Takkan Lagi Kita Pergi Jauh Melangkah, Nikmatilah Lara

Takkan Lagi Kita Pergi Jauh Melangkah, Nikmatilah Lara

Takkan Lagi Kita Pergi Jauh Melangkah, Nikmatilah Lara

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Beribu masalah kerap hadir disela-sela tawa. Ada sekelumit hitam yang membuat kita berada di ambang batas pengetahuan.

Kau bisa saja menghabiskan pagi dengan secangkir teh dan buku, lalu di sore hari, kau pergi keluar untuk mencari udara segar, malamnya, kau membagi cerita dan lelucon dengan banyak teman. Dan di tengah malam, tentu kau juga bisa menangis sendiri tanpa mengerti apa yang terjadi. Blank space.

Entah bagaimana semua ini bermula, tapi kenyataanya, lingkungan sosial boleh jadi menjadi semacam ‘para pembunuh ulung’.

Atas nama sebuah arus, menolak untuk ikut terhanyut bisa menjadi sebuah pilihan yang sulit, sebuah dekadensi, gugurnya independensi.

Lingkungan sosial kerap memberi sinyal-sinyal penolakan baik secara tersirat atau yang gamblang sekalipun. Dan ketika semua orang menjadi hakim, kita tak ubahnya seorang terdakwa di kursi pesakitan.

Kau dituntut untuk ini, untuk itu, untuk begini, untuk begitu. Pupuslah kesejatian sebagai makhluk yang apa adanya.

Bila kau ingin hidup, kau harus menerima kenyataan sosial, membaur, dan yang lebih parah, menjadi palsu. Agar semata seragam. Bodoh.

Saya mengerti betul, manusia sebagai makhluk sosial–tidak dapat hidup sendiri.

Lalu dimana letak salah menjadi sendiri? Tidak ada. Yang ada hanyalah kesepian akut yang menggerogoti jantung sampai ke hati.

Ada perbedaan besar di sini, antara sendiri dengan kesepian.

Keberadaan lingkungan yang membunuh dan sistemik, adalah pemantik bagi perasaan ditinggalkan. Banyak yang bilang, hidup bukan perkara kompetisi. Namun sayang, contoh empirik dimana-mana, alur pembahasan seakan meng-anti tesa pernyataan tadi.

Di banyak scene, semua orang dapat dengan mudah bertanya tanpa bermaksud berempati, namun lebih kepada membangun narasi komparatif.

Contohnya begini,

“Kerja dimana sekarang? Gede gajinya?”

“Alah paling basic pendapatanya.”

“Kenapa resign? Susah loh diterima di perusahaan itu!”

“Nikahlah, umur kamu sudah setua ini.”

“Sendiri mulu, cari pasangan gih.”

“Kapan mati?”

Dan lain-lain.

Memang pada dasarnya, pergaulan dan kacamata kebahagiaan acapkali dipatok pada materi. Saling berbangga dan menuding satu antar lain. Lalu apa salah, bila akibat dari proses sosial yang kadangkala menjijikan ini, beberapa orang memilih untuk menjadi sendiri? Kemudian, dibunuh sepi?

Kita Lebih Kuat Dari Ini

Yang kadang sulit sekali kita pahami adalah kekuatan kita sendiri. Kita seringkali terjebak pada inferior sesaat. Kenapa saya bilang sesaat? Seiring berjalannya waktu, tentu kau bisa terbangun di pagi hari, dengan paksaan atau tidak. Kau tetap mandi, berganti baju, sarapan, dan kembali menjalani hidup.

Meskipun ditengah kebangkitan yang malas. Proses keterpaksaan justru malah membuat kita menyadari satu hal, kita masih bernafas. Masih hidup.

Jam yang terus berputar, menandakan keterjebakan akan keterpurukan, bisa luntur tanpa perlu kita mengerti.

Ditengah penerimaan yang berangsur-angsur kepada diri sendiri, tanpa sadar, lebih ke arah lupa. Persoalan berikutnya datang. Dan lihat! Kau telah berjalan sejauh ini, masalah sebelumnya, menguap karna jam dinding bersumpah sebagai saksi.

Maka terbukalah tabir yang kemarin. Kita dibenturkan dengan permasalahan yang lalu, agar siap menghadapi permasalahan sekarang.

Baca Juga: Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam (3)

Kau boleh percaya atau tidak, namun problema, cenderung selalu linier dengan usia.

Apa permasalahan terbesarmu ketika masih SD? Matematika.

Apa permasalahan terbesarmu ketika SMP? Matematika.

Apa permasalahan terbesarmu ketika SMA? Cinta monyet.

Apa permasalahan terbesarmu ketika kuliah? Studi kawasan, fisika kuantum, hukum perdata dan pidana, antropologi, dan skripsi.

Apa permasalahan terbesarmu ketika masuk di dunia kerja? More complicated.

See?

Saya mencoba mengambil contoh kasus secara general, tanpa menafikan bahwa masih banyak variable-variable permasalahan unik lainnya.

Ujung tulisan kali ini, akan bermuara kepada sebuah advice, atau lebih bijak, kita menyebutnya sharing. Karna apa? Sharing is shit caring.

Temanku yang sedang kikuk, bersedih, berbahagia, kecewa, ataupun yang sedang berkontemplasi.

Ketahuilah bahwa memang kita tak selemah itu. Belum pernah ada makhluk yang semerdeka manusia. Maka camkanlah dalam benakmu, menjadi yang ternista bukanlah sebuah kiamat, dan sebaliknya, sekalipun jubah putih yang kau kenakan, semesta tak semerta-merta mengasihi.

Cobalah untuk percaya, sekali saja, kepada hati kita sendiri. Jika memang rapuh adalah sebuah keniscayaan, maka menjadi lebih kuat bukan sekedar bualan.

Seperti yin dan yang, kita hidup karna Dharma dan Karma. Putih dan Hitam. Baik dan buruk. Meninggalkan atau ditinggalkan.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.