Surat “Cinta” Bos Djarum untuk Istana dan Kehadiran Mbah Tedjo sebagai Kritikus Cinta

Surat Budi Hartono ke Presiden

Surat “Cinta” Bos Djarum untuk Istana dan Kehadiran Mbah Tedjo sebagai Kritikus Cinta

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Dyas BP

Surat “cinta” Budi Hartono, setidaknya berisikan empat poin.

Thexandria.com – Sebenarnya, penulis sendiri lumayan bosan memulai paragraf dengan embel-embel Covid-19—tapi, ya, mau bagaimana lagi, Covid-19-nya sendiri memang masih betah-betah aja, dan tidak jenuh sama sekali menghiasi belantika media dunia dan Indonesia.

DKI Jakarta, baru saja menarik “rem daruratnya”, yang berarti, PSBB yang belakangan sudah mulai longgar, kembali diberlakukan dengan ketat.

Adalah Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang dalam keterangan resminya, mengungkapkan adanya urgensi, sehingga istilah “rem darurat” ia gunakan.

Baca Juga Kata “Anjay” yang Tak Salah dan Budaya Tongkrongan yang Harus Dimengerti

Apakah keputusan Anies menimbulkan pro dan kontra? Ya, jelas, dong. Kan para pejabat kita sangat mementingkan sektor politik kesehatan dan ekonomi diatas segala-galanya. Mimpi, boleh, kan? Becanda. Hehe.

Tercatat mulai dari politisi, kepala daerah, hingga Menko Perekonomian Airlangga, mengkritisi langkah yang diambil Anies Baswedan. Bukan tanpa dasar, melainkan memang, akibat kebijakan penerapan kembali PSBB di DKI Jakarta, IHSG sempat terjun bebas 5,01% ke level 4.891,46.

Namun syukurlah, IHSG pada Senin (14/9/20) dibuka terbang 0,86% di level 5.060,02. Selang 5 menit kenaikan IHSG semakin tinggi yakni 2,02% di level 5.118,59. Hal tersebut dikarenakan PSBB yang dijalankan Anies,

dari yang awalnya ingin PSBB total, kemudian menjadi PSBB ketat. Turun satu level.

Apakah semuanya kebetulan? Tentu tidak. Thexandria mencatat, setidaknya ada dua faktor yang mengakibatkan IHSG membaik dan mengendurnya kebijakan PSBB Anies.

Pertama, kritik yang bermunculan mulai dari jajaran kabinet hingga Presiden yang “meluruskan” kebijakan Anies.

Faktor kedua, adalah faktor luck. Kok beruntung? Karena Indonesia ternyata masih memiliki orang super kaya yang tidak sungkan mengirim surat “cinta” untuk Starla Istana, sebagai bentuk ungkapan rasa cintanya pada Negara. So sweet.

Surat Cinta untuk Istana

Budi Hartono

Istana Negara, tempat kediaman dan juga kantor resmi Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Mungkin sekarang sedang tersipu malu, pipi memerah, dan jantung yang dag-dig-dug-anjay.

Karena baru saja mendapat surat “cinta” dari orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan Rp 277,83 triliun versi majalah Forbes. Budi Hartono.

Sebetulnya, publik tak perlu heran mengapa seorang Budi Hartono, sampai harus mengirimi surat “cintanya” kepada Presiden. Sebab, Budi Hartono memang sedari dulu dikenal sebagai sosok filantropis yang gemar mendermakan hartanya. Terbukti dari didirikannya Djarum Foundation dll.

Baca Juga Sudah Saatnya Kita Meninggalkan Jokes “Abang Tukang Bakso, Bawa Walkie Talkie”

Kenapa thexandria katakan surat yang diberikan kepada istana adalah surat “cinta”? Bukan surat protes, komplain, atau yang lain?

Karena, Corporate Communication PT Djarum Budi Darmawan memastikan surat bosnya, Budi Hartono, kepada Presiden Joko Widodo, soal pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tak ada kaitannya dengan kondisi bisnis perusahaan di masa pandemi. Dia mengatakan surat itu murni merupakan pemikiran Budi Hartono sebagai warga negara tanpa embel-embel bisnis.

See? Tanpa embel-embel bisnis. Murni sebagai seseorang yang mencinta.

“Pak Budi Hartono sebagai warga negara ingin berkontribusi. Dia kan juga praktisi bisnis yang ingin memberikan kontribusi dengan solusi. Enggak ada hubungannya dengan kondisi perusahaan,” ujar jubir PT Djarum, melansir dari Tempo pada Senin, 14 September 2020.

Surat “cinta” Budi Hartono kepada Presiden, dikirimkan pada Jumat, 11 September 2020, atau sehari setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan rencana penerapan PSBB penuh. Tempo menulis, surat itu dilayangkan melalui perantara yang tak dijelaskan identitas jelasnya.

Adapun surat “cinta” Budi Hartono, setidaknya berisikan empat poin:

Pertama, penegakan aturan dan sanksi-sanksi atas tidak ketidaksiplinan sebagian kecil masyarakat dalam kondisi new normal merupakan tugas daerah. Dalam hal ini, Gubernur DKI Jakarta.

Baca Juga Badan Intelijen Negara yang Kian Militeristik dan Bikin Gak Asik

Kedua, Budi Hartono mengatakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus bersama-sama meningkatkan kapasitas isolasi masyarakat, misalnya dengan kontainer ber-AC di tanah kosong.

Ketiga, Budi Hartono meminta pemerintah melaksanakan tugas dalam hal testing, isolasi, tracing, dan treatment.

Keempat, perekonomian tetap harus dijaga sehingga aktivitas masyarakat yang menjadi motor perekonomian dapat terus dijaga kesinambungannya.

Budi Hartono juga berpendapat pemberlakuan PSBB di DKI Jakarta sudah terbukti tak efektif. Hal ini terlihat dari masih terus naiknya tingkat pertumbuhan kasus Covid-19.

Budi Hartono menyebutkan pula, sejumlah hasil riset beberapa lembaga survei yang menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat tidak ingin PSBB kembali diberlakukan. “Masyarakat lebih takut kehilangan pekerjaan dan pendapatan serta kelaparan daripada ancaman penularan Covid-19,” katanya.

`Jangan tanya disuratnya apakah terdapat ikon love, ya!

Mbah Tedjo sebagai Kritikus Cinta

Mbah Tedjo sebagai Kritikus Cinta
Twitt Mbah Tedjo

Ditengah asyik-asyiknya masyarakat menonton serial drama “cinta” antara, Bos Djarum dan Istana.

Munculah mbah Tedjo, alias Sudjiwo Tedjo. Jangan salah, mbah Tedjo juga bukan orang sembarangan. Jika alur cerita sejauh ini hanya sebatas Presiden Republik Indonesia dan orang terkaya di Indonesia, mbah Tedjo muncul untuk memberi “konflik” bumbu-bumbu asmara yang membuat lebih bergelora—sebagai, Presiden, mandatoris, panglima tertinggi Republik Jancukers! Luar biasa mbah Tedjo.

Mbah Tedjo melihat adanya gap. Sebagai seorang pimpinan tertinggi di Republik Jancukers—dan juga sebagai kritikus cinta. Mbah Tedjo memberikan kejujuran yang lain, bahwa yang mencintai Istana, bukan hanya orang terkaya di Indonesia.

Baca Juga Pembelaan Kepada Provinsi Sumatera Barat Melalui Anabel (Analisa Gembel)

Ada “orang lain” yang telah lama memendam cintanya. Yang entah mengapa, mungkin kesulitan akses atau memang malu. Urung memberikan “surat” cintanya pada Istana.

Dan konsekuensi sebagai kritikus cinta, maka mbah Tedjo mengedepankan adab diatas segalanya. Alih-alih blak-blakan, mbah Tedjo justru memberikan sebuah saran halus nan elegan.

Usul:

Surat perihal pandemi kepada Presiden Jokowi dari orang terkaya Indonesia baiknya diaplot sanding dengan surat serupa dari orang termiskin Indonesia.

Netizen mencari titik tengah kedua surat.

Itulah kebijakan yang perlu diambil oleh Presiden.

Begitulah bunyi saran mbah Tedjo, yang ia cuit di akun Twitter pribadinya.

Ah, djancuk. Cinta memang ruwet.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.