Teriak-teriak Soal Feminisme Biar Keliatan Edgy: Sebuah Logical Fallacy

ideologi feminisme

Teriak-teriak Soal Feminisme Biar Keliatan Edgy: Sebuah Logical Fallacy

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Feminisme mendorong kebebasan dan kemandirian perempuan, bukan mendorong perempuan memelintir norma buruk menjadi norma baik. Ini logical fallacy.

Thexandria.com – Feminisme belakangan tumbuh menjadi gagasan yang makin populer tidak hanya di dunia, tapi juga di Indonesia. Banyak gerakan kolektif yang diinisiasi perempuan-perempuan di Indonesia aktif mengkampanyekan feminisme.

Mungkin berbanding lurus dengan budaya membaca masyarakat Indonesia yang masih tergolong rendah, sehingga banyak yang ikut-ikutan meneriakan feminisme secara ‘toxic‘ tanpa memahami esensi dari feminisme itu sendiri.

Apa yang kami katakan ‘toxic‘ menilik pada banyak “komenan” yang seakan-akan menolak mentah-mentah beberapa kritikan terhadap feminisme dengan menjustifikasi “tidak open minded“, atau “terjebak dalam patriarki”.

Pun begitu, juga muncul sentimen gender dan kesalahpahaman menempatkan cita-cita feminisme dalam kehidupan sosial.

Pemahaman seperti perempuan harusnya memiliki ‘special right‘, jelas salah, bila mengacu pada feminisme. Feminisme menuntut adanya ‘equal right‘, persamaan hak, bukan hak yang spesial. Jadi jika kamu perempuan, jangan merasa spesial, kamu hanya spesial di mata gebetan kamu… woy penulisnya gak open minded, nih!

Untuk membuat ini semakin jelas mari kita bedah sedikit, feminisme adalah sebuah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi dan ruang publik.

Feminisme (harusnya) bukan ideologi yang menebar kebencian pada kaum pria. Ini yang kami katakan sentimen gender yang merebak, sebagai konsekuensi dari minimnya literasi dan mengambil sudut pandang hanya berdasarkan kampanye sosial media belaka.

Ironisnya, mereka yang kontra terhadap feminisme, bukan malah sering tepat memahami serta mengkritisi. Banyak di antaranya justru terjebak dalam perspektif yang sama kelirunya.

Mereka yang kontra feminisme, sering men-cap gerakan kesetaraan gender ini sebagai paham yang melemahkan justru memperlemah posisi perempuan, karena orang awam menganggap bahwa feminisme selalu menuntut sesuatu yang lebih dan spesial daripada pria.

Lebih jauh lagi, feminisme tak sekadar membebaskan hak-hak perempuan yang tergadaikan, gagasan feminisme sebenarnya juga membebaskan para laki-laki untuk mendobrak paradigma masyarakat.

Ini mungkin jarang diketahui, feminisme mendorong agar pria berhak untuk hidup di luar stigma maskulinitas yang konservatif. Dengan kata lain, feminisme berpandangan bahwa pria, juga berhak untuk pergi ke salon dan merawat diri selayaknya perempuan, laki-laki juga berhak untuk menangis ketika bersedih. Tidak ada dalam kamus feminisme, “laki-laki tak boleh cengeng”, “menangislah sekencang-kencangnya, tak perduli jika kau laki-laki sekalipun!”.

Feminisme juga berkomitmen untuk mengatasi masalah yang terjadi di kehidupan sosial seperti KDRT, pemerkosaan dan kekerasan seksual.

Dalam kacamata feminisme, perempuan berhak atas kendali hidup mereka sendiri tanpa dihantui anggapan masyarakat. Sebagai contoh, di masyarakat, seorang perempuan biasanya tidak dipandang ‘sempurna’ jika tidak memiliki anak. Bagi feminisme, memiliki anak adalah pilihan, bukan kewajiban.

Gelombang-gelombang dalam Feminisme

Dari sisi sejarah, feminisme awalnya terbentuk dan berkembang dari rangkaian praktik-praktik politik. Studi dewasa ini, gerakan feminisme dibagi ke dalam empat gelombang.

Empat gelombang yang berkembang sekarang, tidak semerta bersifat final, melainkan terus mengalami kajian dan kritik.

Gelombang pertama, fokus pada gerakan menuntuk pemberian hak politik, hak pilih untuk perempuan. Tuntutan tersebut tercapai lewat amandemen ke-19 dari Konstitusi Amerika Serikat yang berbunyi “hak warga negara Amerika Serikat untuk memilih tidak akan ditolak atau dibatasi oleh Amerika Serikat, atau negara bagian manapun berdasarkan jenis kelamin.”.

Gelombang kedua, dimulai dari didirikannya Organisasi Nasional Perempuan (National Organization for Women) atau NOW, dengan tujuan utama memperluas hak-hak ekonomi perempuan, dan mengentaskan diskriminasi di lingkungan kerja.

Gelombang ketiga, dimulai pada awal tahun 1990an. Gerakan feminisme pada gelombang ini dijewantahkan melalui segmen kultur populer seperti musik dan seni lukis. Era ini, diwarnai dengan timbulnya seniman, lagu, serta komik-komik yang membawa semangat kesetaraan gender.

Gelombang keempat, muncul seiring dengan berkembangnya teknologi internet, yang kemudian membawa feminisme dalam berbagai diskusi dan kritisi melalui platform-platform kekinian. Internet memberi kesempatan bagi feminis untuk menantang seksisme sekaligus menjaring para pendukung femisime yang cenderung instan.

Mengapresiasi dan Mengkritisi Feminisme

Hadirnya gagasan feminisme di Indonesia, sebetulnya, bagi kami juga merupakan sebuah ‘anugrah berpikir manusia’, wabil khusus perempuan.

Dengan adanya feminisme, kampanye seperti, “my body is mine“, menjadi penting untuk membentuk kerangka berpikir perempuan yang mandiri dan juga bertanggung jawab.

Baca Juga: Betapa Idealnya Menjadikan Jerinx dan Ferdian Paleka Sebagai Mas-Mas Crush

Membuka cakrawala wawasan dari manipulasi cowok-cowok brengsek dan ketidakadilan dari sebuah sistem jika ada.

Yang paling konkret, feminisme berhasil menjadi landasan penguat untuk para penyintas kekerasan seksual melaporkan apa yang mereka alami. Feminisme dapat menjadi konfigurasi agar perempuan berani speak up dan aware pada berbagai bentuk kekerasan seksual.

Namun begitu, kami juga tak lantas bersepakat secara penuh dengan gagasan-gagasan feminisme khususnya di gelombang ke-4.

Bagi kami, ada semangat yang ditawarkan feminisme beberapa di antaranya bisa dikatakan ‘kebablasan’.

Dicuit oleh akun Magdalene, sebuah media alternatif yang concern pada isu dan kampanye feminisme;

Tweet Magdalene

“Mereka yang berprofesi sebagai pekerja seks, secara mandiri, cenderung lebih merdeka dan berdaulat akan tubuh dan dirinya. Mereka bebas menentukan kapan menerima pesanan, menentukan jenis pelanggan yang akan dilayani, atau genre yang ingin ditampilkan.”

Bila konteks ‘kebebasan’ yang menjadi isu utama, bagaimanapun, pemilihan profesi sebagai pelacur—tidak dapat dibenarkan.

Apakah feminisme juga mendorong perempuan untuk tidak tabu hidup atau mandiri dalam praktik komersialisasi seks? Bukankah itu sama saja dengan mencuci pakaian menggunakan air kencing? Kita berbicara pada cara yang salah, dan tidak boleh dibenarkan dengan berbagai ‘pembenaran’ walaupun dengan feminisme sekalipun.

Feminisme mendorong kebebasan dan kemandirian perempuan, bukan mendorong perempuan memelintir norma buruk menjadi norma baik. Ini logical fallacy.

Selain itu, gagasan soal LGBT yang dalam gelombang empat ini, juga menyatu dalam kampanye feminisme, juga saya kritisi sekaligus tolak.

Saya banyak memiliki teman di Jakarta, yang orientasi seksualnya berbeda-beda. Dan saya tidak ada masalah dengan mereka dan orientasi seksual mereka. Bagi saya, saya melihat mereka sebagai human being, tapi saya tidak mendukung orientasi seksual yang mereka pilih.

Perilaku LGBT yang dalam budaya pop kini, menjadi lumrah dengan mengindahkan sisi-sisi dogma, menjadi distorsi sejarah yang memilukan. Jika perdebatan dan diskusi LGBT menolak mentah-mentah perspektif agama, dengan alasan tidak komprehensif, maka sebaliknya, kita juga dapat menolak gagasan dan perilaku LGBT, dengan alasan tidak komprehensif dan cenderung subjektif.

Kita dapat menolak pemahaman agama, andaikata agama sendiri tidak pernah membahas perilaku LGBT. Masalahnya, darimana kita tau soal Sodom dan Gomora serta kaum Nabi Luth?

Dan untuk mereka yang teriak soal feminisme untuk ikutan terlihat edgy? Taukah kalian bahwa sebelum RA Kartini berpikir soal emansipasi, ada Sultanah Dannir? Yang tercatat memimpin wilayah Pasai dan Kadah (kini Kabupaten Aceh Utara) Aceh sekitar abad 14 Masehi (1389 M), atau Siti Raham binti Rasul Endah Sutan, istri dari Buya Hamka seorang sastrawan, politikus, juga cendekiawan yang mahsyur itu?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.