UN Dihapus; Nobita, Buruan Pindah ke Indonesia, Supaya Gak SD Terus!

UN Dihapus; Nobita, Buruan Pindah ke Indonesia, Supaya Gak SD Terus!

UN Dihapus; Nobita, Buruan Pindah ke Indonesia, Supaya Gak SD Terus!

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Sebenarnya cukup bosan untuk memulai intro artikel dengan bahasan wabah Covid-19. Namun, wabah yang memasuki kategori pandemi ini-lah yang menjadi sebab musabab banyak kebijakan baru lahir di tengah masyarakat.

Pada sektor pendidikan misalnya, Ujian Nasional (UN) 2020 resmi dihapus Pemerintah Republik Indonesia. Kebijakan ini merupakan output dari rapat yang diselenggarakan oleh Mendikbud, Nadiem Makarim dengan Komisi X DPR RI pada Selasa (24/3).

UN dihapus pada tingkat sekolah menengah atas (SMA) atau setingkat madrasah aliyah (MA), sekolah menegah pertama (SMP), atau setingkat madrasah tsanawiyah (MTs) dan sekolah dasar (SD) atau setingkat madrasah ibtidaiyah (MI).

Alasannya tepat, “Mas Menteri” mengungkapkan bahwa dia tidak ingin mengambil resiko besar dengan tetap menyelenggarakan UN di tengah pandemi. Selain berbahaya untuk para siswa dan guru, UN yang diselenggarakan secara massal akan membawa bahaya bagi keluarga siswa.

“Bukan hanya siswa-siswa, tapi juga keluarga dan kakek nenek karena jumlah siswa sangat besar, 8 juta siswa. Tidak ada yang lebih penting daripada keamanan dan kesehatan siswa dan keluarga, sehingga UN dihapus untuk 2020.” ungkap mantan CEO Gojek seperti yang dilansir Liputan6. Salute Mas Menteri!

Hal ini secara pribadi saya apresiasi dan respect setinggi-tingginya, mengutamakan keselamatan bersama—tak seperti orang-orang di Senayan yang tetap ngotot “ngumpul” Rapat Paripurna di tengah situasi seperti ini.

Ngejar apasih? Omnibus Law, ya? Wo ho, kamu ketahuan..

Meskipun, beberapa hari kemudian muncul banyaknya miskonsepsi dari pemberitaan yang muncul. Nadiem Makarim melakukan klarifikasi atas redaksional yang salah di beberapa kanal berita, ia menegaskan kata yang tepat bukanlah penghapusan UN, melainkan mengganti UN dengan sistem penilaian baru.

Sebagai gantinya, Ujian Nasional (UN) akan “pamit” dan kemudian posisinya diambil alih oleh Asesmen Kompetensi Minumum (AKM). Cara itu diprediksi akan menjadi sebuah barometer penilaian yang lebih komprehensif untuk mengukur kemampuan minimal yang dibutuhkan siswa.

Secara teknis, AKM akan berisi materi yang meliputi tes kemampuan literasi, numerasi dan pendidikan karakter.

Terlepas dari itu semua, siswa-siswi yang tergabung dalam “Angkatan Corona” tahun ini tentu sangat bingung, harus berbahagia atau sedih.

Menjadi kabar bahagia karena Ujian Nasional selama ini menjadi momok bagi seluruh siswa di negeri ini. Mulai dari yang khawatir tidak lulus, nilai tidak sesuai ekspestasi orang tua, nilai rendah sehingga sulit untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, semua disebabkan oleh satu hal; Ujian Nasional.

Dihapusnya UN tahun ini, setidaknya sedikit-banyak menghilangkan “kegalauan” para siswa-siswi terhadap pencapaian mereka selama bersekolah.

Kesedihannya adalah…

Para juara kelas atau anak pintar yang sedari jauh-jauh hari sudah belajar mati-matian, bahkan bimbel dengan biaya puluhan juta untuk persiapan menghadapi UN yang akhirnya, ditiadakan.

Dear, adik-adik, tidak ada yang sia-sia, kok.

Kalian belajar untuk diri kalian sendiri dan pengetahuan kalian, bukan hanya untuk sekadar lulus sekolah. Semangat!

Berkaca dari Nobita

Hampir semua dari kita pasti tau dengan serial kartun legenda Doraemon. Kalau ada yang belum tau, silahkan search saja langsung di mana aja, atau sekadar meluangkan waktu berkunjung ke rumah tetangga lalu bertanya “Permisi, Doraemon itu apa ya?”

Kartun besutan Fujiko F.Fujio tersebut menghadirkan banyak tokoh dengan watak beragam yang mengisi setiap episodenya. Dengan karakter utama Doraemon dan Nobita yang tak akan pernah terpisahkan, diikuti oleh karakter lain seperti Shizuka Minamoto, Takeshi “Giant” Goda, Suneo Honekawa, Hidetoshi Dekisuki, Pak Guru, Dorami hingga Nobisuke Nobi (Ayah) dan Tamako Kataoka (Ibu) yang merupakan orangtua Nobita sendiri.

Nobita terkenal sebagai anak yang cengeng, manja, lemah dan geblek abis. Karenanya, Doraemon hadir untuk memenuhi beberapa permintaan dari Nobita sendiri.

Meskipun Doraemon selalu ada untuk Nobita, suatu hal yang tidak bisa dihindari Nobita adalah mata pelajaran ber-nilai 0 (nol). Sebenarnya bukannya tidak bisa, saya sendiri sangat yakin Doraemon memiliki alat untuk membantu Nobita mendapatkan nilai 100.

Sampai-sampai, memasuki 59 tahun “mengudaranya” karakter Nobita, beliau belum juga lulus SD. Apakah sebegitu malunya orangtua Nobita untuk mengambil raport ke sekolah?

Baca Juga: Gue Menemukan Klasifikasi di Twitter yang Menganggap Pengguna Instagram “Terbelakang”

Melihat kondisi tersebut, akan sangat tepat mengajak Nobita ke Indonesia.

Sejauh menonton serial kartun ini, jarang sekali melihat Nobita belajar atau mengerjakan PR-nya dengan serius—sekali terlihat serius itupun karena ada maksud tertentu dan dengan bantuan alat Doraemon.

Kondisi tersebut kurang lebih dengan mayoritas siswa di Indonesia, termasuk Anda saya—belajar hanya jika esok hari ada ujian. Bedanya adalah Nobita tidak pernah bimbel, seperti kebanyakan anak-anak di Indonesia zaman sekarang yang mulai kelas 2 SD sudah dibimbelkan oleh orangtua mereka. Padahal kalau difikir lagi, usia segitu anak-anak masih butuh waktu bermain yang banyak dengan lingkungan sekitar.

Jangankan bimbel, bahkan tidak pernah terlihat Nobita belajar dibimbing langsung oleh ibunya. Ironinya adalah sang ibu pasti marah besar apabila melihat nilai ulangan Nobita dapat jelek. Oiya, jangan anggap ini sebuah narasi untuk membenci ibu Nobita, ya!

Ibu Nobita adalah orang baik, lihat saja bagaimana Doraemon sering diberi Dorayaki yang bangsat sedap itu.

Karena pada dasarnya, kita semua adalah Nobita; ingin terus berada di masa kanak-kanak, terus bermain tanpa banyak beban pikiran seperti kehidupan orang dewasa pada saat ini.

Nobita pasti akan cocok dengan iklim peserta didik di Indonesia, dan juga, tidak adanya ujian nasional (UN) juga akan memuluskan jalan Nobita untuk segera beralih ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi, yaitu menjadi siswa SMP.

Masih panjang perjalananmu wahai bocah berbaju kuning yang tidak pernah naik kelas.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.