Tradisi Ritual di Indonesia: Dari Unik Sampai Menyeramkan

Tradisi Ritual Unik dan Menyeramkan

Tradisi Ritual di Indonesia: Dari Unik Sampai Menyeramkan

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Ritual tidak dapat dilakukan secara sembarangan

Thexandria.com – Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau, terdapat 1.340 suku, dan 769 bahasa daerah, selain itu Indonesia juga dikenal dengan nama Nusantara.

Dari Sabang di ujung Aceh sampai Merauke di tanah Papua, Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, dan agama. Maka tak heran jika negara Indonesia memiliki segudang kebudayaan dan tradisi ritual yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakatnya.

Ritual itu sendiri merupakan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan terutama untuk tujuan simbolis dan dilakukan berdasarkan suatu agama atau bisa juga berdasarkan tradisi dari suatu komunitas tertentu. Kegiatan-kegiatan dalam ritual biasanya sudah diatur dan ditentukan, dan tidak dapat dilaksanakan secara sembarangan.

Kami merangkum beberapa contoh dari beragam tradisi ritual unik hingga menyeramkan yang ada di Indonesia.

Potong Rambut Anak Gimbal Dieng

Kemunculannya anak gimbal umum terjadi pada beberapa anak di Dieng dan warga keturunan Dieng, mereka menganggapnya sebagai “anak-anak yang dipilih” dan istimewa. Dan fenomena rambut gimbal ini bisa terjadi apa anak manapun di Dieng bahkan yang tidak memiliki keturunan genetik rambut gimbal.

Pemotongan rambut mereka dikenal sebagai ruwat gimbal. Sebelum prosesi, mereka diberikan kesempatan meminta barang atau sesuatu yang diinginkan, dan permintaan tersebut harus dipenuhi. Setelah permintaan tersebut terpenuhi barulah pemotongan rambut gimbal mereka bisa dilakukan.

Baca Juga Misteri Anak Gimbal Dieng Di Tanah Dewa Dewi Bersemayam

Usai dipotong, rambut mereka dilarung ke Telaga Warna yang mengalir hingga ke Pantai Selatan. Pelarungan rambut gimbal dimaknai sebagai cara mengembalikan rambut titipan Kyai Kolo Dete dan Nini Roro Rence kepada pemiliknya Ratu Kidul.

Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi

Ritual Bakar Tongkang dikenal juga sebagai Upacara Bakar Tongkang atau singkatnya dalam Bahasa Hokkien dikenal sebagai Go Gek Cap Lak adalah sebuah ritual tahunan masyarakat di Bagansiapiapi yang telah terkenal di mancanegara.

Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk pernyataan rasa syukur kepada dewa Kie Ong Ya (dewa laut) melalui pembakaran sebuah tongkang (kapal) yang sudah terlebih dahulu didoakan. Bakar Tongkang juga digelar untuk memperingati kehadiran masyarakat Tionghoa ke Bagansiapiapi.

Meski ritual bakar tongkang sempat berhenti pada masa Orde Baru, kini tradisi tersebut telah kembali rutin diselenggarakan. Kini bakar tongkang sudah dijadikan agenda pariwisata tahunan Riau yang menarik wisatawan dari berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan, dan Tiongkok.

Ritual Ma’nene Tana Toraja

Ma’ Nene’ merupakan sebuah ritual adat dalam budaya suku Toraja. Ritual ini merupakan sebuah ritual di mana mayat yang berusia puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu dikeluarkan dari dalam liang kuburan untuk dibersihkan dan diganti baju dan kainnya. Ritual adat ini termasuk dalam upacara adat Rambu Solo’ (kematian).

Dilakukan dengan cara mengeluarkan jasad anggota keluarga dari pemakaman, lalu jasad tersebut dibersihkan dan diganti pakaiannya. Tak jarang jasad-jasad ini dibalut dengan rangkaian pakaian yang lengkap dari mulai jas untuk jasad pria, serta gaun untuk jasad perempuan.

Baca Juga Mengenal Sekte Mistik Nusantara: Bhairawa Tantra

Ritual ini memiliki makna akan pentingnya menjaga hubungan kepada sesama anggota keluarga, bahkan dengan anggota keluarga yang sudah terlebih dahulu meninggal dunia. 

Memotong Jari Tangan Suku Dani Papua

Ritual Potong Jari
Ritual Potong Jari

Suku Dani adalah penduduk asli yang mendiami tanah subur Lembah Baliem di Papua Barat, Papua, Indonesia. Setiap ada anggota keluarga yang meninggal, anggota keluarga lainnya akan memotong jari mereka untuk menunjukkan rasa duka dan sebagai upaya untuk mencegah malapetaka agar tidak terjadi kembali dalam keluarga yang berduka.

Bagi suku Dani jari tangan merupakan simbol kerukunan, kekuatan, dan kesatuan dalam keluarga segingga ialah yang digunakan untuk menggambarkan kehilangan dalam kesatuan keluarga tersebut. Jumlah jari yang dipotong tergantung pada jumlah orang meninggal yang dicintai.

Saat ini, Suku Dani sudah mulai meninggalkan tradisi ini karena masyarakatnya sudah mulai mengenal Tuhan dan agama. Saat ini hanya tinggal beberapa lelaki dan wanita tua yang jarinya terpotong karena melakukannya di masa lalu.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.