TikTok, Wadah Ekspresi Diri, dan Tangan-tangan ‘Nakal’

TikTok, Wadah Ekspresi Diri, dan Tangan-tangan ‘Nakal’

TikTok, Wadah Ekspresi Diri, dan Tangan-tangan ‘Nakal’

Penulis Suci Jayanti Tadjri | Editor Rizaldi Dolly

“Didn’t even notice, no punches left to roll with

You got to keep me focused, you want it, say so..”

Siapa yang nggak berdendang sambil tangan goyang-goyang kalau penggalan lagu Say So by Doja Cat ini seliweran? Hayo! Terlebih untuk kamu yang sering scrolling di laman For Your Page, atau kamu kamu kamu yang aktif di platform  TikTok—pasti nggak asing, kan?

Aplikasi yang mengalami ledakan pada akhir tahun 2019 ini telah diunduh sebanyak 500 juta pengguna aktif di seluruh dunia dan terbukti digandrungi oleh banyak kalangan termasuk figur publik sebagai wadah untuk mengekspresikan diri. Lalu, kenapa TikTok? Kenapa bukan platform lain?

Seperti awal mulanya kenapa TikTok lahir kali, ya? TikTok yang mempunyai misi merekam dan menyajikan kreativitas serta momen berharga dari seluruh penjuru dunia melalui ponsel. Di sana pula, TikTok memungkinkan penggunanya untuk menjadi kreator dan mendorong untuk membagikan ekspresi kreatif melalui video berdurasi singkat—yang mana menawarkan kemudahan sebagai kreator untuk membuat konten. Nggak perlu nyewa scriptwriter! Mau sambil rebahan juga bisa~

TikTok Sebagai Wadah Ekspresi Diri

Dengan didominasi pengguna kisaran umur 30 tahun ke bawah—membuat TikTok bisa dibilang lebih menarik perhatian para remaja, yang mana umur-umur segitu lagi rajin-rajinnya mengasah kemampuan diri, mencari jati diri. Dikutip dari Medcom.id, “Masa remaja memang menjadi salah satu tahapan unik dalam perkembangan psikologis manusia. Pada tahap ini, aspek kognitif, kreativitas, dan imajinasi sedang berkembang pesat yang ditandai dengan mulai berkembangnya kemampuan berpikir abstrak,” jelas Efnie Indrianie, M.Psi, seorang dosen dari Universitas Kristen Maranatha, Bandung.

Selain itu, kehadiran TikTok juga menjadi jalan pintas bagi remaja untuk take a control fully dan mengekspresikan diri secara bebas, dengan tambahan iming-iming suatu pencapaian yang bernama ‘pengakuan’ dari pengguna lain atas aksi yang dilakukan. TikTok juga memfasilitasi pengguna dengan fitur-fitur yang ada terlebih bagi orang-orang dengan kebisaan di bidang video editing dan menari—nggak bisa dipungkiri, kebanyakan pengguna TikTok dengan 2 bakat itu yang mendominasi laman For Your Page.

Penelitian juga mengatakan, selain mudahnya membuat konten; TikTok juga menjadi wadah untuk melepas kebosanan, terlebih di masa karantina seperti sekarang yang mana semua orang sedang #DiRumahAja. Itulah mengapa para remaja yang mendominasi, karena konten yang menarik dan mudah untuk  dibuat sehingga membuat mood si pengguna dan si penonton menjadi lebih baik.

Tangan-tangan ‘Nakal’

Meskipun TikTok memberi ruang seluas-luasnya untuk mengekspresikan diri serta memungkinkannya untuk mendapatkan feedback yang positif—feedback negatif juga masih saja turut andil dengan jari-jemari yang ngetik seenaknya. Mengingat ungkapan “Sosial media seperti pisau bermata dua” itu benar adanya.

Baca Juga: Polemik Surat Stafsus Milenial Presiden yang Bikin Kita Bertanya: Fungsine Milenial-milenial-an Opo Cuk?

Ujaran kebencian, rasis, lack of appreciation, apalagi body shamming akan ditemukan di balik kolom komentar TikTok yang menurut saya lebih garang dibandingkan kolom komentar di Instagram—yang mana jauh lebih “terekspos”. Saya selalu penasaran untuk menekan tombol komentar demi melihat isi di dalamnya terlebih atas isi konten yang barangkali belum memenuhi ekspektasi para pengguna lainnya.

“Ekspektasi lagi, ekspektasi lagi.. udah, sih, berkarya aja lagi,”

dalam hati saya saat mengetik kata ekspektasi di atas.

Dengan mudahnya akses mengunduh aplikasi TikTok di ponsel, membuat konten menari, menyanyi, memasak, dan mengedit video di dalamnya—menjadi sebuah keuntungan bagi beberapa orang untuk memaksimalkan bakat yang dimiliki. Aplikasi yang dicemooh “alay” di awal kemunculannya kini bukan lagi sama, melainkan aplikasi yang akan digadang-gadang akan terus memuncak mengingat sudah memiliki pengguna aktif lebih dari 500 juta dan perlahan meningkat. Selain itu juga, sekaranng TikTok sudah menambah fitur keamanan baru berupa filter komentar yang diharapkan bisa membantu pengguna mencegah ujaran kebencian, perundungan, SARA, tangan-tangan nakal dan cabul. Silakan dijelajahi fitur-fitur pengamanan tersebut, ya, demi kenyamanan diri sendiri sehingga bisa maksimal membuat kontennya.

Eits, tapi bentar dulu, untuk pemilik tangan-tangan nakal, nih—meskipun sudah ada fitur penyaringan komentar di TikTok; semoga kedepannya lebih bijak dalam berkomentar, ya.. dimanapun, bukan hanya di TikTok. Kalau nggak ada kata-kata yang baik untuk diketik, lebih baik diam.. atau bikin TikTok Mama Muda, deh. Seru tau! Cheers!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.