The Sperms dengan debut EP, “Silent Answers”: Sebuah Milestone!

The Sperms Album Silent Answers

The Sperms dengan debut EP, “Silent Answers”: Sebuah Milestone!

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Setelah mengeluarkan single Menghilang bulan Maret lalu di Bandcamp dan Spotify, The Sperms yang beranggotakan wajah-wajah lama yakni Dede Rukka (Vocal dan Gitar), Rendy (Gitar dan Vocal), Wicky (Drums) dan Ochan (Bass), meluncurkan debutEP album mereka Silent Answers pada awal bulan Juni 2020.

Sebagai preambule (red: pembukaan) mereka tidak merilis album Extended-Play ini di platform musik digital, melainkan dalam format kepingan CD, berisikan 6 tracks yang akan mengembalikan ingatan kita ke masa kemesraan skena skateboard yang pernah memiliki keintiman khusus dengan skena melodicpunk kota Balikpapan pada awal tahun 2000-an yang dikenal karismatik, doyan koloran, selengean, dan herbert- friendly.

Jika The Sperms terbentuk di tahun itu, pastilah band ini akan terlihat di sebuah gigs yang diorganize dengan cara menyewa kafe kecil tanpa jendela dengan duit patungan seadanya, tampil dengan mic berbalut selotip pada ujung kabel konektor, speaker rakitan yang membuat semua output suara terdengar bertabrakan, dan yang tak pernah luput: orasi dari tiap-tiap band yang acapkali terdengar gibberish.

Alhasil, anda akan pulang (jika punya rumah) dengan bau asap rokok yang menempel seminggu di badan, dengan selebaran ajakan agenda Food Not Bomb di tangan, masuk ke dalam rumah dengan bergegas langsung mengunci kamar semata-mata karena menghindari interaksi dengan orang rumah demi menyembunyikan terciumnya aroma alkohol dari mulut si anak baik. Good old times, eh?

Mari kita tinggalkan nostalgia itu dan biarkan album EPThe Sperms : Silent Answers yang menghadirkan suasana masa keemasan trend trucker- hat, spike-belt dan backpacks yang berisi walkman dan kaset pita dengan sajian yang lebih less-snobby.

Baca Juga Dibawa Kesana Kemari oleh ‘Notes on a Conditional Form’ The 1975

Jika kita beranggapan mendengarkan tembang seindah Father and Son milik Cat Stevens merupakan hal yang tabu karena khawatir orang akan berasumsi kita ialah pendengar setia Boyzone, atau ada kekhawatiran setiap menikmati lagu Peter Tosh di kantor karena takut dicurigai bahwa anda adalah seorang pothead, maka buang jauh-jauh kekhawatiran akan menurunnya predikat punk anda, karena mendengarkan album EP The Sperms : Silent Answers ini sama seperti mendengarkan paduan suara di tengah Philadelphian skateboarders yang melakukan protest tentang diskriminasi ras yang videonya sempat beredar beberapa waktu lalu.

Di satu sisi mungkin album EP ini menyajikan punk yang pada dua dekade lalu anda bully habis-habisan karena para praktisi genre ini kebanyakan lebih memilih nongkrong di rumah daripada ikutan dumpster-diving.

The Sperms meramu Silent Answers dengan kematangan yang lebih prima. Terlihat dari kualitas rekaman pada album EP ini terdengar lebih punchy daripada perkenalan single mereka terdahulu. Progresi chord yang simple namun cukup dinamis terdengar seperti penetrasi mengawinkan MxPx era Teenage Politics dengan harmoni vocal belakang ala Hi-Standard.

Ada banyak part seru di EP Silent Answers ini, selain lirik yang kerap mengundang kita untuk bermain tebak-tebakan makna, bass line di setiap lagu pada album ini terdengar sangat shocking-punk. Album yang tercipta di awal masa pandemi ini diracik secara apik di Studio Borneo MusicLAB Balikpapan, bersama LordDaru sebagai eksekutor mixing dan mastering.

Cover artwork pada album ini dibuat oleh Sukma (@morndecay) dengan metode kolase gunting-tempel. Uniknya, gambar-gambar potongan kolase pada cover album ini related dengan keseluruhan lagu di EP Silent Answers, hingga 6 video teasers dapat dengan mudah dibuat satu-persatu oleh Rendy sebagai bocoran tipis yang diunggah ke akun Instagram The Sperms (@thespermspunk).

Overall, album EP Silent Answers milik The Sperms ini memiliki substansi yang jelas bahwa punk bukanlah pengakuan atau predikat yang disematkan kepada seseorang. Jika ada dalam diri ini sesuatu yang disematkan, tak lain karenalah ekspresi unik personal yang muncul dari pengalaman atau perjalanan tumbuh kembang seseorang dan tanpa disadari bersinggungan dengan kemampuan manusia untuk beralasan dan menanyakan sejuta tanda tanya besar yang masih tersisa dalam diri.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.