Stop Merokok! Merokok dapat Menyebabkan Kanker, Sakit Jantung, dan “Kebakaran”

Stop Merokok Merokok dapat Menyebabkan Kanker, Sakit Jantung, dan Kebakaran

Stop Merokok! Merokok dapat Menyebabkan Kanker, Sakit Jantung, dan “Kebakaran”

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Penyebab kebakaran: puntung rokok.

Thexandria.com – Sebagai perokok, rasanya cukup sulit tuk menuliskan artikel ini, terlebih dengan judul yang gamblang.
Namun bagaimanapun, judul yang tertera adalah sebuah kebenaran—-baik secara medis maupun secara “historis”.

Untuk memberi sebuah kemakluman, mengapa di Indonesia, jumlah perokok aktif sangatlah banyak (termasuk) saya sendiri. Anggap saja bahwa para kaum perokok itu tidak bisa membaca. Mengapa demikian? Lha, kan, sudah tertera jelas bahwa rokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit mematikan di setiap bungkusnya. Tapi sekali lagi, ini adalah sepucuk pemakluman, kalau mau tak disebut sebagai pembenaran. Hehe~

Secara medis, diketahui, bahwa di dalam rokok, terdapat 250 jenis zat beracun dan 70 jenis zat yang diketahui bersifat karsinogenik.

Baca Juga Satu Tahun Pemerintahan Jokowi: Sebuah Mozaik

Beberapa senyawa yang terkandung dalam rokok, diantaranya adalah, Karbon monoksida, Nikotin, Tar, Hidrogen sianida,
Benzena, dan Formaldehida.

Secara “historis”, rokok ternyata juga dapat menyebabkan kebakaran. Rokok dapat menyebabkan si jago merah meraung-raung membelah angkasa. Dan bukan main-main, rokok bisa membakar salah satu gedung top pemerintah. Gedung Kejaksaan Agung. This is not a joke.

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mengklaim telah berhasil mengungkap misteri penyebab kebakaran Gedung Kejaksaan Agung RI pada 22 Agustus 2020. Delapan orang jadi tersangka. Penyebab kebakaran: puntung rokok.

Kesimpulan akhir dari penyidikan Polri menyebut kebakaran itu disebabkan oleh bara api dari rokok lima orang kuli bangunan yang dipekerjakan oleh salah seorang staf Kejagung di lantai 6 ruang biro kepegawaian.

Kronologis Versi Kepolisian

Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung
sumber gambar tirto.id

Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Ferdry Sambo, melansir dari CNN, menuturkan bahwa lima orang kuli bangunan diduga membuang bara api ke dalam polybag atau plastik besar berisi tumpukan sampah yang mudah terbakar.

Ferdy mengatakan bahwa rokok itu kemudian berujung pada kebakaran hebat lantaran letak polybag yang juga berada di dekat cairan-cairan mudah terbakar. Misalnya, Ferdy mengatakan bahwa penyidik menemukan beberapa material seperti tiner, lem aibon, hingga cairan pembersih lantai merk TOP Cleaner yang tidak memiliki izin edar dan mudah terbakar.

Cairan-cairan itu, dipercaya oleh penyidik menjadi akseleran sehingga api merambat dengan cepat dan menghanguskan seluruh bangunan gedung utama korps Adhyaksa itu.

Saat api mulai menyala, dia menuturkan bahwa lima orang kuli yang telah menjadi tersangka itu sudah tak berada di lokasi. Kata dia, api yang sudah semakin besar memicu munculnya asap sehingga menarik perhatian pegawai Kejaksaan lain yang berada di lantai bawah.

Para kuli disebutkan sempat mencoba untuk memadamkan api namun karena sarana dan prasarana yang tidak memungkinkan, api tak padam. Penuturan Ferdy, terdapat sejumlah saksi yang melihat bahwa kelima tersangka itu merokok di ruangan yang tidak seharusnya. Selain itu, mereka yang ditetapkan sebagai tersangka juga disebutkan telah mengakui perbuatannya.

Proses percepatan pembakaran itu diklaim oleh penyidik telah didukung oleh keterangan dari sejumlah saksi ahli, salah satunya adalah Ahli Forensik Kebakaran Universitas Indonesia, Yulianto. Selama penyidikan, Yulianto menuturkan bahwa kobaran api semula tak besar. Namun, sejumlah senyawa yang ditemukan di lokasi turut memperkuat percepatan pertumbuhan api.

Kejanggalan Kebakaran

Kebakaran Kejagung
sumber gambar indozone

Di lain pihak, Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman mengatakan bahwa kepolisian tak boleh cepat-cepat mencabut penerapan pasal 187 KUHP yang mengatur tentang barang siapa dengan sengaja menimbulkan kebakaran, ledakan, atau banjir.

Menurutnya, jika benar titik api disebabkan oleh rokok tersebut, maka seharusnya, para tersangka mengetahui larangan merokok di dalam ruangan. Bagi dia, kelalaian itu dapat saja diwarnai dengan tindak kesengajaan.

Dia menyebut dugaan ada “pembakar bayaran” ini tak lepas dari penyidikan terhadap Jaksa Pinangki Sirna Malasari (PSM) yang terjerat kasus Djoko Tjandra. Kasus ini disebut melibatkan petinggi penegak hukum.

Hal ini diperkuat pula dengan hilangnya CCTV di gedung utama Kejagung. Padahal, lanjutnya, CCTV ini bisa mengungkap dengan siapa saja Pinangki bertemu sejauh ini.

Pelajaran apa yang kemudian bisa kita petik dari “terbakarnya” gedung Kejaksaan Agung? Jadilah perokok yang bertanggung jawab. Buanglah puntung rokok pada tempatnya, jangan buang di Gedung Kejaksaan. Soalnya, yang sebetulnya juga menjadi pertanyaan, ternyata di tahun 2020, masih ada saja gedung yang tidak memiliki water sprinkle. Terlebih, di asset bangunan top pemerintah. Apakah lucu? Seharusnya demikian. Ini ibarat lelucon yang dimana perokok dijadikan “badutnya”.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.