Tentang Jalan Kaki di Indonesia

Tentang Budaya Jalan Kaki di Indonesia

Tentang Jalan Kaki di Indonesia

Penulis Clarenza Adela | Editor Dyas BP

Jika fasilitas publik seperti trotoar saja tidak layak digunakan, ngapain juga jalan kaki?

Thexandria.com – Pernahkah kalian terjebak dalam situasi dimana sedang macet parah, lalu pengguna sepeda motor mulai gerah dan lelah sehingga memilih untuk menaikkan motor mereka ke trotoar yang sepi dengan tujuan dapat menerobos jalanan lebih cepat tanpa hambatan?

Mungkin kalian dari dalam mobil hanya bisa geleng-geleng dan membatin, “Enak banget, woy! Gue juga mau nyelip-nyelip biar cepet!”

Menurut aturan yang berlaku perbuatan tersebut merupakan pelanggaran hukum. Pengguna kendaraan bermotor tidak seharusnya menggunakan trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki. Itu sama saja dengan merampas hak pejalan kaki dalam menggunakan fasilitas publik.

Baca Juga Menjadi Generasi Sandwich Bukan Soal Pesimistis, Melainkan Sebuah Pandangan Dilematis

Motor dan mobil tempatnya di jalan raya, bukan di trotoar. Tetapi apakah kalian pernah berpikir kalau penyebab pengguna sepeda motor suka sengaja masuk ke trotoar itu karena jarangnya pejalan kaki yang menggunakan trotoar tersebut?

“Ya, ngapain kok gak boleh lewat trotoar? Toh trotoarnya sepi gak ada yang lewat dan jalan disana. Jadi meskipun melanggar, yang penting aman dan saya tidak membahayakan.”

Semakin sedikit pejalan kaki, menjadikan trotoar semakin sepi juga. Hal tersebut menjadi alasan yang masuk akal jika para pesepeda motor ingin menerobos ‘ruwetnya’ jalanan dengan cara melewati trotoar.

“Kan nggak bakal nabrak pejalan kaki, wong pejalan kaki nggak ada yang lewat di trotoar itu, kok!”

Buruknya kebiasaan masyarakat kita akhirnya dicontoh oleh beberapa warga asing yang ada di Indonesia. Meski kita tidak tahu apakah warga asing belajar dari kita atau memang mereka suka melanggar dari sononya, tapi tetap saja warga asing juga pasti menilai bagaimana masyarakat Indonesia berkendara dan menghormati pejalan kaki—setali tiga uang menjadi nilai minus Indonesia di mata warga negara asing.

Hal ini mengingatkan saya dengan ketegasan aktor Nicholas Saputra saat menghadang pengguna motor bule yang sengaja lewat di jalur pejalan kaki beberapa tahun lalu. Saya sangat salut dan mengapresiasi apa yang Nicholas sudah lakukan.

Cukup ironis dan bikin gemas. Bisa-bisanya trotoar di Indonesia sepi pejalan kaki. Mungkin itu juga salah satu penyebab pemerintah daerah malas membuat trotoar yang layak dilewati karena sudah tahu budaya masyarakat kita yang ogah jalan kaki panas-panasan. Munculnya transportasi umum yang murah dan jauh lebih cepat membuat jalan kaki tak lagi jadi pilihan. Belum lagi ancaman dicopet dan dijambret ketika jalan kaki juga masih sangat memungkinkan. 

Saya sebagai seorang yang hobi jalan kaki merasakan betul bahwa budaya jalan kaki di Indonesia adalah suatu hal yang ‘gak banget’ bagi sebagian besar orang. Saya juga suka mengajak teman-teman saya di kampus untuk berjalan kaki ke suatu tempat.

Jaraknya sekitar 500 meteran saja. Namun mereka menolak ajakan saya dan mau ikut bila naik taksi online. Saya bertanya apakah dia sedang sakit dan kakinya tidak bisa berjalan jauh. Rupanya alasannya karena tidak terbiasa jalan kaki sejauh itu (baca: mager). Tapi baiklah, saya menghargai pilihan orang lain yang berbeda dengan saya. Tidak masalah. 

Di kampus, saya mengikuti kelas Bahasa Korea yang mana guru pengajarnya adalah orang warga negara Korea asli. Ia tidak fasih berbahasa Inggris maupun Indonesia. Suatu hari ketika sedang kelas, guru Korea saya bertanya kepada murid-murid tentang materi jarak, waktu, dan transportasi. 

Kita diberi pertanyaan kira-kira artinya begini, “Dari kampus ke Royal Plaza berapa menit dan pakai apa (transportasinya)?” Sudah pasti murid-murid menjawab naik taksi online, sepeda motor, dan mobil untuk sampai kesana. Lalu si guru Korea ini bercerita bahwa ia dari kampus ke Royal Plaza dengan bejalan kaki! Padahal ia punya opsi untuk naik ojek online yang murah. Mungkin karena faktor bahasa dan suka jalan kaki sehingga guru Korea ini pilih jalan kaki saja.

Baca Juga Juru Parkir Liar: Profesi Santai nan Menjanjikan

Sontak satu kelas kaget mendengar ceritannya yang berjalan jauh itu. Lalu guru Korea ini juga berkata ketika pertama ke Indonesia, ia cukup bingung kenapa banyak sekali kendaraan bermotor dan jalanan ramai sekali. Meski belum pernah ke Korea, saya menangkap bahwa kondisi jalanan di Korea tidak seramai di Indonesia, apalagi di kota-kota besar. 

Berikut maps dari kampus tempat saya belajar Bahasa Korea menuju Royal Plaza. Jaraknya sekitar 5 km kalau jalan kaki karena bisa memotong jalan dengan lewat jembatan penyebrangan.

Pada tahun 2017 ada data dari Stanford University yang menyatakan dari 46 negara yang diteliti menemukan bahwa Indonesia berada di urutan teratas sebagai “Laziest Walkers in The World”. Indonesia rata-rata berjalan 3513 langkah saja setiap hari yang mana jauh dari rata-rata global yakni 5000 langkah setiap hari.

Selain itu ada data dari jurnal Nature menyatakan bahwa Hongkong menjadi negara paling aktif berjalan kaki dengan rata-rata 6880 langkah setiap hari. Diikuti China 6180 langkah, Ukraina 6107 langkah, Jepang, dan Rusia yang juga masuk 5 besar. 

Data soal Indonesia yang masyarakatnya malas jalan kaki juga menyinggung Jakarta yang digadang sebagai penyebab mengapa Indonesia menjadi negara paling malas jalan kaki. Jakarta sebagai Kota Metropolitan yang dijadikan contoh rupanya masih buruk dalam memfasilitasi pejalan kaki. 

Hanya 7 persen per 4500 mil jalanan di ibukota yang memiliki trotoar yang layak. Tentu hal tersebut berpengaruh pada persepsi masyarakat mengenai jalan kaki. Masyarakat melihat faktor kenyamanan, keamanan, dan efektivitas ketika menggunakan trotoar untuk berjalan kaki. Jika fasilitas publik seperti trotoar saja tidak layak digunakan, ngapain juga jalan kaki?  Budaya jalan kaki di Indonesia masih lemah dan butuh diangkat kembali.

Di tengah hiruk-pikuk transportasi online yang menjamur, budaya jalan kaki menjadi semakin tenggelam dan masyarakat kita cenderung semakin malas untuk berjalan kaki. Padahal jalan kaki adalah aktivitas gratis yang sangat menguntungkan bagi kesehatan dan lingkungan sekitar. Tubuh menjadi lebih sehat dengan bergerak dan berjalan kaki. Stress berkurang serta polusi bisa diminimalisir dengan memanfaatkan kaki untuk bepergian.

Di balik 1001 dampak positifnya, berjalan kaki tidak akan bisa jadi hal yang diminati bila semakin sedikit orang-orang yang mau berjuang untuk menjadi contoh. Anda dan saya bisa memulainya sekarang juga, kapanpun.

Baca Juga Lionel Messi adalah Kita, yang Juga Jengah dengan Buruknya Sebuah Sistem

Cara paling realistis adalah dengan mengajak teman-teman terdekat untuk berjalan kaki jika pergi ke tempat yang tidak terlalu jauh. Dan kalau memang kuat untuk berjalan jauh, pilihlah jalan kaki saja. Dengan begitu kita bisa membawa budaya jalan kaki di Indonesia lebih hidup dan menghilangkan stigma sebagai “Laziest Walkers in The World”.

Tapi bagaimana dengan pemerintah yang tidak memberikan fasilitas layak kepada pejalan kaki? Itu juga salah satu tugas kita sebagai masyarakat. Jika semakin banyak masyarakat yang mau berjalan kaki, trotoar dan media untuk pejalan kaki pasti akan lebih diperhatikan.

Kalian sudah jalan kaki hari ini?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.