikian dinodai seperti tiada arti. Kita sebut boneka itu dengan nama apa? Chucky? Ah, tidak buruk juga.

Chucky mengenyahkanku, meludahi dari corong senapannya, air ludah yang sama bengisnya dengan kuman-kuman yang menidurinya. Tak luput juga virus-virus dengki dan kebiadaban, itu semua karena apa?

Hanya karena tubuh hendak berangkat dari kecemasan, turun ke jalan menyalahkan hal-hal yang memang salah; yang dibuat-buat entah atas dasar apa dan bertujuan untuk apa dan siapa?

Oh, dan lagi, adalah ludah yang suatu saat akan merontokkan sayap-sayap Ibu kami. Sebab, sepersekian detik ludah itu melesat di udara, segala yang cair akan memadat; segala yang tumpul akan meruncing, secara absolut.

Sebagaimana contoh, ia menembus dada kananku hingga 12 senti. Sedang aku, bukan termasuk golongan yang perlu dihabisi. Bukan pula tukang teror, berlandaskan kepercayaan paling suci, merakit dan membawa bom secara terorganisir.

Bukan tidak mungkin, suatu saat yang tidak tahu apa-apa, juga akan ditembak mati. Demi mengejar kepuasan diri, serta pengakuan tertinggi. Lagi-lagi tentang eksistensi, berharap reward yang didapat, mengabaikan punisment yang seharusnya tertambat, bermain peran fiksi bahwa ia yang paling benar, dan kami yang dikatai: lebih dulu memulai perkara.

Sedang kami tak membawa apa-apa untuk melukai mereka.

Perilaku boneka itu, peluru, kalau kau ingin tahu, adalah bentuk nyata dari upaya intervensi iblis terhadap makhluk-makhluk sempurna: manusia.

Dan nyatanya, sempurna saja tak cukup berhasil menghalau segala tindakan tunggang-menunggang, jika kemampuan berpikir yang melebihi makhluk lain itu, masih sebatas dongeng tidur untuk adikku yang kutinggalkan; kawanku yang berantakan; orangtuaku yang menyesalkan, dan Negeriku yang memuakkan.

Kabarku sendiri—jika memberitahu kabar dari orang yang telah mati adalah tindakan yang benar—tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja, semua juga tahu itu, sebab aku malu dengan pahlawan-pahlawan pendahulu. Malu karena tumbang hanya dengan satu peluru. Terlebih, perjuanganku ini, masih dalam skala terkecil dari masa penjajahan.

Jadi jika saja aku masih sanggup berdiri kala itu, aku akan berlari ke tengah-tengah kerumunan, merengkuh satu per satu kawanku yang dikepalanya mengalir air mata; berwarna merah pekat; menjadi simbol kelelahan tubuh yang berteriak ingin menyerah.

Baca Juga: KPK, di Antara Senjakala dan Kami yang Berduka

Tanpa mempedulikan kamu, peluru, meski sakitnya melebihi sakit dikhianati wakil kami sendiri, sebab aku mencintai mereka, menghargai suara mereka, mengamini harapan mereka.

Dan benda-benda tumpul penyebab air mata mereka, bolehkah aku memastikannya mendidih dan hancur di neraka bersama pemiliknya, jika saja, boneka-boneka itu masih tak tahu harus berpihak pada siapa?

Peluru, aku tahu kau tak diwajibkan meminta ampun, sebab hanya aku yang punya nyawa, dan boneka itu, entah berapa harganya. Jika iblis saja bisa membelinya, mungkin kawan-kawanku yang masih hidup, suatu saat bisa membelinya demi keberpihakan yang tidak memihak pada orang-perorangan maupun segelintir golongan, melainkan pada kebenaran.

Ingatlah ini baik-baik, tidak ada kebenaran yang mendua!

Dan peluru itu akan menjadi saksi, dari “terdakwa” yang mengatasnamakan kebenaranya.

Panjang umur, perjuangan!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.