Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam

TumbangBbersama Kelam di Penghujung Malam

Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Namaku Arya. Dari kecil aku sibuk berpindah-pindah tempat bersama ibu. Dari kecil sampai aku beranjak dewasa, aku mulai memahami bahwasanya hal yang paling bodoh yang pernah dirasakan makhluk, adalah pengharapan.

Ibu pergi meninggalkanku seorang diri di rumah seseorang yang tak pernah kukenal sebelumnya. “Hanya sebentar.” kata ibu.

Terakhir kali, ia beralasan akan mengambil rembulan. Aku tak boleh ikut.

Aku jarang sekali menangis. Bahkan saat aku tau ada yang salah dengan tingkah ibu, firasatku kala itu, ibu akan pergi jauh, entah kemana, yang kutau, hanya jauh. Jauh.

Lalu aku tinggal bersama seorang kakek tua bermata sipit yang tak pernah berbicara.

Seseorang dengan perut buncit, rambut putih, dan jalan yang lambat.

Setiap malam, yang dilakukanya hanyalah memainkan sebuah violin tua.

Ku akui, dia pemain musik yang hebat.

Masalahnya, nada minor yang dia mainkan, malah menjadi latar suara, dikala setiap hari, aku menunggu ibu agar kembali dapat bersua.

Ada suatu ketika, dimana aku bertopang dagu, terkantuk-kantuk melalap jalan setapak di depan rumah. Namun tak juga kulihat, merah warna ibu menyeringai di sekililing tumbuhan yang merambat.

Lalu ada saat, aku kesepian dan lelah menunggu ibu, ku ajak kakek tua itu berbicara. Di meja makan, ia terus sibuk mengunyah. Acuh kepadaku yang sekedar bertanya nama.

Aku kembali menunggu. Setiap hari, bahkan aku sering tertidur di teras. Tak ada yang perduli, kakek tua tetap khidmat bermain violin sampai pagi menjelang yang dimana tak pernah ada matahari.

Tahun terus beranjak menuju tahun. Aku masih menunggu ibu pulang. Jujur saja, aku ingin sekali marah. Mengapa aku ditinggalkan begitu saja? Setidaknya, berilah aku alasan, jangan harapan.

Tapi aku tetap tidak bisa marah. Aku tidak mengerti apa itu marah? Menangis kah? Teriak kah? Memukul kah? Tertidur kah? Atau apa? Apa itu marah?

Tahun terus beranjak menuju tahun. Aku tidak bosan, masih terus mengulang-ulang hari demi hari, kuhitung tiap detik jam besar didalam rumah berdetik. Pak tua itu mungkin bisu. Ia masih saja memainkan violin sepanjang malam.

Tahun terus beranjak menuju tahun. Apa aku sudah selesai? Belum. Aku terus menghuni teras, hanya masuk ketika waktu makan. Kapan aku selesai? Apa kusudahi saja?

Tahun terus beranjak menuju tahun. Aku mulai mengerti sekarang, ibu adalah sesosok yang paling menyayangiku. Ia tak mengajariku cinta kasih. Melainkan hanya dua. Bersabar dan menghilang. Jangan lagi ada sebuah harapan. Ibu tidak akan pernah kembali. Aku selesai. Ibu mengajarkanku bahwa berharap akan sesuatu adalah gerbang utama menuju ketidakpastian yang absolut.

Tahun terus beranjak menuju tahun. Kakek tua itu akhirnya berinteraksi denganku. Setelah aku tak lagi menghuni teras rumah.

Jam terus beranjak menuju jam.
Ia memberiku secarik kertas tan—

Menit terus beranjak menuju menit.
–pa berbicara. Kubaca kertas lusuh i—

Detik terus beranjak menuju detik.
–tu. Ini surat dari ibu. Isinya, be—

Detik terus terkikis oleh milidetik.
–rupa kalimat, “Tumbang bersama kelam di penghujung malam”.

Namaku Naya. Aku adalah mahasiswi di salah satu universitas negeri di Jogja. Aku suka warna putih dan hitam, aku suka sekali mie goreng, nasi goreng, ayam goreng, ikan goreng, kacang goreng, dan semua-semua yang digoreng.

Merupakan anak semata wayang dari Bapak Kosasih dan Ibu Sulastri. Orang tua hebat yang selalu memanjakan putrinya, dan kini, aku tumbuh sebagai perempuan yang sedang berjuang melawan kemanjaan itu sendiri. Walau berat!

Aku mempunyai seorang kekasih bernama Fredy. Seorang lelaki tampan yang mempunyai banyak fan girl semenjak sekolah. Entah apa yang membuatnya menyukaiku, toh, aku juga tidak perduli.

Kadang aku bangga, ketika sedang pergi nonton bioskop, semua mata perempuan menyalak melihat Fredy menggandeng ku mesra, kala mengantre.

Tapi ini bukan tentang Fredy. Ini tentang Arya.

Laki-laki ajaib yang kukenal secara sengaja.

Awalnya memang tidak sengaja. Dulu, aku pertama kali melihatnya mematung menatap keramaian di sepanjang jalan Malioboro yang pekak dan ramai di malam hari.

Hari-hari berikutnya, masih kulihat dia mematung secara konsisten. Walaupun kadang-kadang kulihat dia menopang dagu dan melipat kaki di sebuah kursi yang entah sejak kapan ada kursi dari rotan di tengah-tengah orang berlalu lalang.

Dulu kupikir dia seniman, tapi tak kulihat satupun barang yang dijajakan. Tak ada lukisan, ukiran, atau apapun yang berakhiran -an.

Dan dasarnya aku tidak tau malu dan tak mengenal yang namanya takut–kecuali kecoa terbang.

Suatu hari aku menghampirinya dan mengajaknya berkenalan.

Tau apa yang pertama kali kutanyakan?

“Mas, mas bukan orang gila, kan?”

Tau jawaban dia apa?

“Kadang-kadang.”

Wah, ini fix, orang gila! Meskipun dari tampilannya, dia tidak tampak seperti orang gila. Dia bersih–agak urakan, sih. Tapi saat itu, 80% aku yakin dia nyaris stress. Diputusin pacarnya, kali.

Tapi yang bikin aku betah mengenalnya, dia tidak pernah menanyai namaku, sepanjang hampir setiap malam aku mengisi kekosongannya menatap kerumunan orang-orang. Dan ajaib, suatu ketika, aku pernah menanyakan hal ini.

Tau jawaban dia apa?

“Aku sudah tau. Nama kamu Nirnaya Kusuma Putri. Anak dari Bapak Kosasih dan Ibu Sulastri. Anak semata wayang yang dimanjakan. Mau aku sebutin nama pacar kamu?”

Dia menantangku dengan tatapan tajam, setajam apa? Setajam sile*.

Dia bilang, nama dan bio singkat tentang diriku sudah tertera 10cm diatas kepalaku. Wedan!

Selain itu, Arya orang yang cerdas. Dia bisa berbagai macam bahasa, mengerti soal ekonomi, hukum, filsafat, sejarah, astronomi, krimonologi, kedokteran, terestrial, dan banyak lagi.

Tapi dia bilang, semua itu percuma. Ilmu terbaik adalah ilmu kehidupan. Dia berjanji, akan mengajariku di kemudian hari. Entah apa itu.

Arya orang yang aneh, sebenarnya. Terlampau aneh. Disaat kami mengobrol banyak hal, ia bisa saja tiba-tiba berjalan ke arah kerumunan orang. Berdiri tegak mengasihi merapi.

Saat kutanya alasannya, dia tidak bergeming. Dan saat aku mulai memperlihatkan wajah kesal, dia dengan sendirinya akan bercerita.

Tau jawaban dia apa?

“Merapi itu kesatuan kosmologi. Bagi negeri ini, ia tak ubahnya sebuah matahari. Manusia berpikir, alam akan bekerja dengan sendirinya. Padahal, alam bekerja dengan suatu pola rumit yang hierarki nya tak kumengerti dimana. Nay, bahkan rerumputan di lerengnya, punya hak untuk menentang sebuah erupsi. Dan manusia, mereka pikir mereka sudah seperti seorang Bodhi dalam menjaga keselarasan. Padahal, mereka itu para penakluk yang buta. Mereka saling berlomba demi sebuah batu sejarah yang ditorehkan atas nama mereka, tinta nya dari jeritan hewan dan pohon-pohon tua. Apa kamu mengerti maksudku, Nay?”

Aku lekas menggeleng dan menyeringai. Njlimet amat!

Pernah juga, aku ingin mengenalkan Arya kepada Fredy ataupun sahabat-sahabat perempuan ku. Aneh, dia tidak pernah ada. Dia tidak punya nomor yang bisa kuhubungi.

Aku mengerti bahwa syarat untuk bisa bertemu denganya, adalah, aku harus sendiri.

Teori ku tidak sembarangan, lho!

Karna aku pernah berusaha menjebak Arya, aku duduk seorang diri sementara sahabat-sahabatku kuminta bersembunyi dari jauh.

Sialan! Dua jam aku menunggu, sahabat-sahabatku pun mulai sering mengejekku. Kata mereka, aku kelewatan halu.

Namun satu hal, yang aku rasakan. Dari bagaimana Arya menatapku, aku yakin sekali dia menaruh perasaan kepadaku.

Kadang aku kesal, dia tidak pernah mau kuajak beranjak dari kursi rotan, yang LAGI-LAGI kusampaikan, entah kapan bisa ada di tengah trotoar jalan Malioboro yang ramai.

Dia pernah sesumbar berujar, lebih baik disini saja, sebab akan hujan.

10 menit kemudian, hujan turun deras. Si laki-laki aneh ini dan manis ini. Tiba-tiba membawa payung. Jadilah kami duduk berdua tertawa melihat bagaimana paniknya orang-orang berteduh di depan toko-toko.

Situasi kala itu, menghipnotis ku. Kini tersisa kami berdua di tengah hujan. Kami layaknya sedang ditengah opera, sebagai pemain yang ditonton ribuan mata.

Aku pernah dengan serius bertanya, kupelankan suaraku, tau apa yang kutanya?

“Dimana rumahmu?”

Dia bilang, dia tak punya, dan dari kecil selalu berpindah-pindah bersama ibunya.

“Lalu dimana ibumu?”

Dia bilang, ibunya sedang mengajarinya sesuatu. Sesuatu yang juga akan diajarkanya kepadaku.

“Apa itu?”

Dia bilang, nanti aku akan tau dengan sendirinya, sebab Arya, pun, begitu.

Malam itu, kami terhenyak satu sama lain. Pikiran-pikiran romantisme dewasa ku, berujar, bahwa Arya akan menciumku.

Tapi ternyata tidak. Alih-alih menciumku, Arya justru menyerahkan payungnya kepadaku.

“Peganglah, yang erat.”

Arya memintaku pulang. Aku menggeleng gusar. Aku tidak ingin pulang malam itu. Aku ingin Arya membawaku pergi, sebentar saja. Kemana saja, bahkan bila harus menatap malam di hembus gelora nafas yang terengah-engah. Apapun, Arya, apapun!

“Terserah kamu. Aku pergi, duluan, Naya. Berjanjilah setelah aku pergi. Kau pulang dan meringkuk tanpa memikirkan malam ini. Jangan mengharapkan sesuatu.”

Biadab! Apa-apaan kamu, Arya! Berjanjilah untuk tidak memikirkan malam ini? Ku tusuk jantungmu dengan sebilah belati yang akan kurampas dari toko terdekat apabila kamu mengulanginya lagi!

Tapi Arya benar-benar pergi lebih dahulu. Dari belakang, pundaknya basah dengan hujan yang ia prediksi sebelumnya. Tanpa sedikitpun kulihat ia berlari menghindari hujaman hujan. Ia tenang berjalan menuju arah selatan. Kemana, Arya? Mau pergi kemana?

Malam itu, aku tau ada yang salah dengan tingkah Arya, firasatku kala itu, Arya akan pergi jauh, entah kemana, yang kutau, hanya jauh. Jauh.

Namaku Jessica. Aku sahabat terdekat Naya. Entah malang apa yang menimpa sahabatku tercinta.

Perempuan cantik seperti seorang Naya. Harus rela menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa.

Sebelumnya, Naya selalu berdiri di kerumunan ditengah jalan Malioboro. Seorang diri. Baik aku, orang tua, atau siapapun yang mengenal Naya. Akan berusaha membujuk Naya pulang bila menemuinya mematung berdiri menghadap selatan.

Kami semua yang mengenal Naya. Merasa kehilangan Naya. Dulu, Naya adalah gadis periang. Sekarang, Naya seperti tubuh tanpa jiwa. Tatapannya kosong, wajahnya memucat, rambutnya berantakan.

Aku ingat, Naya selalu bercerita tentang seorang lelaki misterius bernama Arya. Aku kala itu juga ikut penasaran dengan sosok seperti apa yang bernama Arya. Tapi, aku pikir, Naya sedang bermimpi. Tak pernah ada yang bernama Arya. Dari pengakuan Naya, katanya, ia selalu berbincang di tengah trotoar, dan duduk di kursi rotan tua di tengah trotoar.

Namun kenyataanya, Naya hanya mematung! Naya, sahabatku yang cantik itu, benar-benar hanya diam!

Pernah kulihat ayahnya, menampar Naya dengan keras di tengah kerumunan orang.

Menghardik Naya, sembari mengutuk lelaki yang kata Naya, benar-benar ada. Ibunya memeluk berusaha melindungi Naya dari murka ayahnya.

Dan beginilah takdir sahabatku, sekarang, apabila malam tiba, ia meminta secarik kertas dan pulpen. Menulis kalimat aneh yang kami semua tak mengerti apa maksudnya.

Begini kalimatnya,

“Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam”.

Namaku Fredy, aku adalah kekasih Nirnaya Kusuma Dewi. Aku jatuh cinta denganya, karna dia memiliki pribadi yang hangat, penuh keceriaan, dan tak pernah menampakkan kesedihan. Semenjak Naya masuk Rumah Sakit Jiwa, aku memiliki dendam tersendiri kepada seorang laki-laki bernama Arya. Entah siapa nama lengkapnya, Arya Bajingan, barangkali.

Telah kukerahkan semua jaringan yang kumiliki di Jogja, untuk mencari pria bernama Arya.

Banyak sekali pria bernama Arya, namun saat kubawa Arya-Arya itu kehadapan Naya. Naya tidak bergeming. Mereka semua, bukan Arya yang dimaksud Naya.

Kadang aku menangis melihat keadaan kekasihku. Aku pernah memeluknya erat-erat. Memintanya sadar. Mengatakan bahwa aku mencintainya.

“Naya… Please, Naya… Sadar… Kamu gak gila, Naya! Kamu gak gila!”.

Tapi kamu tau apa yang diucapkan, Naya?

“Kadang-kadang.”

Sumber Gambar: @korpa

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.