Tersangka Penyiraman Air Keras yang Juga Melumpuhkan Atensi Kasus Jiwasraya: Drama, Oh Drama

Tersangka Penyiraman Air Keras yang Juga Melumpuhkan Atensi Kasus Jiwasraya Drama, Oh Drama

Tersangka Penyiraman Air Keras yang Juga Melumpuhkan Atensi Kasus Jiwasraya: Drama, Oh Drama

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Cukup melelahkan memang untuk mengikuti sebuah serial drama, dan kebetulan tak banyak orang dewasa seperti saya menyukai tontonan dengan genre drama yang identik dengan label ‘menye-menye‘. Alasan lainnya ialah membuang-buang waktu.

Ya, ketimbang membuang waktu berjam-jam rebahan sambil nonton serial drama, alangkah baiknya waktu tersebut saya manfaatkan untuk kegiatan yang progresif.

Baik membantu pemerintah membangun jalan tol, membantu saudara-saudara korban penggusuran Tamansari di tenda pengungsian hingga sekedar berdoa bagi perjuangan keadilan sosial bagi saudara-saudara di Papua.

Namun, untuk serial drama yang satu ini saya benar-benar tertarik entah kenapa, tanpa trailer yang ‘wah’ seperti film-film Marvel namun mampu menarik perhatian saya untuk mengikutinya.

Sebenarnya, drama-drama semacam ini sudah pernah saya ikuti jalan ceritanya dari awal hingga tamat—beberapa belum tamat benar, bahkan menyediakan tontonan baru dengan latar belakang penjara mewah. Sebut saja drama kasus pengungkapan dalang pembunuhan aktivis Munir hingga kasus megakorupsi E-KTP yang memiliki ending cukup gantung.

Selain beberapa drama di atas, serial drama terbaru yang saya ikuti beberapa tahun belakangan ini adalah kasus penyiraman air keras kepada Penyidik Senior KPK, Novel Baswedan.

Mungkin kita semua telah mengetahui bagaimana episode-per-episode mulai dari penyiraman air keras di waktu fajar hingga kepada episode perusakan buku merah yang masih memiliki keterkaitan dengan kejadian penyiraman Novel Baswedan.

Yang mengherankan adalah, serial drama dengan Novel Baswedan sebagai peran protagonis ini tidak diketahui siapa sutradara yang menyusun keseluruhan jalan cerita yang telah tersiar selama 2,5 tahun lebih lamanya.

Hingga pada Kamis (26/12), sebuah episode terbaru dari kasus ini dirilis sekaligus mengobati kerinduan para pecintanya akan perkembangan kasus ini. Dimana tim teknis dari Bareskrim Polri berhasil menangkap pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan. Pelaku diketahui berinisial RM dan RB yang diketahui masih aktif sebagai polisi berpangkat brigadir.

Kedua polisi aktif yang menurut keterangan kepolisian ditangkap di Cimanggis, Depok ini rencana akan terus diinvestigasi dan ditahan selama 20 hari terhitung sejak penangkapan.

Banyak kejanggalan yang terjadi pada episode ini, seiring sejalan semakin menjustifikasi bahwa Indonesia tidak bisa lepas dari fenomena drama settingan. Dari pihak Novel Baswedan melalui kuasa hukum mereka menjelaskan bahwa ada tiga hal yang menjadi kejanggalan dalam kasus penangkapan tersangka penyiraman air keras ini.

Pertama adalah terbitnya Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) pada 23 Desember 2019 yang menyatakan bahwa dari perkembangannya, kasus ini belum bisa mengetahui siapa pelakunya. Namun, tiga hari berselang secara mendadak sang pelaku sudah tertangkap tanpa pemberitahuan kepada pidak Novel.

Kejanggalan kedua ialah adanya ketidaksesuaian berita terkait status tersangka penyiraman, pihak kepolisian menyatakan bahwa tersangka ditangkap, namun pemberitaan lain menyebutkan bahwa tersangka menyerahkan diri. Kejanggalan ketiga ialah sketsa wajah yang dirilis kepolisian ditelisik banyak pihak memiliki kemiripan dengan kedua pelaku yang ditangkap.

Kuasa hukum Novel sendiri meminta pihak kepolisian untuk mengungkap apa motif pelaku apabila benar secara mendadak menyerahkan diri. Selain itu, kepolisian diminta memberi penjelasan terkait antara sketsa wajah yang disebar dengan kedua tersangka yang tertangkap.

Belum ditambah sebuah teriakan salah satu tersangka saat hendak digiring ke dalam mobil polisi:

“Tolong dicatat, saya enggak suka sama Novel karena dia pengkihanat!” teriak pelaku RB.

Pernyataan itu menerangkan seolah-olah Novel Baswedan adalah seorang agen rahasia bagi planet Merkurius yang bertugas untuk memata-matai pemerintah Republik Indonesia, atau mungkin Novel pindah haluan dari Manchester United ke Liverpool hingga disebut dengan lantang sebagai pengkhianat.

Sungguh drama yang lengkap, dengan tetap memasukkan unsur komedi di dalamnya.

Paling utama adalah harus ditelusuri bahwa pelaku yang ditangkap bukan sepasang ‘tumbal’ yang sengaja disiapkan untuk pasang badan menutupi ‘sang sutradara’ yang menyusun seluruh skenario penyiraman air keras kepada Novel Baswedan. Kepolisian harus secara jujur dan berani membuktikan pengakuan dari tersangka sesuai dengan keterangan saksi-saksi kunci di lapangan.

Ya, sepertinya ini akan menjadi sebuah drama yang panjang, kawan.

Hold my beer..

Menggoyahkan Fokus Jagat Raya pada Skandal Jiwasraya

Jauh hari sebelum terungkapnya berita tersangka penyiraman Novel Baswedan, sebenarnya sudah merebak ke permukaan kasus yang membuat kaget publik, yaitu skandal PT Asuransi Jiwasaraya (Persero).

Bagaimana tidak kaget, BUMN satu ini sangat tidak becus dalam melakukan pengelolaan dana asuransi jiwa nasabahnya yang diklaim gagal melakukan pembayaran kepada 17 ribu nasabah.

Kerugian yang dialami pun sangat-sangat-banyak-sekali, dimana potensi kerugian menyentuh angka 13,7 Triliun Rupiah. Bahkan kerugian ini kemungkinan besar masih dapat bertambah dengan melibatkan kurang lebih 5,5 Juta pemegang polis.

Presiden menyebutkan bahwa perusahaan ini sebenarnya sudah bermasalah sejak kepemimpinan presiden terdahulu atau sekitar medio 2008. Seharusnya, menteri BUMN, sebagai otoritas yang membina dan mengendalikan Jiwasraya harus segera mengambil tindakan preventif jauh-jauh hari agar kerugian tersebut dapat dimininimalisir.

Kasus gagal bayar yang terjadi ini dianggap sebagai suatu sikap pembiaran atau kesadaran yang terlambat dari pemerintah dalam memanajemen dan mengawasi perkembangan BUMN yang mereka kelola. Sehingga dapat disimpulkan tidak adanya tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).

Hal ini akan berpengaruh kepada rusaknya kredibilitas perusahaan negara dan terutama kepada pemerintah selaku pemilik utama. Apabila dibandingkan dengan skandal Bank Century kasus maka skandal Jiwasraya akan lebih besar potensi kerugiannya karena melibatkan jutaan nasabah sebagai korban kerugian materiil. Semakin sulit juga bagi Indonesia untuk dipercayai sebagai negara yang transparan dan aman bagi para investor.

Bahkan beberapa menuding menteri BUMN saat ini, Erick Thohir terlibat dalam mega-skandal ini. Kemudian melahirkan hipotesis awal kalau pemerintah saat ini sedikit khawatir mendengar isu tersebut. Hal ini terkait dengan investasi Jiwasraya di salah satu perusahaan milik sang menteri berkode ABBA alias PT Mahakama Group.

Belum ditambah pasifnya Partai Solidaritas Indoensia (PSI) dalam kasus ini. Padahal sebagai partai ‘kemarin sore’ cukup berani memproklamirkan diri sebagai partai bersih dan akan terus mengawal uang rakyat. Lihat saja betapa vokalnya PSI dalam kasus “Lem Aibon” pemprov DKI Jakarta. Namun untuk kasus Jiwasraya yang juga menyangkut ‘uang rakyat’, mereka memposisikan diri sebagai ‘anak pendiam’ yang semakin menambah tanda tanya.

Baca Juga: Untuk Sebutir Peluru yang Menghujam Dada

Seolah tidak ingin masyarakat menjadi pengawal skandal Jiwasraya, maka banyak yang berindikasi bahwa untuk mengalihkan sorotan masyarakat disajikanlah terungkapnya tersangka kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan.

Karena episode inilah yang dinanti-nanti masyarakat setelah hampir tiga tahun menerawang seperti apa keberlanjutan kisah ini, siapa sutradaranya dan apa motif dibalik penyiraman air keras. Karena memang di negeri ini pengalihan isu adalah salah satu skenario terbaik ketimbang mengusut tuntas kebobrokan yang terjadi.

Tapi sangat disayangkan beberapa pengalihan isu menjadi drama yang ‘cacat cerita’, sehingga sangat mudah untuk menebak dan menertawakan jalan ceritanya,

drama, oh drama..

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.