Tricky of Life by God, Yo!

Tricky of Life by God, Yo!

Tricky of Life by God, Yo!

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Kami memulai hari dengan giat mengisi konten thexandria. Ide-ide khan maen berterbangan di atas kepala-kepala kami, yang sekilas terlihat cerdas—padahal ya enggak juga. Pas-pasan. Menyedihkan. Tapi however–kami tetap ngotot berpikir bagaimana apa yang telah kami bangun, terus berkembang.

Pada weekend ini, kami juga tengah disibukan dengan thexandria music tour, yang dimana kami akan membawa dua band yang telah memiliki karya orisinil ke beberapa kota. Dan kota pertama adalah Bontang.

Sedari awal, tampang-tampang kami memang enggak terlihat meyakinkan. Enggak ada muka-muka yang berkompeten untuk menjalankan event ini. Malahan, kami sering menerima understimate yang begitu nyelekit~

Tapi syukurlah, kami semua pengagum garis agak keras almarhum Gus Dur, jadi ya, kami menerima semua keraguan orang-orang dengan guyonan. Hasyah ora usah diurusi~

Begitu kira-kira kecuekan yang secara responsif kami keluarkan.

Tapi ya memang, meskipun apa yang thexandria lakukan bernafaskan kenekatan, obstacle nya juga naudzubillah.

Seperti meeting sponsor yang delay mulu. Berasa lagi naik maskapai lion king.

Terus ada juga, band yang berhalangan untuk ikut, padahal pamflet udah naik kayak upacara bendera tiap senin.

Tapi sampai tengah malam, semua masalah bisa diselesaikan dengan agak panik dan sok cool. Enggak tau kalau masalah yang upcoming, ya!

Tapi secara pribadi, saya termasuk yang heran. Kenapa orang yang belum memiliki pengalaman kok ya kepingin membuat atau menambah pengalaman–yang kurang itu sering di sinis-in ya?

Padahal, di kehidupan yang fana ini, tidak ada ceritanya orang menjadi kalah atau gagal. Yang ada, win or learning. Berhasil atau belajar. That’s it mamen~

Masih menurut ke-aku-an saya pribadi. Proses pembelajaran tersebut termasuk trick by God. Kayak, hukum dunia, kita pengen sesuatu? Ya harus berusaha. Kita pengen mangga, ya panjat. Kita pengen berenang, ya belajar. Karna bumi bukan surga…a….a…a… *ceritanya teriak menumpahkan amarah yang kelewat parah~

Setelah hari yang melelahkan dan serba delay itu selesai. Saya lantas mengantar salah seorang teman pulang. Saya kan bawa motor sendiri, terus dia mau pulang naik ojol, wah ini kan namanya penghinaan!

Biar kata saya harus muter-muter dulu baru bisa sampai rumah. Enggakpapa, yang penting kesendirian saya dimotor berguna, jok motor saya terpakai sebagai ladang amal. Mantap.

Setelah sampai nganterin temen saya itu. Eh ya namanya hidup ya? Suka enggak nentu kadang. Saya yang awalnya pengen nganter doang. Malah memberi saran yang berlawanan.

Saya enggak jadi langsung pulang, saya nyebat dulu di halaman depan. Karena obrolan asik asik josss. Wacana doang itu yang namanya nyebats–nyebatang–terus–pulang.

Kami (berdua) memulai topik dengan agak random, tentang bagaimana pandangan dia dengan event thexandria music yang memurutnya latah. Oh, tenang, saya libertian, kok. Jadi saya menghargai pendapatnya, meskipun saya juga memberi jawaban bahwa thexandria diciptakan sebagai tempat eksplorasi mimpi-mimpi keseluruhan tim. Jangankan event musik yang serba dadakan, tim saya ada yang mau bikin acara sunatan massal pun, hayuk!

Kemudian kami saling tukar keluh kesah. Temen saya bercerita soal bagaimana dia kerap kali menghadapi permasalahan-permasalahan yang datangnya tak terduga sama sekali, kayak maling, walaupun sejauh ini masih dalam taraf wajar.

Saya bercerita tentang ketidakmungkinan kita lepas dari masalah-masalah. Saya katakan, saya sebenarnya naif. Saya benci ketersinggungan yang terbangun karna adanya intensitas yang tinggi didalam sebuah circle.

Karna itulah saya membangun susunan tim yang terpisah-pisah. Diluar kelompok.

Saya juga cerita soal bagaimana mungkin, sebuah media yang hanya menulis tak lebih dari 400 kata–bahkan hanya satu paragraf, telah mencantumkan editor di dalam kepenulisannya.

Yang langsung saya timpali dengan semangat, bayangkan men, kami setiap hari menyuguhkan tulisan sesuai standar media daring dan SEO–600 kata. Kau tak mengerti itu, khaannn? Ya khaaannnn?

*tarik nafas*

*buang*

Enggak saya bercanda. Kami menikmati segala percumbuan kami dengan deadline dan ketentuan-ketentuan yang telah kami buat secara penuh dengan kesadaran.

Baca Juga: Kebetulan, Teman yang Pake Airpods Dimanapun-Kapanpun Itu Nyebelin dan Terkesan Pamer

Banyak hal yang kami diskusikan, hingga sampailah mulut ini ke perbendaharaan kata yang baik.

Saya pikir, selama kita hidup, kita enggak akan pernah lepas dari yang namanya dinilai, dipandang, atau bahkan diomongin orang-orang. Karna jika kita berpikir bahwa kita bisa terbebas dari itu semua, itu sama saja kita ingin terus hidup dan tak menua.

Padahal, yang buat sel-sel di tubuh kita mengalami penuaan, adalah satu hal yang membuat kita bisa hidup. Yaitu, oksigen.

Benar, sekali! Tanpa oksigen kita enggak hidup, dan karna oksigen tubuh kita mengalami penuaan.

Saya pikir itu trick Tuhan yang paling tricky parah, sih. Coba, deh pikir, selucu itu Dia kadang!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.