Teman yang Ikut Menjadi Goblok Saat Berkata: “Kenapa Gak Kamu Aja yang Jadi Menteri?”

Teman yang Ikut Menjadi Goblok Saat Berkata Kenapa Gak Kamu Aja yang Jadi Menteri”

Teman yang Ikut Menjadi Goblok Saat Berkata: “Kenapa Gak Kamu Aja yang Jadi Menteri?”

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

“Jika surga dan neraka, tak pernah ada, masihkah kau, bersujud kepada-Nya?”

Kutipan lirik dalam tembang dari Alm.Chrisye ft Ahmad Dhani dengan judul yang sama hingga sekarang tetap menjadi sebuah mahakarya. Bagaimana tidak, jika kita memaknai secara mendalam dan men-dikotomi setiap partisi di liriknya akan menyentuh aspek teologi-antropologi manusia.

Lirik tersebut dinilai cukup kontroversial bagi kalangan agamis, dimana kalangan atheis tak berkorelasi dengan hits tersebut. Asumsi yang lahir adalah bahwa sebagian umat “bersujud” kepada-Nya hanya karena takut akan siksa neraka dan berharap mendapat “hadiah” surga kelak.

Hal itu ditafsirkan sebagai pamrih dalam beribadah yang sangat kontradiktif dengan sifat ikhlas dan tulus diajarkan oleh agama itu sendiri.

Memang dari asumsi tersebut membuat anggapan yang buruk perihal beragama dan beribadah, namun cara seperti itulah yang lebih mudah untuk dipahami oleh manusia. Dan juga, menjadi sebuah renungan dan evaluasi diri untuk meluruskan niat dalam beribadah yaitu hanya tulus untuk-Nya, bukan karena balasan surga atau neraka. Reward and punishment.

Konsepan yang begitu mahal dari lirik tersebut juga sebenarnya bisa kita adopsi ke dalam kehidupan, apapun aktivitas yang kita lakukan. Pun-khusus menjadi panduan bagi para pejabat publik dalam bersikap dan membuat kebijakan. Pejabat publik harus tetap meluruskan niat mereka, bahkan mengerucutkannya menjadi satu poin besar, yaitu tulus melayani kepentingan rakyat—bukan karena berharap “iming-iming” lain dari eksekutif pemerintahan, swasta ataupun partai.

Termasuk kepada para menteri-menteri yang terhormat di singgasananya masing-masing. Walaupun tidak semua menteri bertindak dan berkata nyeleneh, beberapa menteri akhir-akhir ini menciptakan manuver yang dianggap sangat konyol untuk seorang menteri.

Dibuka oleh Menko Polhukam Mahfud MD beberapa waktu silam, yang menyebut bahwa tidak adanya pelanggaran HAM selama masa jabatan Presiden Joko Widodo yang cukup kontroversial. Pernyataan profesor ini terkesan bercanda dan kemudian membuat kawan-kawan kolektif pegiat hak asasi manusia geram.

Apakah beliau sebagai seorang menteri yang menaungi bidang hukum dan keamanan tidak memiliki akses data untuk melihat terjadinya pelanggaran HAM di Papua, pemukulan terhadap mahasiswa saat aksi penolakan RUU-KUHP, hingga kekerasan oleh aparat di penggusuran Tamansari?

Sejujurnya, Profesor Mahfud MD ini merupakan salah satu idola masyarakat dengan track-record beliau saat menjadi ketua Mahkamah Konstitusi. Namun, ya itu, idiom yang mengatakan bahwa “politik dapat mereduksi nilai-nilai baik” barangkali ada benarnya.

Melangkah jauh ke depan, tepatnya saat pandemi Covid-19 masuk hingga melonjak tinggi di Indonesia. Respon dari Menteri Kesehatan, Terawan Agus yang dianggap lamban termasuk saat berstatemen perihal pemakaian masker dan juru bicara yang menuding bahwa orang-orang miskin menjadi penyebar virus Corona merupakan sebuah ironi yang malah menjadi bahan hiburan di tengah kekhawatiran massif.

Sehingga, banyak pihak menilai bahwa sang Menteri Kesehatan sudah sepatutnya untuk mundur dari jabatannya. Jika dilihat dari belum mundurnya beliau hingga saat ini, sepertinya pak Terawan adalah seorang pria sejati dengan prinsip “Seorang pria itu menghadapi masalah, bukan menghindari masalah.” atau seburuk-buruknya beliau tidak tau diri rehat sejenak. Tapi tetap kita percayakan upaya-upaya yang sedang ditempuh oleh beliau. Semangat ya, Pak!

Abnormalitas juga tidak berhenti sampai di situ, tak ingin ketinggalan juga Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut B.Pandjaitan. Beliau mengatakan tetap akan menjalankan proses pemindahan ibu kota negara (IKN) dalam situasi sibuk pencegahan menyebarnya Covid-19.

Kebetulan, beliau juga diamanahi untuk menjadi pengganti sementara Menteri Perhubungan yang masih belum sembuh dari virus Corona. Setelah terbantahnya imortalitas alias keabadian dari Wiranto, kini kemampuan itu pindah ke tangan Luhut B. Pandjaitan; Menteri Semua-semau-nya. Serba bisa. Serba-serbi.

Aktor terakhir yang ikut terjun dalam lubang ke-ngawur-an adalah Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly.

Dear para wanita, jika kalian merasa heran dengan ketidak-konsistenan pria kalian dengan membatalkan kencan secara mendadak hingga ungkapan cinta yang manis di awal saja, itu semua belum seberapa mengherankan dibandingkan dengan inkonsistensi bapak Yasonna Laoly.

Belum hilang dari ingatan saat beliau mengundurkan diri sebagai Menkuham pada periode pertama masa jabatan Presiden Joko Widodo karena beliau terpilih sebagai anggota DPR 2019-2024. Tak lama setelah dilantik menjadi anggota DPR, beliau kembali mengundurkan diri sebagai anggota DPR karena kembali terpilih sebagai Menkuham di periode kedua masa jabatan Presiden Joko Widodo.

What kind of this shit, pak?

Pada situasi pandemi seperti ini, Yasonna Laoly juga mengeluarkan sebuah gagasan-ngawur yang mengherankan banyak pihak. Beliau melemparkan usulan untuk lahirnya sebuah kebijakan pembebasan napi koruptor untuk mencegah penyebaran Covid-19. Orang awam juga faham, kalau di dalam penjara saja akan lebih aman untuk mencegah penyebaran virus Corona.

Proses pembebasan sang napi yang panjang hingga bertemu dengan orang banyak di luar penjara diprediksi malah meningkatkan potensi penularan.

Baca Juga: Saya, Awam yang Berandai-andai: Gelombang Ultrasonik untuk Menghancurkan Virus Corona yang Tak Kasat Mata

Ditambah kabar bahwa pembebasan ditujukan bagi napi koruptor dengan usia 60 ke atas yang sangat rentan kondisi kesehatannya.

Semua sikap nyeleneh di atas, yang kemudian melahirkan umpatan-umpatan kepada para menteri di media sosial dari beberapa teman. Perdebatan para pegiat platform online pun juga tak terhindarkan untuk memeriahkan gerakan di rumah saja. Bahkan, argumen pasrah yang dilepaskan semacam “Kalau kamu lebih hebat dari pak Yasonna, kenapa gak kamu aja yang jadi menteri?” tetap saja ada.

Ya, pernyataan atau pertanyaan semacam itu merupakan sesat berpikir (logical fallacy) apabila meninjau dari studi logika dan filsafat ilmu. Argumen semacam itu menjadi jalan terakhir bagi orang yang tidak lagi menemukan celah untuk menjatuhkan lawan bicaranya—ya, lebih tepatnya goblok dan miskin literasi. Males mikir!

Logical fallacy dari pertanyaan tersebut adalah tidak semua orang mau menjadi menteri, dan juga, logika dan naluri kemanusiaan tidak harus lahir dari seorang menteri saja.

Mayoritas rakyat kecil pun tau apa yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk situasi seperti ini, apalagi untuk seorang menteri. Kebetulan, orang yang diberi amanah dan dipercayai ialah para menteri di atas, yang dianggap cakap dan berkapabilitas lebih.

Lalu, apakah karena posisi saat ini hanya sebagai rakyat, kita tidak boleh menyampaikan gagasan yang seharusnya pemerintah lakukan? Apakah output ruang diskusi tersebut hanya berujung kepada terangkatnya sesorang untuk menjadi menteri hanya karena sikap kritisnya?

Saya pribadi cukup sering mendengar logical fallacy dari lingkungan sekitar. Dengan template yang sudah lazim digunakan dan kebetulan pada saat itu dilontarkan oleh seorang pejabat: “Kalian enak, hidup di zaman teknologi yang sudah maju, segalanya serba mudah.”

Agar tidak terkesan kurang ajar, maka saya hanya membatin dalam hati: “Pak, anda seolah menyalahkan takdir dari Tuhan, bahwa kita dilahirkan pada dua generasi yang berbeda. Saya pun gak bisa nolak ditakdirkan hidup di era informatika. Dan, jika diberi kesempatan memilih, saya mending hidup pada era perang dunia ke-2, bergabung dengan Waffen-SS, kemudian bersahabat baik dengan Otto Skorzeny, pak..”

Selamat datang di negeri kita yang asiq; Presidennya bingung, Menkes hilang, Menko-Maritim rasa presiden, Menteri-hukum ngusulin bebasin napi koruptor, Wapresnya hehe-hehe.

Eh, teman ber-argumen malah disuruh jadi menteri.

Tolol, gan. Eh, maksudnya, cendol gan..

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.