“Tanpa Indomie, Hidup Adalah Sebuah Kesalahan”

Tanpa Indomie, Hidup Adalah Sebuah Kesalahan

“Tanpa Indomie, Hidup Adalah Sebuah Kesalahan”

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Sebuah judul dari sitiran kalimat, Friedrich Nietzsche. Bukan bermaksud untuk hiperbola, namun, begitulah kenyataannya.

Buat masyarakat Indonesia khususnya, Indomie tak ubahnya sebuah oasis dikala dompet sedang krisis. Ataupun, dikala lapar kentang (red: antara benar-benar lapar dan tidak), Indomie menjadi santapan praktis yang tak akan pernah mengecewakan.

Buat yang bawel soal kesehatan, ingatlah, dimana-mana, sesuatu yang berlebih sudah pasti tidak sehat. Jadi, selama sesuai porsi dan lagi BM? Indomie adalah kunci!

Dibalik kelezatannya, Indomie juga turut serta andil dalam sebuah pencapaian heroik kepada bangsa, jadi, kita patut membusungkan dada.

Baru-baru ini, Indomie memenangi peringkat ramen instan terbaik versi harian asal Amerika Serikat, LA Times.

“Menempatkan Indomie sebagai juara sebenarnya curang, karena Indomie lebih tepat disebut sebagai mi instan daripada ramen,” tulis food columnist Lucas Kwan Peterson di LA Times.

Namun, ia tak peduli. Sebab, menurut Peterson, Indomie sangat enak.

Peterson menyebutkan, ketika Indomie ayam panggang beserta bumbu-bumbunya bersatu, mereka memberikan sensasi rasa surgawi.

Sebenarnya bukan berita lama kalau mi instan merek Indomie digadang-gadang sebagai yang terbaik di dunia. Di tahun 2017, Ramen Rater pernah menobatkan mi goreng kari Indomie menjadi mi instan terenak di dunia.

Lucas Kwan Peterson, food columnist yang mengerjakan reportase untuk L.A. Times Instant Ramen Power Rankings ini.

Dilansir L.A. Times, Lucas mengungkap bahwa ia mempertimbangkan ranking ini dari dua hal; rasa minya dan kesesuaian tampilan asli dengan iklannya. Sementara itu, sebenarnya fokus ranking ini adalah ramen instan, namun Lucas memasukkan Indomie dalam kategori ini.

“Apakah ramen udang terasa seperti udang? Apakah rasa ayam terasa seperti ayam? Untuk peringkat ini, saya menderita; tekanan darah meningkat sekitar tiga kali lipat. Tetapi saya melakukan ini untuk Anda, pembaca yang budiman. Dan untuk J-besar: Jurnalisme,” tulisnya.

Disisi laim, Lucas juga menuliskan bahwa salah satu kemungkinan kelemahan Indomie ini adalah rasanya agak terlalu manis.

“Saus cabai memberikan sedikit panas, dan tekstur bawang renyah benar-benar di atasnya. Could and would eat daily,” tulisnya.

Di posisi kedua dan selanjutnya ada MyKuali (Penang White Curry), Nongshim Shin (Black), Sapporo Ichiban (Tokyo Chicken Momosan), Ibumie Mi Goreng (Curry Kapitan), Myojo Chukazanmai (Soy Sauce), MyKuali (Penang Spicy Prawn), Mama (Shrimp Creamy Tom Yum), dan yang ke-10 ada Indomie goreng.

Saham yang Ikut Melonjak

Selain itu, harga saham PT Indoofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang memproduksi indomie, diapresiasi investor pada perdagangan baru-baru ini, Senin (11/11/2019). Saham ICBP menjadi sorotan dan terkena dampak positif dari keberhasilan indomie disematkan sebagai ramen atau mie instan terenak di dunia.

Data perdagangan mencatat, harga saham ICBP tercatat naik 1,11% ke level Rp 11.400/saham, volume perdagangan saham mencapai 197,5 ribu unit senilai Rp 2,25 miliar.

Kinerja saham ICBP bisa dibilang cukup defensif, selama tahun berjalan masih bisa naik 9,09%, saat bursa saham domestik mengalami tekanan.

Kembali ke topik penobatan Indomie. Untuk Indomie Mie Goreng original, Peterson menceritakan bahwa ketenaran Indomie bisa membuat orang Nigeria tergila-gila, hingga mengganti kata ‘mi instan’ menjadi ‘Indomie’.

“Indomie diperkenalkan ke Afrika Barat pada tahun 80-an dan menjadi sangat populer sehingga membuka pabrik produksi di sana pada tahun 1995. Walaupun ada lebih dari selusin merek mie instan di Nigeria, Indomie mendominasi dengan penguasaan pasar 74%,” papar Peterson.

Indomie “Menjajah” Nigeria

Indomie mulai masuk ke Nigeria pada tahun 1988. Saat itu Indomie sama sekali tak punya saingan produk sejenis. Walau begitu, Indomie tak langsung laris kala itu, bahkan pada awalnya produk ini dipandang sebagai makanan yang asing bagi warga Nigeria lantaran produk mi instan belum begitu dikenal.

Seperti paparan Peterson, sangking populernya Indomie, sampai-sampai Indomie menjadi kata ganti untuk mi instan di negeri itu. Padahal saat ini di Nigeria saingan Indomie sudah cukup banyak. Jumlahnya kira-kira lebih dari 10 produk.

Dan Indomie menjelma menjadi makanan pokok kedua bagi Nigeria. Sama seperti Indonesia, nasi juga menjadi makanan pokok pertama orang Nigeria. Namun Indomie bisa menguntit di belakangnya karna salah satu alasan utamanya adalah soal harga.

Apalagi pada tahun 2015-an lalu, ketika krisis ekonomi memukul Nigeria, masyarakat di sana kesulitan untuk membeli nasi yang harganya melambung tinggi. Jadi ketimbang membeli nasi atau makanan karbohidrat utama lainnya seperti roti, warga Nigeria pun banyak yang berpaling kepada Indomie, yang selain rasanya yang enak, harganya juga jauh lebih murah ketimbang dua makanan tersebut.

Baca Juga: Gue Menemukan Esensi dari Sensasi Menuju Pernikahan, Yaitu; Sunat!

Sejarah Indomie

Mengutip dari laman resmi Indomie, kala itu mi instan pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia di tahun 1969, banyak yang meragukan bahwa mi instan dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pangan pokok.

Akan tetapi, karena mi instan sendiri harganya relatif terjangkau, mudah disajikan dan awet, Indomie berkembang pesat seiring dengan diterimanya mi instan di Indonesia.

Produk Indomie yang pertama kali diperkenalkan adalah Indomie Kuah Rasa Kaldu Ayam yang saat itu sesuai dengan selera lidah masyarakat Indonesia. Kemudian pada tahun 1982, penjualan produk Indomie mengalami peningkatan yang sangat signifikan dengan diluncurkannya varian Indomie Kuah Rasa Kari Ayam.

Puncaknya pada tahun 1983, Produk Indomie kembali semakin digemari oleh masyarakat Indonesia dengan diluncurkannya varian Indomie Mi Goreng.

Terlepas dari semuannya, ada satu jenis penikmat Indomie yang acapkali dianggap sebagai “penoda kenikmatan Indomie”, mereka adalah; orang-orang yang memakan Indomie goreng dengan kuah.

Serius, mau tanya, ada apa sih, dengan kalian?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.