Tentang Menteri KKP Edhy Prabowo yang Jadi Tersangka

Menteri KKP Edhy Prabowo Jadi Tersangka KPK

Tentang Menteri KKP Edhy Prabowo yang Jadi Tersangka

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Mengapa saat ikan dan udang menghampiri dirimu, kita malah rakus dengan menjual benihnya melulu.

Thexandria.com – Tiang-tiang Pemerintahan negeri ini kembali bergetar, mata yang kian perih melihat Komisi Pemberantasan Korupsi menumpas kebobrokan pemimpin dengan jabatan tinggi.

Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) menetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo sebagai tersangka kasus dugaan penerimaan hadiah atau janji terkait perizinan tambak, usaha, atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020.

Kini KPK telah menetapkan total tujuh orang tersangka dalam kasus dugaan suap terkait izin ekspor bibit lobster.

Baca Juga Kepulangan Habib Rizieq Sebabkan Turbulensi Politik

Selain Edhy, KPK juga menetapkan enam tersangka lainnya yaitu staf khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Safri dan Andreau Pribadi Misata, pengurus PT Aero Citra Kargo Siswadi, staf istri Menteri Kelautan dan Perikanan Ainul Faqih, Direktur PT Dua Putra Perkasa Suharjito, serta seorang pihak swasta bernama Amiril Mukminin.

Melansir kompas.com dalam kasus ini, Edhy diduga menerima uang senilai Rp 3,4 miliar dan 100.000 dollar AS dari pihak PT Aero Citra Kargo. Perusahaan tersebut diduga menerima uang dari beberapa perusahaan eksportir benih lobster, karena ekspor hanya dapat dilakukan melalui PT Aero Citra Kargo dengan biaya angkut Rp 1.800 per ekor benih lobster.

Awalnya kontroversi ekspor benih lobster terjadi sejak penghujung tahun 2019 dimana menteri Edhy akan mencabut larangan ekspor benih lobster yang dilarang pada era menteri Susi Pudjiastuti. Meskipun polemik tak kunjung usai, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo akhirnya mengesahkan aturan budidaya dan ekspor benih lobster. Aturan tersebut diundangkan pada 5 Mei 2020.

Namun yang menjadi miris adalah bahwa semangat yang digaungkan untuk kesejahteraan nelayan pencari benih lobster malah dimanfaatkan segelintir orang untuk “memainkan” hak ekspor dan keuntungan pribadi.

KPK menetapkan tersangka sebagai penerima suap yakni Edhy Prabowo, Safri, Andreau Pribadi Misata, Siswadi, Ainul Faqih, dan Amiril Mukminin. Sedangkan pemberi suap, yaitu Suharjito.

Diketahui Edhy ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT) bersama istri dan sejumlah pejabat tinggi KKP di Bandara Internasional Soekarno-Hatta usai melakukan kunjungan kerja dari Honolulu Amerika Serikat pada Rabu dini hari, (25/11/2020). Sementara KPK juga melakukan penangkapan terhadap beberapa orang lainnya di Tanggerang Selatan, Bekasi, dan Depok.

Lima orang tersangka dalam kasus ini telah ditahan KPK di Rutan Cabang KPK Gedung Merah Putih KPK setelah terjaring dalam OTT. Namun Andreau Pribadi Misata dan Amiril Mukminin belum ditahan. “KPK mengimbau kepada dua tersangka, yaitu APM dan AM untuk dapat segera menyerahkan diri ke KPK,” kata Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango dalam konferensi pers, Rabu (25/11/2020).

Baca Juga Ribut-ribut Soal Ekspor Benih Lobster: Komoditas Perikanan Bernilai Ekonomi Tinggi

Menteri Terjaring Korupsi

Penetapan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi menambah jumlah menteri di era Presiden Joko Widodo yang tersandung kasus korupsi, terhitung sejak periode pertama (2014-2019).

Edhy menjadi menteri pertama Kabinet Indonesia Maju Joko Widodo-Ma’ruf Amin yang berurusan dengan KPK karena terjaring operasi tangkap tangan (OTT). Namun pada periode pemerintahan sebelumnya, sejumlah menteri Jokowi juga pernah berurusan dengan KPK.

Para menteri yang tersandung kasus korupsi sebelumnya ialah eks Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi dan eks Menteri Sosial Idrus Marham. Keduanya merupakan menteri Jokowi di Kabinet Kerja, yakni pada periode 2014-2019.

Idrus Marham menjabat Menteri Sosial Kabinet Kerja yang dipimpin Presiden Joko Widodo. Pada Agustus 2018, Idrus ditetapkan sebagai tersangka kasus suap terkait proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt. Idrus dijatuhi vonis dua tahun penjara oleh Mahkamah Agung pada tingkat kasasi. Idrus terbukti menerima suap Rp 2,250 miliar.

Imam Nahrawi adalah Menteri Pemuda dan Olahraga pada Kabinet Kerja. Pada September 2014, ia ditetapkan sebagai tersangka kasus suap terkait pengurusan dana hibah dan gratifikasi dari sejumlah pihak. Dijatuhi hukuman 7 tahun penjara dan denda Rp 400 juta subsider 3 bulan kurungan, serta membayar uang pengganti senilai Rp 18.154.230.882. Ia terbukti menerima suap sebesar Rp 11,5 dan gratifikasi senilai Rp 8.348.435.682 miliar dari sejumlah pihak.

Dengan sederet kasus ini tentu kita bertanya mengapa kursi-kursi pemimpin negeri dinahkodai dengan cara seperti ini, dan kita lebih bertanya lagi apakah terungkapnya kasus ini adalah keberhasilan yang harus diapresiasi, sementara itu kita percaya bahwa para pemimpin negeri tak semestinya begini. Maka permintaan yang terakhir adalah tolong jangan khianati lagi kepercayaan kami.

Dengan mengenakan rompi orange Edhy Prabowo yang berstatus tersangka menyatakan dirinya akan menjelaskan apa yang ia lakukan dan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi. Ia juga menyampaikan banyak permohonan maaf yang diantaranya ditujukan kepada masyarakat kelautan dan perikanan yang merasa terkhianati.

Kami mengutip kalimat penutup Najwa Shihab dalam laman narasi.tv berjudul “Menteri Terjaring Lobster”.

Jika benar nenek moyang kita seorang pelaut, yang dimaksud bukanlah seorang perompak yang tak kenal takut. Bukan para bajak laut yang merampas hak orang lain, para pemburu rente dengan patgulipat yang bukan main.

Leluhur kita ialah nelayan dan saudagar perkasa, yang melanglang samudera mengejar ikan dan berniaga. Sembari mengibarkan bendera pada tiang-tiang layar, menegaskan jati diri bangsa bahari yang memang besar.

Kedaulatan laut tak cuma soal menangkap kapal asing, mengolah samudera untuk kepentingan wargalah yang terpenting. Bukankan kita hidup di negeri yang mirip kolam susu, bahkan tanaman bisa berasal dari tongkat dan kayu.

Mengapa saat ikan dan udang menghampiri dirimu, kita malah rakus dengan menjual benihnya melulu.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.