Sudah Saatnya Kita Meninggalkan Jokes “Abang Tukang Bakso, Bawa Walkie Talkie”

Jokes Abang Tukang Bakso bawa Walkie Talkie

Sudah Saatnya Kita Meninggalkan Jokes “Abang Tukang Bakso, Bawa Walkie Talkie”

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Kijang1, ganti, target hate speech lagi santai ngerokok sambil minum kopi~

Thexandria.com – Banyak cara untuk merelaksasi pikiran dari hiruk pikuk rutinitas yang melelahkan. Salah satunya adalah sejenak mengintip apakah ada lagi ‘keributan’ yang menjadi pembahasan para warganet.

Beberapa fenomena juga menghasilkan diskursus lebih lanjut yang terkadang menampakkan sudut pandang lain yang menarik. Pembahasan suatu topik terkadang juga tak luput dari respon jenaka yang bertujuan untuk mencairkan suasana.

Salah satu kelakar yang saat ini laris disodorkan adalah: “Abang tukang bakso, bawa walkie talkie, kijang satu ganti.” Tentu sebagai kaum yang tak bisa lepas dari ponsel pintar, hal ini sudah sering ditemui dan bahkan menjadi normalisasi tersendiri dalam ruang ‘digital jokes’.

Baca Juga Nyinyirnya Bu Tejo yang Tak Sepenuhnya Salah

Modifikasi yang dilakukan dalam lirik lagu anak berjudul “Abang Tukang Bakso” ini sangat terstruktur—entah mengapa pengucapan dan nada saat lagu dinyanyikan juga sangat pas.

Kelakar atau jokes ini kerap dipakai untuk merespon sebuah pendapat yang memiliki kecenderungan ‘menyentil’ seorang tokoh politik atau sebuah instansi. Sedang maksud dari lirik ini ibarat memberikan ‘alarm’ bahwa setelah menyampaikan ‘sentilan’ tadi, akan ada pengawasan dari orang yang tak dikenal di depan rumah. Orang tersebut biasa diidentikan dengan seorang aparatur intelijen, wabil khusus intelijen kepolisian atau reserse yang sedang menyamar sebagai pedagang yang sering lewat depan rumah kita; biasanya tukang bakso, penjual nasi goreng atau servis jam keliling.

Yang menjadi pembeda antara tukang bakso biasa dengan tukang bakso yang sedang menyamar adalah equipment-nya. Tukang bakso biasa tentu memiliki amunisi utama yaitu sendok dan mangkok untuk menjajakan dagangannya. Sementara yang hanya ‘menyamar’ menjadikan walkie talkie sebagai amunisi utama untuk mengirim laporan atau sekadar berkoordinasi. Kijang1, ganti, target hate speech lagi santai ngerokok sambil minum kopi~

Pokoknya jika beberapa hari terakhir di depan rumah kalian ada tukang bakso baru dengan gerak-gerik seperti sedang observasi, coba cek lagi seminggu terakhir kalian sudah memposting apa di sosmed. Jokes itu juga yang membuat makin kesini mau ngetwit atau komen kok slalu diselimuti rasa khawatir. [kemudian overthinking]

Sebenarnya negara menjamin rasa aman warga negaranya dalam berpendapat ga sih, hyung? Akhirnya ga jadi deh mengeluarkan opini pintarku~

Aspek lain yang menjadikan kita wajib waspada adalah jika rasa baksonya tidak enak. Kata orang dulu sih, gitu~

Jokes ini ibarat menjadi sarkas bagi kebebasan berpendapat yang sangat-amat diawasi pada saat ini. Canda-candaan dalam spektrum dark jokes kini semakin jauh dari masyarakat karena masih dianggap tabu—betapa dag-dig-dug-ser saat ingin nge-jokes tentang PKI, fanatisme agama, ataupun penegakan hukum yang ngawur (contohnya), iya hanya untuk bercanda. Hal ini juga menjadi ‘tamparan’ yang menyadarkan kita, bahwa sensitivitas atas ketersinggungan di negeri ini begitu mudah dan begitu cepatnya.

Baca Juga Balada Teman yang Bau Ketiak: Kewajiban Kita untuk Menuntun, Bukan Menuntut

Disadari atau tidak, langgengnya jokes ini bisa menjadi kerugian tersendiri bagi Kepolisian Republik Indonesia. Citra mereka yang dibangun dengan semboyan ‘melindungi dan mengayomi masyarakat’ kini perlahan direduksi dengan adanya kelakar tersebut.

Secara tidak langsung, jokes tersebut membuat sebuah framing bahwa: “Polisi baperan dan mudah mengalami ketersinggungan”. Hei hei, kesimpulan yang terlalu dini untuk diambil!

Polisi Nilang
Gambar hanya ilustrasi

Saya yakin, polisi-polisi di negeri ini tidak seburuk yang kita kalian kira, mereka semua pastinya baik hati, rajin menolong dan suka menilang—ya wajarlah kena tilang, wong kalian berkendara ndak pake helm!

Kita pasti tidak tahu betapa beratnya usaha membangun citra polisi yang baik lewat tayangan televisi. Langkah tersebut harusnya kita hargai karena pengalokasian dana yang cukup besar bagi divisi Humas untuk membentuk persepsi publik yang positif. Kita hanya tidak pernah masuk TV dan merasakan servis yang ramah dari polisi saat tertangkap ngumpul-ngumpul gak jelas di tengah malam.

Baca Juga Rencana Program Pendidikan Militer untuk Para Mahasiswa Adalah Sebuah Kemunduran yang Berbahaya

Beberapa wejangan dan nasihat yang menggetarkan jiwa juga kerap diberikan agar kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Panutan qta smwa!

Salah satu yang jarang atau bahkan belum kalian lihat adalah produk-produk dalam Police Movie Festival. Di beberapa film pendek yang ditayangkan, mereka lah yang menjadi garda depan melindungi masyarakat saat terjadi tindak kejahatan. Bahkan tak ada penggambaran polisi yang buruk, korup atau yang menyalah gunakan kekuasaanya (abuse of power) dalam film-film tersebut. Kalian jelas sudah pasti tidak menontonnya kan, wahai sobat misqueen qu~

Karenanya, sudah saatnya kita perlahan meninggalkan jokes “Abang tukang bakso, bawa walkie talkie” itu. Semakin tahun, Kepolisian makin baik, kok. Lihat saja persentase tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri yang tiap tahun perlahan naik.

Tenang saja, polisi akan menjadi sahabat masyarakat bukan sebagai momok yang menakutkan. Sama seperti visi-misi dan semboyan mereka.

Prasangka dalam candaan tersebut hanya bertendensi dan tertuju kepada para oknum. Dampaknya juga akan berpengaruh ke pada tukang bakso yang memang tulus berjualan, harus dicurigai juga oleh prasangka kita.

Eh, kebetulan, ada tukang bakso lewat!

Yok, makan bakso yok~

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.