Tensi Geopolitik Global yang Memanas, dan Weton Bokir yang Sial!

Geopolitik Global yang Memanas, dan Weton Sial

Tensi Geopolitik Global yang Memanas, dan Weton Bokir yang Sial!

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Andai kesialan weton lahir Bokir mampu menurunkan tensi dunia

Thexandria.com – Seharian kemarin setelah puas mentertawakan weton lahir Bokir, yang dimana wetonnya menurut primbon-primbonan online enggak jelas itu, weton adalah weton yang dipenuhi kesialan, tidak men-sifati alam, dan wajib di ruwat (red: ritual menghilangkan kesialan), perut saya benar-benar seperti dikocok. Tapi untunglah, Bokir buru-buru menolak penjelasan primbon Jawa itu dan beralih ke ramalan umum, zodiak-zodiakan.

Saya yang sedari kemarin-kemarin sebelumnya, serius memelototi laporan-laporan pemberitaan media internasional, dag-dig-dug mengamati apa yang terjadi di Washington dan Beijing, mendadak rileks pasca menari diatas penderitaan Bokir.

Ah, andai kesialan weton lahir Bokir mampu menurunkan tensi dunia dengan membuat Trump dan Xi Jin Ping terpingkal-pingkal juga, tentu tahun kembar ini, 2020 yang diramalkan Nostradamus beratus tahun silam akan diliputi bencana dan ketegangan—tidak akan sesuram seperti sekarang.

Bayangkan saja, pandemi covid-19 belum jelas dimana ujungnya, diliputi saling tuding Amerika dan China, WHO yang juga diberi jari tengah oleh Trump dengan membekukan dana. Kini masing-masing baik Amerika dan China sudah seperti ‘banteng gila’ yang menyeruduk tak karuan kesana-kemari.

China bukannya insecure sehabis negaranya menjadi ground zero covid-19, malah berulah dengan meloloskan UU Keamanan terhadap Hong Kong—yang padahal sebelumnya juga, Hong Kong baru saja melewati demonstrasi besar-besaran mempertahankan ‘demokrasi’.

Akibatnya, UU Keamanan ini akan secara sepihak mengubur sistem 1 negara 2 sistem peninggalan kesepakatan Inggris dengan China pasca kolonial. Amerika meradang, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan resmi bahwa apa yang dilakukan China, adalah kesalahan besar.

Tak berhenti sampai disitu, DPR Amerika ‘membalas’ dengan mengesahkan UU Uighur yang kini tinggal menunggu tanda tangan Trump. UU Uighur yang merujuk pada komunitas muslim China yang mengalami persekusi oleh negara, bisa membuat Amerika menambah sanksi ekonomi terhadap China.

Belum lagi, China juga tengah mengalami ketegangan keamanan perbatasan dengan India. China dilaporkan meng-konsentrasi-kan kekuatan militernya di perbatasan dengan India merespons protes diplomatik dari pemerintah India.

Amerika juga enggak stabil-stabil banget. Didalam negeri, Amerika tengah pusing menghadapi gejolak demonstrasi yang setidaknya terjadi di empat negara bagian Negeri Paman Sam; Minnesota, Atlanta, California, dan Washington. 

Kematian warga kulit hitam George Floyd (46) pada (25/5) lalu, kini merembet menjadi aksi kerusuhan. Trump bahkan dilaporkan sempat dibawa berlindung kedalam bungker saat demo terjadi di Gedung Putih.

China VS America

Apa yang membuat ‘new cold war’ ini semakin tersibak, adalah respon China yang dengan satir menyindir Amerika. Media nasionalis China, Global Times, menulis; “Ketua DPR AS Nancy Pelosi pernah menyebut protes kekerasan di Hong Kong ‘pemandangan yang indah untuk dilihat’ (red: Demo Pro-demokrasi 2019)… Politisi AS sekarang dapat menikmati pemandangan ini dari jendela mereka sendiri,”.

Juru Bicara Kementrian Luar Negeri China, Hua Chunying, tak mau kalah, ia mencuit di akun Twitter pribadinya; “I Can’t Breathe”, yang disertai tangkapan layar cuitan Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus yang mengkritik pemerintah China soal kebijakan terkait masalah Hong Kong.

Hua mengutip kata-kata yang diucapkan George Floyd berulang kali sebelum kematiannya, setelah seorang polisi menekankan lututnya ke leher Floyd hampir sembilan menit.

Trump ngeyel menyalahkan pimpinan-pimpinan negara bagian yang ‘kebetulan’ dari Partai Demokrat, sembari memerintahkan pasukan Garda Nasional mengamankan Amerika dari kerusuhan-kerusuhan yang merebak.

Klimaks di September

Sejujurnya situasi di 2020 ini mengingatkan kita pada era Amerika vs Sovyet, bedanya, bukan Rusia yang sebelumnya diprediksi menjadi lawan hegemoni Amerika, tapi ‘adik ideologis-nya’, China. China rebel abis!

Tapi bagaimanapun, hanya Amerika yang mampu membuat teori domino terjadi. Pun bila kembali ke permasalahan kerusuhan akibat kematian warga kulit hitam AS.

Semangat solidaritas ras yang terjadi di AS, harus dibaca baik oleh pemerintah Indonesia. Jangan lupa, kita punya Papua. Dan rekam pelanggaran HAM di Papua masih terus berlanjut sampai hari ini.

Penumpukan aparat keamanan, yang sedari dulu ditentang oleh para aktivis Papua, bisa saja menjadi ‘bom waktu’ yang serius, atau malah, sangat serius.

Di Papua, sentimen dan semangat ras terus berkobar sejak lama, ini menjadi pelik mengingat banyaknya kepentingan yang terjadi di Papua, dari NGO-NGO yang concern di permasalahan HAM, sampai Amerika sendiri yang punya kepentingan bisnis disana. Demilitarisasi dulu-lah di Papua, selanjutnya pendekatan yang humanis mutlak dilakukan. Jangan sampai kerusuhan di Amerika malah merembet kemana-mana. Ya, karna hanya Amerika yang paling jago menciptakan efek domino.

Balik lagi soal tensi dunia antara Amerika dan China. Banyak analisa bertebaran, jika apa yang terjadi sekarang ini, tensi nya belum apa-apa.

Mengingat Trump yang kembali berhasrat mencalonkan diri, maka September nanti, menjelang Pemilu AS, klimaks tensi geopolitik global akan kemungkinan besar terjadi.

Trump ini dari Partai Republik, yang jika dibandingkan dengan Presiden-presiden dari Partai Demokrat, Presiden dari Partai Republik-lah yang paling banyak mendeklarasikan perang konvensional! Anjir serem!

Laut China Selatan, digadang-gadang akan menjadi battlefield selanjutnya, dengan asumsi, sanksi ekonomi Amerika terhadap China datang bertubi-tubi, dan China tanpa tedeng aling menggalakan pembangunan pulau-pulaunya di Laut China Selatan. Ingat, lho, ya, China dibawah Xi Jin Ping ini rebel, Hong Kong saja, negara proxy-nya barat ‘dihantam’!

Ah kalau sudah begini, saya ingin meminta Bokir mencari tahu weton lahir Trump dan Jinping, sambil berharap weton mereka sama seperti Bokir, weton sial, biar bisa ngguya-ngguyu~

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.