Tentang Virus Hanta yang Penyebarannya Hanya Melalui Tikus dan Fenomena “Tikus-tikus Ngantor” di Indonesia

Virus Hanta

Tentang Virus Hanta yang Penyebarannya Hanya Melalui Tikus dan Fenomena “Tikus-tikus Ngantor” di Indonesia

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

China.

Negara yang tak henti-henti mengguncang jagat bumi beberapa tahun terakhir. Meskipun pada pertengahan abad 20 nasib mereka tidak sebaik sekarang, karena pada medio tersebut, China mengalami peperangan, revolusi, dugaan pelanggaran HAM dan kelaparan secara bersamaan.

Hingga pada akhirnya, kebangkitan China dari keterpurukan melahirkan sebuah fenomena “The Asian Miracle” yang dalam teori ekonomi, disebut sebagai pertanda lahirnya progres pertumbuhan ekonomi Asia yang sangat pesat.

Karena pencapaian tersebut, China bahkan memberikan label kepada Amerika Serikat sebagai kompetitor utama geopolitik mereka.

China begitu luas memberikan pengaruh melalui kerjasama perdagangan, bantuan infrastruktur, investasi, dan strategi ekonomi hingga akhirnya mampu mendominasi perang dagang dunia dewasa ini.

Namun, di balik kedigdayaanya, beberapa pihak memberi prediksi akan adanya ketidakstabilan di balik program “peremajaan nasional” yang diusung sang Presiden, Xi Jinping. Prediksi seperti munculnya stagnansi ekonomi dan proses keruntuhan internal dinilai akan menghantui China di kemudian hari.

Hingga akhirnya, proses keruntuhan internal benar-benar terjadi bagi China—Covid-19 melumpuhkan semua aspek kehidupan, hingga menjadi pandemi global.

Lonjakan angka pasien positif yang disebabkan Covid-19 sendiri semakin tak terbendung di berbagai belahan dunia. Di Indonesia sendiri, sampai pada saat artikel ini ditulis sudah menyentuh angka 790 pasien positif dengan angka kesembuhan 31 orang dan angka kematian 58 orang.

Sejauh ini pula, seluruh pihak diharapkan partisipatif dalam upaya melawan penyebaran Covid-19 kepada orang lain di sekitarnya. Upaya negara bagi warga negaranya telah dilakukan melalui cara yang beragam—beberapa negara memberlakukan kebijakan lockdown, pemberlakuan test secara masif, himbauan bagi masyarakat untuk tetap di rumah saja menjaga kebersihan hingga penerapan physical distancing.

Doa, dukungan hingga respect yang tinggi ditujukan kepada dokter, perawat, tenaga medis, garda keamanan hingga pihak relawan yang mendedikasikan waktu dan tenaga untuk menyelamatkan para korban positif Covid-19. Karnanya, mari luangkan beberapa detik untuk mengharap; Semoga (mereka) selalu dilindungi oleh Tuhan dari segala bahaya yang mengancam. Amin.

Virus Hanta yang Sebenarnya Tidak Perlu Hadir

Kepanikan masyarakat akan Covid-19 yang urung menemui kabar baik, dunia malah kembali ditambah sebuah berita baru yang tidak mengenakkan. Pada Rabu (25/3), jagat Twitter diramaikan soal kemunculan virus baru bernama Virus Hanta, yang–sialnya, kebetulan juga dari China.

Terpantau lebih dari 570.000 cuitan terkait bahasan virus tersebut yang semakin menimbulkan potensi panik bagi masyarakat dunia.

Bahasan tersebut bukan tanpa penyebab, stimulusnya adalah adanya laporan seorang pria yang meninggal dunia di Provinsi Yunnan, China. Pria tersebut meninggal Senin (23/3) saat berada di dalam bus yang melakukan perjalanan ke Provinsi Shandong, China.

Dikutip dari Global Times, setelah kejadian tersebut, dilakukan screening terhadap jasad pria malang tersebut. Tes nukleus acid yang dilakukan memaparkan bahwa sang pria terjangkit Hantavirus atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).

Penyakit tersebut merupakan penyakit pernapasan yang parah dan bisa berakibat fatal pada manusia, dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention.

Virus ini juga bukan virus baru, karena menurut rekam jejak dunia medis, virus ini sudah ada sejak 1950 di sungai Hanta yang merupakan tempat berperang antara Korea dan Amerika Serikat.

Selain itu, 32 penumpang lainnya yang berada dalam satu bus dengan sang pria juga diuji untuk mengetahui apa terjadi penularan dari manusia ke manusia atau tidak.

Hasilnya menunjukkan bahwa virus Hanta ini tidak menular melalui manusia ke manusia lainnya, melainkan melalui hewan tikus.

Kebiasaan masyarakat China yang suka mengkonsumsi daging-daging yang abnormal salah satunya tikus, menjadi penyebab munculnya kasus tersebut.

Hal ini dipertegas oleh Dr Sumaiyah Shaikh: “Jangan panik, kecuali anda berencana untuk memakan tikus.” ujar ilmuwan asal Swedia tersebut.

Sedikit Sarkas untuk Republik

Virus Hanta yang seperti telah kami tulis di atas, kita semogakan agar virus tersebut tidak berevolusi sedemikian unik hingga juga dapat menulari manusia, seperti halnya Covid-19, yang menurut beberapa penelitian, juga awalnya, Covid-19 adalah “flu yang biasa menjangkit beberapa hewan liar”.

Mari berharap, dengan adanya kejadian pandemi Covid-19 ditambah dengan sempatnya kemunculan virus Hanta merebakan kecemasan dunia, dapat dibijaki dengan arif oleh pemerintah China. Dalam artian, mari berharap akan adanya sebuah pelarangan atau pembatasan dalam skema tertentu bagi kebiasaan masyarakat China mengkonsumsi hewan-hewan liar seperti tikus, kelelawar, dan ular.

Berhubung narasi tulisan ini dibangun dengan kadar keseriusan yang cukup tinggi–mari kita rileks dengan sedikit guyon dan sindiran.

Virus Hanta yang sempat trending di jagad Twitter, tentu memberi efek kepanikan sesaat. Padahal, kita, masyarakat Indonesia, sebetulnya bisa sedikit mengambil hikmah. Selain juga karna sebetulnya ada sebuah “kelucuan”–kalau tak mau disebut ironi.

Virus Hanta yang bermuasal dari tikus, harusnya menyadarkan kita betapa–tikus, hewan pengerat yang terkenal cerdik, gesit, dan rakus itu, sejatinya bukan “hal baru” bagi Indonesia.

Apakah anda lupa? Bagaimana ada sebuah analogi “abadi” untuk sebuah laku kriminalitas tingkat tinggi, yang dimana para pelakunya seringkali “berdasi” ?

Baca Juga: Dampak Corona di Indonesia Menyebabkan Kita Mengalami Turbulensi Social Distancing, yang Paling Jago Adalah Kaum LDR

Kami yakin 99,9% anda tidak lupa. Iya, benar sekali. Tikus adalah analogi bahkan “personifikasi” dari tindak pidana KKN yang kerap menghantui Republik ini dari para oknum-oknum pejabat dan pengusaha. Jadi, seharusnya kita bisa “sedikit menertawakan diri sendiri” dan “sedikit dibuat melek” dengan beredarnya pemberitaan seputar virus Hanta. Dikarnakan sebenarnya, kalau kita lebih jeli, Indonesia adalah salah satu negara yang bisa dikatakan “sudah biasa” dengan fenomena tikus–yang bahkan, musisi Iwan Fals pernah mengabadikannya dalam sebuah lagu berjudul; Tikus-tikus Kantor.

Kalau masyarakat China punya kebiasaan mengkonsumsi tikus? Indonesia malah lebih parah, Indonesia “digerogoti tikus” !

Dan sudah terbukti, toh? Tikus itu sarang penyakit.

Tapi tentu, kita juga harus memberi apresiasi dan mendukung terhadap upaya pemerintah memberantas tikus-tikus di Indonesia, sembari kecewa terhadap performa KPK yang sekarang, dan berdoa sedalam-dalamnya untuk wabah pandemi Corona.

Lekas sembuh, bangsaku!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.