Stop Kekerasan Pada Anak!

Stop Kekerasan Pada Anak!

Stop Kekerasan Pada Anak!

Penulis Suci Jayanti Tadjri | Editor Rizaldi Dolly

Benar kata nenek dulu; “Kalau nggak bisa ngurus, mending nggak usah punya anak!” Kata-kata itu kembali memenuhi kepala saya ketika melihat satu video seorang anak yang tengah dipukuli oleh ayah dan ibunya dikarenakan video tak senonohnya tersebar di Twitter atau malah sengaja diperlihatkan ke dunia maya?

Tidak ada masalah mengenai video tersebut; diawali sekolompok anak perempuan yang sedang menari di aplikasi TikTok, meskipun tempatnya di sekolah. Oh, mungkin lagi jam istirahat atau tidak ada guru, pikirku. Namun, yang membuat saya geram adalah adegan setelah anak-anak perempuan itu menari—seorang anak laki-laki yang sengaja memeras payudara anak perempuan tersebut. Saya juga kalau jadi orang tua—akan marah. Tapi pantaskah memukuli anak akibat perbuatannya?

Iya, saya paham—biar jera, katanya. Namun, alih-alih membuat anak jera—dengan melibatkan tangan dan kekerasan pada anak yang ada malah menimbulkan masalah baru. Dikutip dari lokadata, kasus kekerasan pada anak yang dilaporkan pada 2015 tercatat 1.975 dan meningkat menjadi 6.820 di 2016, semakin meningkat di tahun 2020. Dari angka tersebut, sebanyak 88,24 persen anak perempuan dan 70,68 persen anak laki-laki di Indonesia berusia 13 – 17 tahun mengalami kekerasan fisik.

Sementara untuk kategori kekerasan emosional, 96,22 persen anak perempuan dan 86,65 persen anak laki-laki di Indonesia pernah mengalami. Laporan “Global Report 2017: Ending Violence in Childhood” mencatat 73,7 persen anak Indonesia berusia 1 – 14 tahun mengalami kekerasan fisik dan agresi psikologis di rumah sebagai upaya pendisiplinan (violent discipline). Sementara itu, menurut data Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), pada 2019 ditemukan sebanyak 350 perkara kekerasan seksual pada anak.

Berikut ini jenis-jenis kekerasan pada anak yang dirangkum dari berbagai sumber:

Penyiksaan Fisik

Kebanyakan orang tua menganggap bahwa cubitan, pukulan, tendangan, membakar, menyundut dan segala kekerasan fisik lainnya adalah bentuk pendisiplinan terhadap anak dengan harapan anak akan belajar berperilaku yang baik.

Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual merupakan tindakan dimana anak dapat terlibat dalam sebuah aktivitas seksual, namun tanpa anak sadari, tidak mampu untuk mengkomunikasikannya, serta tidak mengerti maksud dari sesuatu hal yang diterimanya tersebut.

Pengabaian

Meniadakan perhatian yang mencukupi baik itu dalam bentuk fisik, emosi, ataupun sosial adalah bentuk dari kekerasan pasif terhadap anak.

Penyiksaan Emosi

Segala tindakan yang meremehkan dan merendakan anak adalah penyiksaan emosi karena membuat anak menjadi tidak merasa berharga untuk dicintai.

Penolakan

Tindakan seperti menyuruh anak pergi, memanggil dengan nama yang tidak pantas, menolak berbicara pada anak, menolak melakukan kontak fisik dengan anak, menyalahkan anak, mengkambing hitamkan anak, bahkan yang terparah menyuruh anak untuk enyah.

Bersikap Acuh

Biasanya terjadi pada orang tua yang sedang memiliki masalah dalam pemenuhan emosi sehingga membuat dirinya tidak mampu untuk merespon kebutuhan emosi sang anak.

Baca Juga: Tidak Ada Lucunya! Berhenti Membuat Lelucon Terhadap Tindakan Bunuh Diri

Kekerasan terhadap anak bisa berdampak seumur hidup pada kesehatan dan keberlangsungan hidupnya, berikut beberapa dampak yang bisa terangkum dari berbagai sumber:

Mengakibatkan kematian

Pembunuhan, yang melibatkan seperti pisau dan senjata api adalah di antara tiga penyebab utama kematian pada remaja, dengan anak laki-laki yang terdiri dari 80% korban dan pelaku

Gangguan Otak dan Perkembangan Sistem Saraf

Paparan kekerasan pada usia dini dapat mengganggu perkembangan otak dan merusak bagian sistem kerja saraf serta sistem endokrin, sirkulasi, reproduksi, pernapasan dan kekebalan tubuh dengan konsekuensi seumur hidup.

Perilaku Koping yang Negatif

Anak-anak yang terpapar dengan kekerasan lebih mungkin untuk merokok, menyalahgunakan alkohol, narkoba, dan terlibat dalam kejahatan seksual. Mereka juga memiliki tingkat kecemasan, depresi, masalah kesehatan mental dan bunuh diri yang lebih tinggi.

Berdampak di Masa Depan

Anak-anak yang terpapar kekerasan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan sekolahnya, kesulitan mempertahankan pekerjaan, dan berisiko tinggi untuk menjadi pelaku/korban kekerasan; dimana dapat mempengaruhi generasi selanjutnya.

Dimanapun yang namanya kekerasan bukanlah hal yang pantas dilakukan kepada siapapun terlebih kepada anak sendiri, karena bagaimanapun segala bentuk perlakuan kekerasan sejak dini dari orang tua—akan terpatri di otak anak sehingga akan mengganggu proses tumbuh kembangnya.

So, please, dengari kata nenek; kalau dirasa belum mampu membenahi diri sendiri atau belum siap secara lahir batin untuk memiliki anak—lebih baik jangan dulu, ya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.