Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam (3)

Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam (3)

Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam (3)

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Jalanan Jakarta terlihat lengang, gerimis semakin menjauhkan orang-orang dari keremangan lampu-lampu jalanan. Sementara itu, Diva tetap mengemudikan laju mobilnya dengan cepat, beberapa lampu merah ia terobos tanpa pikir panjang, tanpa berpikir keselamatan.

Jakarta memang tidak pernah tidur, namun bukan berarti tidak pernah rehat, bukan? Diva gelisah bukan main, ia tak tahu persis harus kemana, ada semacam suara yang memberitahunya, belok kanan, belok kiri, lurus, salah jalan, putar balik, lurus lagi, tancap gas!

Diva bertaruh bahwa ini merupakan instingnya, ia merasa telah mendekati dimana Arya berada. Belok kanan, belok kiri, lurus, memutar, lurus lagi, dan brak! Mobil yang dikemudikan Diva menabrak sebuah pagar, Diva tiba-tiba membanting stir mobilnya karna menghindari seorang perempuan yang tengah menyebrang.

Dengan mesin mobil yang masih nyala, Diva melihat orang-orang mengerumuninya, sekilas, ia juga melihat Arya diantara kerumunan, Diva ingin menghampiri Arya, namun naas, Diva tak lagi cukup kuat untuk berdiri. Mata Diva tiba-tiba serasa kantuk nan berat, kepalanya pusing,

“Tumbang bersama kelam, di penghujung malam. Apa ini akhir hidupku?”

Suara gemuruh orang yang bersautan dan sirine ambulance sempat terdengar samar-samar. Diva sudah tak sanggup lagi, ia tak sadarkan diri.

“Dasar laki-laki gak tau diri!” Hardik seorang ibu muda, yang kemudian di balas suaminya dengan sebuah tamparan. Saling adu caci menggema di seisi rumah. Sementara itu, di kamar, seorang gadis cilik menutupi wajahnya dengan bantal, matanya sembab, rambutnya berantakan, ia menangis sesegukan lantaran takut dengan keributan antara ibu dan ayahnya. Gadis cilik itu adalah Diva…

Sekerjap ingatan itu kembali, ketika ia jatuh cinta dengan seorang kakak kelas sewaktu SMA, dengan lembut dan penuh pengertian, sang kakak kelas memuji kecantikan Diva, menggenggam tanganya erat-erat, kemudian menciumnya.

Diva tak pernah lupa bagaimana jantungnya berdebar, matanya memejam dan merasakan dua bibir bersentuhan. Diva tak ingin lebih jauh, namun sayang, cinta membutakannya. Kakak kelasnya memeluk Diva dari belakang, tanpa sehelai pun kain di tubuh mereka, Diva dibisiki dengan lembut bahwa tak perlu ada yang dikhawatirkan dan disesalkan, Diva dicintai, setidaknya, begitu kata kakak kelasnya sore itu.

Seminggu kemudian, Diva mendapati kakak kelasnya berselingkuh dengan perempuan lain. Diva menutupi wajahnya dengan bantal, matanya sembab, rambutnya berantakan. Ia berjanji, tuk tidak lagi sebegitu mudahnya jatuh cinta, maupun dicintai.

Itu adalah kali pertama dan terakhir Diva menyertakan cinta dalam sendi-sendi dunia. Bertahun-tahun kemudian, Diva tumbuh menjadi sosok perempuan dewasa yang haus wawasan, hingga ia mendapati bahwa satu-satunya hal yang tak bisa disentuh, adalah pemikirannya sendiri.

Dan waktu berlalu begitu cepat, berbagai pria berdompet tebal telah menjadi klien Diva, dan ingat, Diva tak lagi pernah menyertakan cinta dalam tiap hembus nafasnya. Sedikit tipuan tentang hasrat dan keteguhannya akan sebuah prinsip, membuatnya benar-benar menjadi perempuan yang merdeka. Ia tak pernah meminta-minta atau mencuri, ia tak perlu pusing soal finansial, dan ia tak pernah membalut hatinya dalam setiap peluh di atas ranjang-ranjang hotel bintang 5.

Sesosok bayang wajah Arya sekilas hadir dalam pengembaraan ingatannya. Dan blash! Diva tersadar, ia membuka matanya, sayup-sayup retinanya berusaha beradaptasi dengan lampu kamar.

Baca Juga: Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam (2)

Diva melihat ke sekitar, semua ruangan dominan berwarna putih, hidungnya mencium bau yang pekat, bau obat. Diva tersentak mendapati dirinya terbaring dengan selamg infus ditangan, tak ada siapa-siapa, kepalanya masih nyeri, Diva masih sangat lemas.

‘Klek!’

Pintu ruangan terbuka, seorang perempuan muda masuk ke ruangan Diva dengan agak menghendap, ia takut Diva terbangun. Namun pelan-pelan Diva menoleh.

“Lo siapa?” Tanya Diva dengan suara tanpa tenaga.

Perempuan muda itu tak langsung menjawab, ia duduk di ujung ranjang tempat Diva terbaring, nampak ia membawa sebuah bubur, makanan khas orang sakit.

“Mbak, makan dulu, ya? Kata suster, mbak harus makan dulu, pelan-pelan gapapa kok, biar aku suapin.”

Sebuah suapan mengatah ke mulut Diva, namun Diva memalingkan wajahnya, ia kemudian kembali bertanya, kali ini dengan sedikit dorongan besar.

“Lo siapa?!”

Perempuan itu menunduk, menarik nafas panjang dan tersenyum. Ia mengaku bahwa ia adalah perempuan yang tadi malam tengah menyebrang dan mengakibatkan Diva kecelakaan. Dan karena merasa bersalah, ia ikut mengantar dan menunggui Diva di rumah sakit.

Dia katakan bahwa dia bingung hatus menghubungi siapa dan tidak mendapati kontak keluarga di handphone Diva. Berkali-kali, ia menunduk dan meminta maaf atas keteledorannya semalam.

“Udah gak usah dipikirkan. Gue yang salah karna nyetirnya ngebut. Nama kamu siapa? Dan darimana?” Diva tetap terlihat anggun menanggapi.

Perempuan itu lantas sumringah,

“Nama saya Naya. Dari rumah sakit jiwa di Jogja.”

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.