Surga Duniaku

Surga Duniaku

Surga Duniaku

Penulis Mila Rahmawati | Editor Rizaldi Dolly

Inilah aku. Rasih, gadis kecil berusia 10 tahun yang tinggal di gubuk kumuh di sebuah desa. Aku hanya tinggal sebatang kara. Saat aku berumur 8 tahun, Ayah membunuh Ibu di depan mataku. Aku menangis, aku berlari di tengah hujan. Dengan nekad, aku memberitahu warga desa tentang pembunuhan itu. Warga desa pun memukuli Ayah, hingga akhirnya Ayah terbunuh.

Dan inilah kehidupan baruku. Ya, memang sepi rasanya hidup tanpa belaian kasih sayang orang tua. Kini, aku harus bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Aku mencari uang dengan menjadi pedagang kue keliling. Dan pada suatu saat dimana daganganku tidak laku, aku pun tidak makan. Yang aku pikirkan hanya bagaimana caranya untuk berdagang esok hari. Lagi pula, bagaimana caranya aku bisa makan jika aku tidak punya uang? Karena habis pikir, aku pun menghutang di warung langgananku.

Hari ini aku berdagang kue kembali. Sama seperti kemarin, daganganku tidak satu pun yang terjual. Aku pun menghutang lagi di warung, sama seperti kemarin. Kerugian ini sudah tiga bulan terjadi.

Akhirnya, Bibi yang memiliki warung pun menagih hutangku.

    “Ini sudah tiga bulan! Cepat bayar hutang-hutangmu yang kemarin!” bentak Bibi itu.

    “Maaf Bi, akhir-akhir ini dagangan Saya tidak laku.

Jawabku dengan kepala menunduk.

    “Saya tidak mau tau, kalau besok pagi kamu tidak membayar hutang-hutangmu, kamu akan rasakan akibatnya!” bentak Bibi itu lagi.

    “Iya Bi, Saya usahakan besok pagi Saya akan membayar hutang-hutang Saya,” jawabku dengan kepala yang masih menunduk.

Aku pun bingung, bagaimana caranya agar esok pagi aku dapat membayar hutang-hutangku. Sedangkan aku saja tidak memiliki uang untuk membeli bahan kue. Hatiku pun terus bertanya-tanya. Karena kelelahan berpikir, aku pun tertidur lelap.

    “Nah! Ini rumah anak yang sering menghutang di warung Saya!

Teriakan Bibi warung dengan rombongan warga desa.

Mendengar keributan itu, aku pun langsung terbangun. Saat membuka pintu, aku terkejut melihat para rombongan warga desa.

    “Mana! Cepat bayar hutangmu!”

Bentak Bibi itu dengan mata melotot.

    “Maaf Bi, Saya masih tidak punya uang,” jawabku takut.

Mendengar jawabanku sontak Bibi itu pun murka.

     “Alasanmu itu banyak sekali! Ayo ibu-ibu, bapak-bapak, kita lempar saja anak itu ke danau!” Seru Bibi itu.

Aku pun takut, aku berlari. Namun warga desa berhasil menangkapku. Akhirnya aku pun di lempar ke danau.

     “Rasakan itu!” Ucap Bibi pemilik warung.

Aku pun beranjak dari danau  itu. Aku pergi ke kota, untuk mencari pekerjaan. Karena kelelahan, aku pun beristirahat di bawah pohon dekat mall di kota.

    “Aku lapar, aku haus, aku ingin makan sesuatu,” batinku.

Tiba-tiba, aku mendengar suara. Ada yang berteriak.

    “Awas! Minggir!”

Ucap seorang kakak laki-laki dengan mengendarai sepeda yang tak terkendali. Kakak itu pun menabrakku. Sehingga aku tidak sadarkan diri. Saat kubuka mataku, aku melihat sebuah ruangan yang luas dan megah bagai istana.

    “Dimana aku?”

Tanyaku kepada kakak laki-laki di hadapanku. Aku masih mengingatnya. Dia yang menabrakku tadi.

    “Kamu sedang berada di rumahku,” jawabnya lembut.

Aku pun terbelalak.

    “Aku harus pergi, aku harus mencari pekerjaan untuk membayar hutang-hutangku,” ucapku tergesa-gesa.

Dia pun sama terkejutnya melihatku yang bertingkah panik.

    “Jadi kau punya hutang? Ini ambil lah uang ini untuk membayar hutangmu, dan sebagai ganti karna aku telah menabrakmu tadi,” ucapnya dengan memberikan uang yang sepertinya sudah ia siapkan saat aku tidak sadarkan diri kepadaku.

Aku menolak.

    “Tidak perlu, aku bisa bekerja sendiri, lagi pula aku tidak apa-apa, kau tidak perlu menggantinya,” jawabku.

Bukan tanpa alasan aku menolak uang itu. Entah lah, hanya saja aku sedikit menghawatirkan uang itu. Aku takut jika uang ini malah akan menambah masalahku. Apalagi uang itu diberikan oleh orang kota. Yang kutahu, kehidupan kota itu kan begitu mengejamkan.

    “Tak apa, terimalah uang ini. Dan sepertinya kau harus menginap disini, hari sudah malam,” sarannya.

    “Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri,” aku menolak.

Wajahnya memelas.

    “Ayolah, anggap saja ini permintaan maaf,” bujuknya lagi.

Melihat raut wajah dan sinar matanya. Aku tidak yakin bahwa dia orang jahat. Aku rasa dia sungguh melakukannya karna merasa bersalah.

    “Emm… baiklah, aku menerima tawaranmu,” jawabku menerima.

Keesokan harinya, aku pun kembali ke desa. Pertama, aku membayar hutangku terlebih dahulu. Lalu aku membeli bahan kue. Kali ini aku berdagang kue di kota. Pertama-tama aku mengunjungi rumah kakak laki-laki yang menabrakku.

Kakak itu pun membukakan pintu.

    “Kakak, ini kue dariku sebagai tanda terimakasih karna kau telah membantuku untuk membayar hutang-hutangku,” ucapku.

Dia tersenyum.

     “Tidak perlu repot-repot, kau jual saja kue-kuemu itu. Dan jika kau memperbolehkan, aku ingin membantumu berjualan,” jawabnya.

Aku tersenyum lebar.

    “Benarkah? Tentu saja boleh,” jawabku gembira.

    “Baiklah, ayo kita mulai berjualan,” ajaknya.

Aku menghentikannya. “Tunggu sebentar, aku belum tau nama kakak, boleh aku tau nama kakak?” Ucapku menahan.

Dia menatapku.

   “Namaku Ricky, siapa namamu?” Tanyanya kembali.

Aku balik menatapnya.

   “Namaku Rasih.” Jawabku.

   “Jadi, tunggu apa lagi? Ayo kita berjualan!” Serunya.

Berdagang hari ini terasa berbeda dari biasanya, karena ditemani Kak Ricky. Tak sepi lagi, selama berjualan kami tertawa lepas dan saling bertukar cerita.

Usai berjualan, kami kembali ke rumah Kak Ricky. Aku pun menghitung jumlah pendapatan hari ini.

    “Wah, pendapatan berdagang hari ini banyak sekali,” ucapku sangat gembira.

Saat aku menghitung uang, aku membagi uang itu sama rata.

   “Kakak, ini untukmu,” ucapku sambil memberikan sebagian uang pendapatan tadi kepada Kak Ricky.

Dia menolak.

  “Tak apa, kau ambil saja uang ini. Ini adalah uangmu bukan uangku,” ucap Kak Ricky menolak uang tersebut.

  “Baiklah, kalau begitu aku pulang ya kak,” ucapku.

Dengan tiba-tiba Kak Ricky menarik tanganku.

  “Rasih, Mama ingin sekali mempunyai anak perempuan, jika Mama setuju, apakah kau mau menjadi anak Mama dan menjadi adikku?” Tanyanya.

   “Jangan terburu-buru Kak, pertemukan aku dulu dengan mamanya kakak,” jawabku sambil melepas genggaman Kak Ricky dan pergi.

Sudah satu bulan aku tidak berdagang ke kota lagi. Namun, karena rindu yang tak tertahan kepada Kak Ricky, aku pun kembali ke kota.

Saat mengetuk pintu rumah Kak Ricky, malah seorang tante cantik yang membukakan pintu.

    “Maaf, Saya mencari Kak Ricky,” ucapku.

    “Kamu pasti Rasih ya? Gadis kecil yang diceritakan sama Ricky?” Tanya tante itu.

Aku terkejut.

   “Jadi Kak Ricky sering bercerita tentang Saya kepada tante? Kalau boleh tau, tante ini siapa yah?” Tanyaku.

   “Saya mamanya Ricky,” jawabnya.

   “Ohh, jadi tante mamanya Kak Ricky. Emm… tante, Kak Rickynya mana ya? Tanyaku lagi.

   “Oh Ricky? Sebentar ya, tante panggil dulu,” jawabnya.

   “Oh iya tante,” ucapku.

Tante itu pun mempersilahkanku masuk dan menunggu di dalam seraya ia memanggilkan Kak Ricky. Tak lama kemudian, mereka berdua kembali.

    “Jadi langsung ke pembahasan aja yah,” ucap Kak Ricky dengan wajah semangat.

Aku heran.

    “Pembahasan apa ya kak?” Tanyaku.

    “Jadi, tante ini ingin mengangkat kamu menjadi anak tante. Gimana? Kamu bersedia?” Ucap mamanya Kak Ricky.

Baca Juga: Menangkap Pelangi

Aku bingung.

   “Emm… gimana ya tante, walaupun orangtuaku sudah meninggal, tapi kan aku tetap anak mereka. Gimana kalau aku hanya memanggil tante dengan sebutan “mama” saja?” Usulku.

Ia tersenyum.

   “Baiklah, tante mengerti. Tapi kamu mau kan tinggal disini?” Tanyanya lagi.

   “Tapi bagaimana dengan gubuk Saya tante?” Tanyaku.

   “Tenang, kamu tinggal disini, bukan berarti kamu harus meninggalkan tempat tinggalmu di desa. Kita akan tetap mengunjungi tempat tinggalmu di desa,” ucapnya meyakinkanku.

Aku tersenyum haru.

  “Baiklah, tapi aku harus mengambil barang-barangku dulu di gubuk.” Ucapku.

  “Baiklah, besok kita ke desa. Sekarang, kamu istirahat dulu ya,” ucapnya lagi.

Keesokan harinya, aku beserta keluarga baruku pergi ke desa, tempat aku tinggal dulu. Tak seperti biasanya, warga desa menyambut kedatanganku.

Tak lama aku mengambil barang-barangku di gubuk, aku beserta keluargaku pun kembali ke kota. Sesampainya di rumah, Mama mengajakku dan Kak Ricky berkeliling kota. Aku pun sangat senang. Apa yang kubutuhkan, kini terpenuhi semua. Walaupun aku sebenarnya lebih senang saat dulu aku memenuhi segala kebutuhan dengan hasil kerja kerasku sendiri.

Beberapa bulan kemudian, aku rindu kembali dengan gubuk di desa. Aku ingin berkunjung lagi ke desa. Mama pun memenuhi permintaanku untuk berkunjung ke desa.

Hari pun mulai malam, aku keluar dan duduk di luar gubuk. Ku lihat bintang-bintang yang bertaburan di langit. Pikirku pun melayang. Ku ingat kenangan saat aku masih bersama Ayah dan Ibu. Kenangan yang samar namun sangat melekat.

   “Ayah, Ibu, sekarang Rasih sudah memiliki keluarga baru. Rasih sangat senang. Pasti Ayah dan Ibu juga senang di sana,” batinku.

Akhirnya terciptalah sebuah keluarga baru. Kini, telah ku temukan sebuah surga duniaku.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.