Tenggelamnya Ibukota di Penghujung Hayat dan Salah-Menyalahkan Banjir Awal Tahun

Tenggelamnya Ibukota di Penghujung Hayat dan Salah-Menyalahkan Banjir Awal Tahun

Tenggelamnya Ibukota di Penghujung Hayat dan Salah-Menyalahkan Banjir Awal Tahun

Penulis: Dyas BP | Editor: Adi Perdiana

Awal tahun menjadi sebuah permulaan yang “biru” untuk warga ibu kota dan sekitarnya. Kita tahu bahwa banjir besar terjadi di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek) yang membuat masyarakat mengawali rutinitas dengan sibuk mengungsi dan menyelamatkan diri dari datangnya air sungai yang memenuhi rumah dan jalan-jalan utama.

Jangankan untuk menjalankan resolusi, visi-misi maupun impian di tahun yang baru, bisa mendapatkan tempat ungsian yang layak dan bantuan pangan yang layak saja sudah sangat disyukuri.

Khusus di  DKI Jakarta saja, menurut informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, setidaknya beberapa titik banjir yang ada disinyalir akibat derasnya curah hujan yang terjadi.

Beberapa daerah yang tergenang banjir antara lain, Green Garden, Pluit, Kedoya, Greenville, Marunda, Penjaringan, Mangga Dua, Kampung Melayu, Grogol, Tanjung Duren, Kamal Muara, Kapuk Cengkareng, Pesing, hingga Kelapa Gading.

Fakta ini seolah semakin mendukung beberapa kekhawatiran akan nasib sang Ibukota yang seang berada pada fase akhir hayatnya—di samping beberapa kondisi sudut kota yang sudah memuakkan, banjir dan macet, ibukota juga akan segera menemukan “tuan baru”nya dimana Kalimantan Timur akan menjadi sang ibukota baru.

Kekhawatiran perihal akan tenggelamnya ibukota sudah muncul beberapa tahun lalu, maka tak heran beberapa hasil pencarian di mesin telusur google dengan kata kunci “Jakarta tenggelam” akan menampilkan hasil prediksi tahun 2050 Jakarta akan tenggelam.

Dengan keadaan Jakarta yang semakin tahun mengalami penurunan elevasi tanah, ditambah kecepatan penurunan permukaan tanah mencapai 20 hingga 25 meter per tahun, hingga faktor perubahan iklim maka bukan sesuatu yang mustahil anak cucu kita akan melihat langsung akhir hayat yang kelam dari sang mantan Ibukota.

Dunia juga menyoroti adanya fenomena ini, banyaknya ramalan akan karamnya Jakarta telah dibahas oleh media-media internasional. Tepatnya adalah pada 21 Desember 2017, The New York Times merilis sebuah laporan khusus bertajuk “Jakarta Is Sinking So Fast, It Could End Up Underwater”.

Laporan itu semakin melengkapi sebuah tulisan yang dirilis The Guardian pada tahun sebelumnya, 21 November 2016 yang bertajuk “Jakarta at 30 Million: My City Is Choking and Sinking”. Dari laporan khusus menimbulkan kehkhawatiran akan potensi munculnya sinkhole atau sebuah lubang raksasa di berbagai penjuru kota.

Oleh jurnal Nature Communications edisi 29 Oktober 2019, selain Jakarta, Indonesia, diprediksi ada tujuh negara lainnya di Asia yang akan tenggelam yaitu China, India, Bangladesh, Vietnam, Thailand, Filipina, hingga Jepang.

Ilmuwan-ilmuwan memprediksi akan ada sekitar 300 juta orang Asia yang akan tergenang banjir setiap tahunnya untuk beberapa dekade ke depan. Proses naiknya permukaan air laut ada dua, yakni karena cairnya es di Antartika dan juga memuainya air laut.

Dan juga pada saat ini warga Jakarta mulai banyak melakukan penggalian tanah untuk menyedot air ke dalam tanah. Lanjutnya, cadangan air yang tersimpan di dalam tanah akan habis hingga akhirnya akan menyebabkan permukaan tanah memiliki potensi amblas.

Belum kebiasaan buruk warganya yang masih gemar membuang sampah rumah tangga ke sungai, semakin menjustifikasi bahwa risiko yang diakibatkan oleh perilaku masyarakat juga berdampak besar dibanding faktor perubahan iklim. Dimana perubahan iklim yang normal saja akan membuat permukaan air laut terus naik, apalagi terjadinya perubahan iklim yang esktrem.

Tapi, pada paragraf ini saya sadar, semua adalah kuasa Tuhan, biarkan Tuhan yang berkehendak, manusia hanya mengira-ngira.

Oh, Ibukota, nasibmu di ujung hayat penuh dengan derita..

Air Banjir yang Mencari Empunya

Banjir dan warga Jakarta memang sudah seperti sahabat pena sejak dulu hingga masa kini, karena banjir seakan tak akan pernah berhenti menemani khususnya pada saat musim hujan turun. Pada saat ini, banjir di awal tahun 2020 menjadi salah satu banjir terparah sejak tahun 2016.

Banjir yang terjadi di 17 titik dengan imbas dua korban jiwa ini membuat warganet ramai-ramai mengecam Anies Baswedan ketimbang rama-ramai turun memberikan bantuan langsung kepada para korban banjir. Sang gubernur selain pusing memikirkan banjir air yang datang juga harus sekedar mendengan banjir kritikan dari para para kritikus yang menempatkan Anies sebagai biang kerok permasalahan.

Jika dipantau dari sejarah, pengelolaan DKI sejak era 1966-1977 maka Gubernur Ali Sadikin-lah yang memprakarsai pemanfaatan lahan di beberapa kawasan. Permasalahan mencapai puncaknya pada momen pergantian dan pemilihan gubernur DKI Jakarta dari medio 2012 hingga pilpres 2019.

Karena bagaimanapun, siapapun gubernur Jakarta dan Presiden RI tantangan geologis, kenaikan permukaan laut dan tenggelamnya Jakarta karena ‘dilubangi’ beberapa kawasan lahan merupakan kompleksititas permasalahan yang wajib direncanakan secara preventif dan sistemik.

Pokoknya salah Anies Baswedan. Ban mobil tamiya gue barusan dipasang, tapi udah gembos aja, salah Anies Baswedan juga sih ini.

Hal ini belum ditambah fenomena ‘saling menyalahkan’, yang entah mengapa menimbulkan bermacam variabel terhadap permasalahan banjir kali ini. Mulai dari menyalahkan pola kehidupan warga Jakarta yang masih doyan membuang smapah ke sungai, menyalahkan pemerintah hingga ada yang menyalahkan ‘maksiatnya’ Kota Jakarta pada malam taun baru,

Jika memang menyalahkan pemerintah dan negara merupakan sebuah solusi untuk mengatasi banjir, maka sudah dari dulu banjir tidak akan tercatat di dalam sejarah negeri ini, karena selama itu juga kita terus menyalahkan negara.

Karena pada dasarnya menyalahkan orang lain itu sangat mudah, jika sudah berfikiran bahwa si A yang selalu salah atau bahkan kebencian sudah merasuki, segala hal yang dilakukan orang tersebut akan tetap salah. Dengan menyalahkan tersebutlah seolah tanggung jawab kita akan kepedulian permasalahan sudah selesai dan masalah selesai dengan sendirnya.

Tapi apabila kita sadar diri lagi, banjir ini merupakan salah kita semua.

Bukan cuma kebiasaan buruk buang sampah sembarangan, kebiasaan manusia yang selalu menganggap dirinya “center of the universe” seakan lupa bahwa universe sendirilah yang menjadi center bagi segalanya.

Tindakan bodo amat terhadap permasalahan pra-banjir pun juga wajib disoroti, seperti sikap apatis ketika ada sebuah proyek pembangunan yang AMDAL-nya semrawut merupakan salah satu bentuk egoisme terhadap bumi yang sudah tua ini.

Baca Juga: Tersangka Penyiraman Air Keras yang Juga Melumpuhkan Atensi Kasus Jiwasraya: Drama, Oh Drama

Jika sudah terjadi banjir besar begini, kita pun tak mengingat untuk mengintrospeksi diri bahkan ikut membantu korban banjir—ya walaupun sekedar berdoa dan berkirim donasi. Karena memang akan sangat percuma mencari pelaku utama penyebab banjir kali ini, tidak akan membuat banjir surut dalam semalam.

Ujungnya kita malah sibuk hanyut dalam arus besar bertajuk “saling salah-menyalahkan”.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.