Tentang Pernikahan; Mengundang dan Diundang

Tentang Pernikahan; Mengundang dan Diundang

Tentang Pernikahan; Mengundang dan Diundang

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Sejatinya pernikahan adalah hal yang sakral bagi insan manusia, hari bahagia dimana dua insan bersatu menjadi keluarga baru.

Thxandria.com – Setiap orang punya berbagai definisi tersendiri tentang cinta, bagaimana emosi, sikap, ungkapan dan tindakan yang terlahir atas namanya. Namun di dunia ini sudah menjadi wajar bila cinta antara sepasang manusia akan bermuara pada pernikahan. Sebuah hal yang pasti akan kita lalui, entah kapan dan dimana tetapi masa itu pasti akan datang, persis seperti sunat jilid dua adalah ungkapan yang rasanya cocok bagi para lelaki termasuk saya.

Tentu ada saja hal unik yang terjadi di momen pernikahan terkhusus di negara kita, sebuah budaya yang telah mengakar dan hampir selalu terjadi. Dimana setiap para tamu undangan pernikahan akan hadir dengan membawa amplop berisi uang untuk diberikan kepada mempelai di depan pintu masuk acara pernikahan.

Karena hal ini cukup unik, saya mencoba menyelami pemikiran orang terhadap hal ini dari sisi orang yang diundang dan juga dari orang yang mengundang.

Baca Juga Gue Menemukan Esensi dari Sensasi Menuju Pernikahan, Yaitu; Sunat!

Perspektif Diundang

Bagaimana jika undangan pernikahan itu kita terima di akhir bulan tepat pada saat kondisi keuangan sangat mepet, pet, pet. Atau lebih parahnya kita memang sedang tidak ada uang sama sekali alias nganggur.

Di satu sisi kita merasa tidak enak karena yang mengundang adalah teman baik atau rekan kerja yang akan bertemu setiap hari.

Menjadi dilema, antara datang atau tidak datang?

Pertama

Setelah berkontemplasi akhirnya memutuskan untuk datang tanpa membawa amplop. Karena sepertinya tidak memberi amplop juga tidak apa-apa. Atas dasar pertemanan, dia pasti maklum kondisi kita seperti apa.

Tetapi, di setiap acara pernikahan pastinya ada pagar ayu istilahnya, yang tugasnya adalah menerima tamu dan mencatat nama kehadiran mereka serta menjaga kotak yang akan diisi amplop oleh para pengunjung. Wadooh, kita kan sudah ngebelain datang, pakai pakaian rapi, bahkan dandan. Tapi jadi pengin mutar balik, karena malu gak bawa amplop.

Niatnya sih pengin juga ngasih amplop, tapi kondisi kan lagi serba mepet, pet, pet.

Duh jadi masuk aja, pede atau muka tembok sekalian deh lalu samperin mempelai, kasih selamat serta doa, selesai.

Baca Juga Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam

Kedua

Studi kasusnya masih sama seperti diatas, tetapi cara menyikapinya yang berbeda. Karena kondisi keuangan sudah pas, atau memang gak ada sama sekali, dan tidak cukup kuat mental untuk datang dengan muka tembok karena sudah tau bahwa akan ada kotak amplop di depan pintu masuk. Akhirnya memutuskan untuk tidak datang memenuhi undangan pernikahannya.

Wah ini pemikiran yang cukup aman, tapi sangat egois. Mengapa saya katakan sangat egois? Karena apabila minimal 50 orang saja berpikiran demikian dan memutuskan untuk tidak datang, dan orang itu adalah teman dari kedua mempelai. Coba bayangkan bagaimana perasaan mereka. Kerabat dan saudara yang dinantikan tak kujung datang. Miris rasanya. Sekali lagi saya tidak mengalaminya, tapi ngebayanginnya saja sudah cukup bikin sedih loh.

Ketiga

Disisi lain ada saja tamu undangan yang datang. Terlihat biasa saja, sama seperti yang lain. Tetapi amplopnya yang tidak biasa.

Ada namanya coy!. Yup amplopnya dikasih nama, entah apa tujuannya. Mungkin kode kali yah supaya ketika nanti dia menikah akan dikasih amplop dengan nominal serupa hehe. Yaudah deh, yang ini tidak perlu dibahas terlalu panjang. Takut gibah, inget dosa atuh.

Baca Juga Menjadi Bucin Tidak Sepenuhnya Salah, Hanya Saja…

Perspektif Mengundang

Setelah menyelesaikan segala persiapan acara penikahan, mulai dari tempat yang mewah, makanan kelas hotel bintang 5, dekorasi yang luar biasa. Band pengiring nomor wahid. Tentunya akan merogoh kocek yang tidak sedikit.

Pertama

Di hari H, berharap seluruh tamu undangan datang semuanya dengan membawa amplop. Harus bawa pokoknya. Udah keluarin biaya pula untuk cetak undangan. Kalau tau gak datang mendingan bilang di awal. Supaya undangannya bisa diberikan ke orang lain yang pasti datang, dan bawa amplop tentunya.

Membuat acara pernikahan itu gak murah, kalau bisa ya datang dan memberikan sesuatu yang setimpal dengan pelayanan sudah diberikan. Yah, paling tidak kan bisa balik modal buat nutup biaya acara yang mahal.

Kita kan butuh doa dan restunya juga.

Kedua

Terimakasih atas kehadiran dan doanya, itu lebih bermanfaat dan membuat kami senang. Karena kalian sudah rela meluangkan waktu istirahat, atau bahkan menilnggalkan pekerjaan untuk datang ke acara pernikahan kami.

Kami tidak begitu memikirkan uang di saat momen penting ini karena ini adalah sebuah momen sakral yang hanya sekali seumur hidup.

Adem banget ya? Pasangan santuy idaman.

Ketiga

Untuk panitia yang jaga pintu masuk, kalau bisa setelah tamu undangan tulis nama di buku tamu langsung diarahkan ke kotak amplop. Inget jangan lupa amplop mereka dikasih nomor ya sesuai dengan nomor yang di buku tamu. Jangan sampai salah.

Cuan, cuan, cuan. Gak ngasih cuan kelar hidup lo gengs!

Baca Juga Interpretasi Cinta dari Pecundang dan Petuah dari Ksatria tanpa Zirahnya

Sejatinya pernikahan adalah hal yang sakral bagi insan manusia, hari bahagia dimana dua insan bersatu menjadi keluarga baru. Acara pernikahan bukanlah kegiatan berdagang yang memang tujuannya harus cari untung.

Alangkah baiknya jika kita ingat kembali kepada esensi dari pernikahan yang menjadi sebuah momen untuk meminta doa restu dari para kerabat dan saudara sambil menjalin silaturahmi sekaligus berbagi kebahagiaan kepada mereka.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.