Tidak Ada Lucunya! Berhenti Membuat Lelucon Terhadap Tindakan Bunuh Diri

Tidak Ada Lucunya! Berhenti Membuat Lelucon Terhadap Tindakan Bunuh Diri

Tidak Ada Lucunya! Berhenti Membuat Lelucon Terhadap Tindakan Bunuh Diri

Penulis Suci Jayanti Tadjri | Editor Rizaldi Dolly

Belum habis khawatir saya setelah melintasi bandara dan 2 kota paling banyak terkena virus corona—pulang-pulang saya dibuat geram akan suatu kejadian. Dimana dua hari setelah berita seseorang “mencoba” terjun dari lantai sekian di salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda marak—heran, saya masih emosi bahkan saat mengetik tulisan ini wajah saya terasa panas. Saudara bukan, teman bukan; saya tidak kenal orang tersebut dan saya pun tidak ada di tempat kejadian pada saat itu—hanya melihat di sosial media. Lalu, apa yang membuat saya geram sekali?

Disini saya tidak akan membahas orang yang bersangkutan, atas dasar apa ia melakukan itu, apalagi sampai latar belakang dan agamanya; you’re not gonna find it out here. Melainkan, kemarahan dan keheranan saya tentang isi otak orang-orang yang “mendukung” seseorang untuk melakukan bunuh diri; “Mau bunuh diri aja masih ragu!”, “Loncat sudah, tunggu apalagi?”, “Halah drama!”, “Kebanyakan akting!”—saya menemukan kalimat-kalimat tersebut menjadi komentar ke-4 bahkan sampai 3 teratas, dan sangat disayangkan sekali beberapa mutuals saya juga menimpali kalimat yang sama dan dengan bangganya mengupload ke instastory. Miris.

Berkata yang tidak seharusnya pada kasus percobaan bunuh diri membuat orang-orang “mewajarkan” hal itu terjadi sehingga meningkatnya kasus ini semakin drastis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan setiap detik terdapat satu orang yang melakukan bunuh diri di seluruh dunia. Bahkan, angka kehilangan nyawa akibat bunuh diri lebih parah dari kasus-kasus kehilangan nyawa lainnya. Total terdapat hampir 800 ribu orang yang tercatat melakukan bunuh diri setiap tahunnya. Kasus ini bukan main-main, lalu masih mau seenak jidat melontarkan kata-kata sampah?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan ketika menghadapi orang-orang yang berpikiran ingin mengakhiri hidupnya;

Memulai Percakapan

Tak ada yang salah atau betul ketika bicara soal perasaan ingin bunuh diri (suicidal feeling). Yang terpenting adalah memulai percakapan, kata Emma Carrington, juru bicara lembaga nirlaba Rethink UK. Pilihlah tempat yang tenang dan pastikan punya waktu yang cukup untuk berbicara berdua. Fokus pada lawan bicara dan jangan memotong apalagi sampai membandingkan kisah hidupmu dengannya.

Tidak Menghakimi

“Tidak perlu menjadi seorang pekerja kesehatan untuk bisa memberi dukungan, cukup menjadi lawan bicara yang baik.” – Julia Gillard. Dan jangan lupakan sebuah pelukan!

Selain hal di atas, masyarakat juga bisa membantu meminimalisir kasus bunuh diri (based on WHO) seperti;

  • Membongkar stigma dan lebih banyak membicarakan hal ini.
  • Membantu orang-orang untuk mengembangkan kemampuan menghadapi tekanan, khususnya di sekolah.
  • Mengenali dan mendukung orang-orang yang berisiko dan tetap berhubungan dengan mereka dalam jangka panjang.
  • Melatih pekerja kesehatan nonspesialis untuk menilai dan mengelola perilaku yang dekat dengan tindakan bunuh diri.
  • Membatasi akses pada barang-barang berbahaya.

Baca Juga: Emotionally Abused; Tak Nampak, Tak Terasa Terjebak

Disarankan agar mengunjungi terapis untuk mendapatkan pertolongan, bagaimanapun juga suicide feeling bukanlah hal yang sepele—maka perlu seseorang yang capable untuk menanganinya lebih lanjut.

Dan ingat, meskipun sudah ditangani tenaga ahli, bukan berarti kita bisa lepas mereka begitu saja. Tetaplah bertanya kabar dan perkembangannya, buatlah mereka merasa hangat—a hi won’t hurt, kok.

Jadi, kesimpulannya, saya tidak akan memberi banyak petuah melainkan mengingatkan otak cerdas Anda untuk berpikir lebih bijak dalam melontarkan kata-kata, bisa berpikir dong? Karena nyatanya, memang, lidah tidak bertulang sehingga bisa-bisa saja menyakiti siapapun TERLEBIH orang-orang yang tidak sepantasnya dikata-katain seperti itu. Tapi, jari-jari yang Anda buat untuk mengetik sebelumnya sudah disaring di otak, kan?

Jika, iya, saya sangat bersyukur dan apabila tidak—saya tetap menyayangkan tindakan orang-orang yang (maaf) tidak berotak dengan bangganya melontarkan “Loncat sudah! Tunggu apalagi?,”

like, c’monyou better shut the fuck up or think twice or read these things before you open your mouth or typing your unwise fingers, ok? Or kindly just unfollow/block unblock me on social media. You’re not my friend.

Share Artikel:

2 thoughts on “Tidak Ada Lucunya! Berhenti Membuat Lelucon Terhadap Tindakan Bunuh Diri

  1. Setuju banget sama tulisan ini. Bunuh diri kok didukung. Dan ngerasa semakin yakin juga kalau mental health masih jadi hal yang tabu bagi sebagian orang-orang. Nice article!

Leave a Reply

Your email address will not be published.