Tumbuh di Era ‘Mimpi yang Sempurna’, ‘Kukatakan Dengan Indah’, dan ‘Langit Tak Mendengar’

Langit Tak Mendengar

Tumbuh di Era ‘Mimpi yang Sempurna’, ‘Kukatakan Dengan Indah’, dan ‘Langit Tak Mendengar’

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Dan rasakan semua bintang, memanggil tawamu terbang ke atas, tinggalkan semua, hanya aku dan bintang~

Thexandria.com – Dulu waktu masih bocil (red:bocah kancil kecil) dimana untuk mendengarkan musik, masih menggunakan kaset pita, yang kemudian dimasukan ke dalam tape, gue sama sekali gak tau apa-apa soal band, lagu, atau apalah namanya. Yang gue tau, lagu itu cuman ada balonku ada 5, gundul-gundul pacul, Indonesia Raya, dan lagu-lagu bahasa inggris yang sering diputar bapak.

I have no idea soal musik pop Indonesia, yang ada hanyalah, hari minggu adalah surga, menonton serial kartun dari pagi sampai siang, merupakan me time yang gak boleh diganggu, remote selalu ditangan.

Sampai disuatu siang menjelang sore, setelah terbangun dari tidur siang yang kala itu hukumnya wajib, bapak memutar radio, dan ada sebuah lagu yang terngiang-ngiang di kepala gue,

Baca Juga Reality Club-2112 Music Video; Balada Mendalam Kisah yang Tak Berakhir Indah

Aku kan menghilang, dalam pekat malam, lepas ku melayang… biarlah ku bertanya pada bintang-bintang, tentang arti kita, dalam mimpi yang sempurna~

Dan karna pada jaman itu gue gak ngerti dan dimarahin kalau menyentuh tape bapak, dan gak ada playback, otomatis hari itu, gue cuman bisa mendengar sekali, gue udah kadung suka, gue langsung hapal nadanya, mesti liriknya lupa-lupa.

Tapi gue gak semudah itu menyerah demi kembali bisa mendengarkan lagu yang gue belum tau judulnya apa dan dinyanyikan siapa, alhasil, gue ngambek minta radio tetap diputar sampai waktunya jam tidur, dan berhasil.

Beragam lagu terputar di penungguan gue, dari dangdut, lagu-lagu asik tapi ya biasa aja, lagu bahasa inggris, berita-berita, dan tagline-tagline program radio yang berganti-ganti.

Hasilnya nihil, mama sudah mulai ngomel-ngomel nyuruh tidur, gue masih kukuh bertahan, “habis satu lagu lagi, ma.” Kata gue dengan wajah yang dicemberut-cemberutin.

Gue sudah hopeless banget dan kantuk juga sudah mulai menyerang, namun ketika akan beranjak ke kamar, tiba-tiba radio memutar playlist selanjutnya, bukan lagu pertama yang gue denger, yang ini beda, tapi suara yang nyanyi mirip-mirip,

Dan rasakan semua bintang, memanggil tawamu terbang ke atas, tinggalkan semua, hanya aku dan bintang~

Malam itu gue tidur nyenyak, meskipun masih belum tau yang nyanyi siapa. Gue dulu mikir, kalau dua lagu yang gue dengerin, sama-sama ada kata-kata ‘bintang’, mungkin aja, yang nyanyi adalah orang yang sama yang menyanyikan lagu ‘bintang kecil, di langit yang biru, amat banyak, menghias angkasa’.

Album Bintang di Surga

Waktu terus berlalu, gue waktu itu sudah menginjak antara kelas 3 atau 4 SD, gue lupa tepatnya. Dan gue juga sudah tau kalau yang nyanyi itu adalah grup band peterpan. Gue sudah hapal lagu-lagu ‘Mimpi yang Sempurna’, ‘Aku dan Bintang’. Dan ‘Sahabat’, dan pernah punya kasetnya peterpan yang album pertama, ‘Taman Langit’, tapi rusak gara-gara kaset pitanya gue tarik-tarikin keluar hehe.

Meskipun begitu, ya namanya masih SD, gue gak terlalu tau banget soal Peterpan. Sampai akhirnya, lagu ‘Ada Apa Denganmu’ diputar dimana-mana. Ternyata, Peterpan lagi ngeluarin album baru, ‘Bintang di Surga’.

Baca Juga Peradaban dari .Feast, Membuat Saya Menyelami Konsep ‘Anarki’

Gue juga masih inget betapa hype nya Peterpan waktu itu, padahal gue dan teman-teman masih SD, tapi pembahasan kita gak kalah seru, bahkan sampai ada yang bawa poster peterpan dan kita rebutan milih personil favorit. Dan dari poster itu pula, gue akhirnya tau nama-nama personilnya, ada Ariel, Lukman, Uki, Reza, Andhika, dan Indra.

Sampai rumah, gue langsung pasang wajah melas ke mama minta dibeliin kaset Bintang di Surga, dan berhasil.

Gue juga gak pernah ketinggalan kalau di tv ada berita soal Peterpan, atau pas Peterpan perform, gue rela begadang dan besoknya diomelin mama karna susah dibangunin. Di sekolah, teman-teman juga mulai saling tukar pendapat, lagu apa yang paling disuka?

Rata-rata menjawab Apa Apa Denganmu, Mungkin Nanti, atau Bintang di Surga. Sementara gue, gue jatuh hati banget sama lagu yang judulnya Kukatakan Dengan Indah.

Kukatakan dengan indah

Dengan terbuka

Hatiku hampa

Sepertinya luka

Menghampirinya

Album Alexandria, Hari yang Cerah dan Sebuah Nama Sebuah Cerita

Gak kerasa, waktu itu gue sudah SMP, dan sebagaimana remaja lainnya, gue juga ngikutin perihal yang lagi trend, termasuk musik. Musik dari luar cukup banyak menyita perhatian, semisal Simple Plan atau My Chemical Romance.

Tapi hari-hari gue tetap ditemanin sama lagu-lagu Peterpan. Lagu-lagu Peterpan kayak Tak Bisakah, Menghapus Jejakmu, Langit Tak Mendengar, dan Walau Habis Terang, sukses merajai musik pop Indo kala itu.

Dan dari semua single hits di album-album tersebut, gue paling suka sama lagu ‘Langit Tak Mendengar’, musiknya menghentak, dan gue berasa cukup emosional dengernya, gue belum terlalu mengerti tentang makna di dalam lirik. Gue menyesap lirik-lirik lagu Peterpan secara harfiah belaka, dan belakangan gue baru tau kalau itu merupakan ‘Sebuah Kesalahan’.

Coba bertanya pada manusia tak ada jawabnya

Aku bertanya pada langit tua, langit tak mendengar

Baca Juga Benarkah Lagu Dewa 19 “Dua Sejoli” Mengisyaratkan Makna Misoginis?

Ariel, Si Pemikir

Masyarakat Indonesia gue rasa gak akan pernah lupa hari itu. Hari dimana kasus video Ariel menyeruak ke publik, semua gempar, semua membicarakannya.

Waktu gue menonton di TV yang kala itu infotaiment sedang mengulas perihal kasus Ariel dengan Luna Maya dan Cut Tari, mama tiba-tiba langsung datang dari dapur dan mewanti-wanti untuk tidak mencoba menontonnya.

Di jaman itu, video kasus Ariel menyebar dengan cepat, dari bluetooth ke bluetooth, di sekolah, tak dapat dihindari. Meski ada larangan membawa hp ke sekolah, namun tetap saja ada yang membawa, teman-teman berkerumun untuk melihat apa benar yang berada di video tersebut adalah Ariel, gue hanya sekilas melihat.

Akhirnya melalui sidang, hakim menjatuhkan vonis terhadap Ariel. Masyarakat juga mengalami pro dan kontra yang hebat, sementara beberapa orang, sibuk menggunjing. Gue resah, apa ini akhir dari Ariel? Ternyata tidak.

Pasca Ariel bebas, ia tetap melanjutkan karir musiknya bersama Noah, konser come back nya yang kala itu disiarkan oleh beberapa stasiun TV menjadi penanda bahwa Ariel, ibarat emas yang pernah terjatuh dilumpur, takkan merubah nilainya, emas tetaplah emas.

Karismanya sebagai seorang performer sangat luar biasa. Banyak vokalis-vokalis terkenal yang juga terjerat masalah hukum, setelah itu benar-benar redup atau bahkan hilang ditelan bumi. Tapi Ariel mampu menjadi sebuah antitesa, bahwa sebagai seorang seniman, karya-karya nya tak akan tereduksi oleh masalah pribadinya.

Tapi… sepertinya ada yang hilang. Gue pribadi, merasa ada yang hilang dari lagu-lagu Noah, meski di satu sisi, aransemen musiknya banyak yang bilang lebih dewasa. Tetap saja, ada yang hilang, yaitu, kemisteriusan rangkaian liriknya.

Baca Juga: Saling Memeluk di Dalam Pilu Membiru Experience

Di lagu Mimpi Yang Sempurna, gue menduga, bahwa Ariel memang sosok imajinatif yang hidup dalam pemikirannya sendiri, dan itu juga terbukti dalam lagu Taman Langit. Terasa sangat imajiner.

Kemudian di lagu Kukatakan Dengan Indah, seiring waktu gue beranjak dewasa dan mulai mengalami perasaan jatuh cinta. Gue baru mengerti kalau lagu itu sebenarnya adalah perihal di-php-in dalam istilah kekiniannya, dan Ariel mampu menciptakan kondisi tersebut dalam lirik yang menusuk. Begitu relevan, emosional, dan ever lasting.

Gue yakin banget, Ariel adalah salah satu dari sekian orang yang suka memandangi langit dikala hari tak begitu terik, dikala hamparan biru menjadi sebuah opera kebisuan. Dan disaat itu, beribu kalimat tanya tentang kehidupan seringkali mengalir dengan sendirinya, yang hasilnya adalah, lagu Langit Tak Mendengar.

Di saat gue menulis ini, gue gak pernah malu atau ragu mengatakan kalau gue memang menyukai lagu-lagu Peterpan. Di saat kini musisi-musisi indie mampu naik ke permukaan, dengan sentuhan-sentuhan lirikal yang ambigu, metafor, puitis, dan juga cerdas.

Bertahun-tahun sebelumnya, Ariel si pemikir yang satu ini, sudah lebih dulu menyajikan elemen-elemen lirikal yang memaksa pendengarnya untuk menerka-nerka.

Well done, Ariel!

Share Artikel:

2 thoughts on “Tumbuh di Era ‘Mimpi yang Sempurna’, ‘Kukatakan Dengan Indah’, dan ‘Langit Tak Mendengar’

  1. Sangat menarik membaca artikel dari sahabat Noah yang satu ini. Kisah dari sahabat Noah yang menceritakan tentang dia menyukai Peterpan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.