Thread Samparrrrr Si Predator Seksual dan #MalangDaruratPredator: Betul, Buka Saja Identitas Para Penjahat Kelamin ke Publik!

Penjahat Kelamin

Thread Samparrrrr Si Predator Seksual dan #MalangDaruratPredator: Betul, Buka Saja Identitas Para Penjahat Kelamin ke Publik!

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Awal mula terungkapnya kebiadaban Samparrrrr melalui salah satu korban yang memberanikan diri untuk speak-up lewat akun Twitter.

Thexandria.com – Belum surut kepanikan masyarakat perihal wabah Covid-19 dengan angka pasien positif yang semakin meningkat, muncul kekahwatiran lain yang menjadi sebuah ironi. Ialah terungkapnya kasus kekerasan seksual dan pemerkosaan yang berhasil diungkap oleh akun @sonuvabitjxh melalui platform Twitter pada Minggu (15/3/20).

Dua hari berselang tepatnya Selasa (17/3/20), akun @sesenggukkan turut menyuarakan sebuah kasus pemerkosaan yang sebenarnya sudah lama terjadi, namun sang korban pada saat itu belum berani untuk speak-up kepada publik.

Kedua pelaku kekerasan seksual kasus tersebut, kebetulan, sama-sama berada dalam lingkup komunitas seni yang masing-masing berasal dari Kota Tangerang dan Kota Malang. Ya, kedua pelaku bernama Rofi Faisal Najib a.k.a Bijan Faisal a.k.a Samparrrrr a.k.a Rustikutas dan Dio Verryaji Primananda P a.k.a Tambun.

Baca Juga Bahaya Pelecehan Seksual di Dalam Konser. Baskara .Feast dan Kunto Aji Nyalakan Alarm S.O.S

Karena Samparrrrr adalah Sampah

“Saya Rofi Faisal Najib, Bijan Faisal, Samparrrr, Rustikutas, umur 23 tahun, lahir di Indramayu, besar di Cirebon, tinggal di Tangerang sejak 2015. Menyatakan saya telah melakukan pemerkosaan dan pelecahan seksual kepada korban 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8.. Saya meminta maaf kepada seluruh korban dan akan bertanggung jawab dengan seluruh seluruh konsekuensi yang diinginkan korban.”

Begitulah yang dikatakan oleh Samparrrrr mencoba memberi pengakuan melalui video yang diunggahnya pada laman Instagram @samparrrrr.

Awal mula terungkapnya kebiadaban Samparrrrr melalui salah satu korban yang memberanikan diri untuk speak-up lewat akun Twitter, sehingga mendapatkan atensi luas dari warga linimasa. Respon cepat tanggap pertama datang dari rekan-rekan kolektif yang berbasis di Tangerang, Elang Terbang Kolektif, yang salah satu pengurusnya adalah Samparrrrr sendiri.

Tindak cepat dengan mengkonfirmasi langsung kepada Samparrrrr perihal perilaku tak beradabnya dan benar saja, pengakuan Samparrrrr terhadap kasus yang mengemuka benar adanya.

Secara tegas, Elang Terbang Kolektif tidak mentolerir perbuatan kekerasan seksual dan pemerkosaan. Mereka tidak akan membela pelaku atas kesalahan yang telah diperbuat, dan turut mendesak Samparrrrr secara pribadi untuk melakukan permintaan maaf secara terbuka.

Baca Juga Mengenali Pelecehan Seksual di Kehidupan Sehari-hari dan Catcalling Bukanlah Sebuah Pujian

Bahkan, Elang Terbang Kolektif melakukan blacklist kepada Samparrrrr dari segala kegiatan mereka kedepan dan siap untuk sangat kooperatif dalam pengusutan kasus ini dengan bersedia menjadi perbantuan jika dibutuhkan.

Setelahnya, beberapa akun Instagram kolektif turut melakukan dukungan terhadap menyeruaknya kasus ini. Dari situlah korban lainnya mulai berani untuk menyuarakan bahwa korban dari kebiadaban Samparrrrr tidaklah hanya satu orang.

Setiap korban memberanikan untuk speak-up lewat sosial media pribadi atau menghubungi langsung rekan-rekan di lingkup kolektif.

Berdasarkan keterangan yang dikumpulkan, sejauh ini jumlah korban kekerasan seksual dan pemerkosaan yang dilakukan oleh Samparrrrr berjumlah delapan orang bahkan berpotensi lebih dari itu.

Samparrrrr sendiri ketika diinterogasi oleh rekan-rekan kolektif banyak menyampaikan kebohongan terkait informasi pribadi, termasuk namanya dan usia sesuai KTP. Soal jumlah korban pun dia sampai tidak bisa menyebutkan nama dan menghitung berapa jumlah korban yang sudah. Saking banyaknya..

Sejauh ini, kasus tersebut belum sampai ke ranah hukum. Namun, diskusi soal tuntutan terhadap pelaku semakin meluas dan mengerucut. Tindak penanganan kepada para korban juga diupayakan dengan pemulihan psikis korban dan pendampingan lanjutan.

Baca Juga RUU Penghapusan Kekerasan Seksual: Upaya Menghentikan Para Fuckboy

Benar-benar sampah si Samparrrrr ini..

Si Tambun, Predator yang Masih Berkeliaran di Kota Malang

Tambun alias Dio Verryaji Primananda P.

Ya, nama yang mulai diwaspadai oleh setiap orang di Kota Malang. Seorang mahasiswa yang juga musisi dan eks-barista sebuah kedai kopi ini sudah melakukan perbuatan biadabnya ini sejak lama. Diketahui dari thread yang beredar, Tambun melakukan pemerkosaan kepada korban yang merupakan temannya sendiri pada 15 September 2019.

Kronologinya, dengan dalih ingin membantu melepas penat sang korban maka Tambun dan korban sepakat untuk “ngopi” sejenak. Namun, seorang teman lainnya mendatangi mereka untuk mengajak “urunan” membeli wiski hingga membuat mereka mabuk. Ketika akan pulang, bukannya mengantar pulang korban ke kediamannya, Tambun malah membawa korban ke kosannya. Secara logika, korban yang merupakan seorang perempuan dan dalam keadaan mabuk pun tidak berdaya menghadapi Tambun.

Sebulan setelah kejadian tersebut, korban tidak sengaja bertemu lagi dengan Tambun di sebuah kedai kopi. Tambun dengan santainya menyapa dan tersenyum riang kepada korban seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kamu hebat atau memang kemanusiaanmu sudah hilang begitu hebatnya?”

Baca Juga Dialog Tertulis, Berbagi Perspektif dengan Pelakon Seks Bebas: Seberapa Penting Sexual Consent Baginya?

Entengnya menjadi si Tambun adalah setelah melakukan tindakan keji tersebut adalah dengan mengatakan “Maaf, aku kalau mabuk ga bisa kontrol diri.”- One of bullshit ever.

Selain itu, di dalam thread disebutkan bahwa Tambun sering mengajak perempuan dari berbagai kalangan untuk “minum” bersama. Selain menjadi seorang “penjahat kelamin”, ia juga dikenal sebagai pribadi yang manipulatif dalam menjalin hubungan.

Sejauh ini, Tambun sudah merilis video permintaan maaf di akun Twitter pribadinya @Tambun_bomb pada Rabu (18/3/20).

Hingga saat ini, belum diketahui arah dari kasus ini berjalan, apakah akan dibawa ke meja hijau atau cara lainnya. Menurut berita terkini dari akun @antipredatorMLG akan ada penandatanganan surat pernyataan dan permintaan maaf tertulis dari pelaku dan disaksikan oleh beberapa saksi.

Menghindari Nalar Pincang dalam Kasus Kejahatan Seksual

Lekang oleh waktu banyaknya kasus kekerasan seksual hingga pemerkosaan yang terjadi di negeri ini. Lihat saja bagaimana Agni, mahasiswi UGM yang diduga diperkosa mahasiswa lain pada saat KKN diperlakukan dalam pengusutan kasusnya.

Hal tersebut semakin menjustifikasi adanya ketidak-setaraan antara penyintas dan pelaku dalam penanganan kasus yang berkaitan dengan intimidasi seksual di negeri ini.

Baca Juga Menyikapi Usulan Menko PMK Soal si Kaya Agar Menikahi si Miskin dengan “Cukup Siti Nurbaya”-nya Dewa 19

Hanya demi nama baik kampus, kasus keji seperti itu masih ditolerir bahkan kasus tersebut ditutup tanpa akhir yang jelas. Sang pelaku pun masih mendapat perlindungan atas apa yang telah dia perbuat. Sanksi hukum terlewati, sanksi sosial juga masih sangat minim jika melihat pemberitaan dan informasi terkait pelaku yang sulit didapatkan.

Pengungkapan identitas sang “penjahat kelamin” pada kasus intimidasi dan kekerasan secara seksual akan sangat penting. Karena kejahatan jenis ini masuk ke dalam kategori kejahatan luar biasa apabila melihat dampaknya bagi korban yang akan amat-sangat panjang.

Sementara para penyintas harus menanggung trauma berkepanjangan baik secara fisik dan psikis, sang predator dengan leluasa tetap melanjutkan hidupnya tanpa ada rasa bersalah berkepanjangan.

Penanganan lewat jalur hukum dianggap hanya menciptakan limitasi efek jera bagi para predator. Karena hukuman berupa kurungan-penjara hanya akan berdampak pada aspek fisik saja. Konkretnya ialah “hanya memindahkan si biadab dari lingkungan masyarakat ke ruang tertutup yang disebut penjara.”

Dampak psikis akan sangat kecil apabila setelah selesai masa hukuman, identitasnya sebagai residivis seksual terbatas hanya diketahui pada lingkupnya saja. Ditambah dengan siklus “orang datang dan pergi” yang semakin memperbesar potensi terulangnya kembali kejahatan itu kepada orang baru yang masuk ke circle tanpa mengetahui track-record sang predator.

Baca Juga Gondrong Bukan Kriminal Melainkan Sebuah Sikap

Sehingga, apa yang dilakukan oleh rekan-rekan kolektif di linimasa Twitter dengan mengungkap identitas para pelaku “penjahat kelamin” secara detil adalah sangat-amat benar.

Pengungkapan identitas para “penjahat kelamin” tidak akan lagi menimbulkan disparitas dampak yang dialami antara penyintas dan pelaku, khususnya pada aspek sosial.

Sanksi sosial dengan menyebarkan identitas pelaku juga dinilai sebagai langkah preventif. Selain memberi kewaspadaan masyarakat terhadap eksistensi pelaku, bagi pelaku sendiri diharapkan bisa “menyembuhkan diri” agar tak lagi menimbulkan ketakutan bagi lingkungan sekitarnya.

Apapun jenisnya, pelecehan dan pemerkosaan adalah bentuk penindasan..

NO MEANS NO. Period.” – @sonuvabitjxh

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.