SORE & SENJA

Sore dan Senja

SORE & SENJA

Penulis Suci Jayanti | Editor Rizaldi Dolly

“Sore… are you ok?” kata Senja terbata bata

Thexandria.com – Aku, Sore Keira Dimitri, gadis berusia 16 tahun yang masih duduk di kelas 2 SMA, menjalani hari seperti remaja pada umumnya. Sekolah, bermain, bimbingan belajar, dan menulis. Kenapa aku memasukkan “menulis” dalam salah satu rutinitasku? Karena, aku terlalu cinta dengan menulis, dan juga karena, aku terkadang susah mengungkapkan sesuatu melalui lisan, sehingga menulislah pelarianku. Mungkin, remaja pada umumnya tidak akan memasukkan “menulis” dalam salah satu rutinitas mereka. Mungkin hanya aku.

Senja Gendis Riyadi, anak-anak biasa memanggilku “Senja”, ya, itu karena aku dilahirkan di antara sore dan malam, maka orang tuaku menamaiku “Senja”. Aku seorang gadis berusia 17 tahun, duduk di kelas 3 SMA, Bersosialisasi dan bergabung dalam komunitas adalah salah satu hal kesukaanku, bukan hanya mempelajari hal baru, selain itu juga aku bisa mendapatkan banyak teman. Salah satu komunitas yang aku ikuti adalah photography, disana aku menemukan bahwa keabadian yang tertangkap kamera dapat menyimpan beribu kenangan, walaupun sudah berabad abad, tidak habis dimakan jaman. Itulah aku, aku suka mengabadikan apapun dengan kameraku.

S E N J A

Hujan menyambut pagi ini, aku menenggelamkan kepala di balik selimutku, rasanya ingin tidur seharian, menghabiskan camilan dan menonton acara favorite di tv. Tapi, sekolah mengharuskanku untuk beranjak dari tempat tidur. Aku, Senja, aku suka bersosialisasi, tapi untuk masuk sekolah di tengah hujan deras dan banjir dimana-mana, berleyeh-leyeh di atas tempat tidur adalah pilihan yang tepat.

Wangi masakan Ibu menarikku ke lantai bawah, memaksaku untuk mencicipinya hingga habis.

Ayah yang sedari tadi menyeduh teh, memanggilku untuk segera sarapan bersama. Aku, Ayah, dan Ibu bercengkrama sembari memakan masakan Ibu yang lezat. Kami pun melahap sarapan yang di buat Ibu, sebelum berangkat ke sekolah dan kantor.

Sore & Senja1
Gambar hanya ilustrasi

S O R E

Pagi ini seperti biasa, hujan masih turun dengan derasnya. Membasahi tanah halaman, menimbulkan aroma paling kusuka setelah aroma buku baru. Hening selalu menghiasi setiap pagiku, serta sarapan yang sudah tersedia di meja makan, iya, sarapan buatan Bibi.

Mama yang hanya pulang beberapa kali dalam sebulan, jarang membuatkanku sarapan. Papa yang entah pergi kemana, mungkin.. Ah, aku tidak ingin membahasnya.

Selamat menikmati sarapan, lagi, sendiri, bersama hujan dan hening.

Waktu menunjukkan pukul 08:15 pagi, hujan reda dan persekolahan hari pertama setelah libur panjang pun dimulai. Beberapa wajah baru pun menghiasi lorong sekolah, tak terkecuali Sore Keira Almira, siswi pindahan dari Bandung, menetap di Samarinda dikarenakan orang tuanya yang bekerja di sini.

Sore yang tengah sibuk mencari kelas, terhenti akan segerombol anak perempuan yang menatapnya sinis, seperti ingin memakan orang. Sore hanya berlalu, tidak menghiraukan sedikitpun.

Hiruk pikuk ramai menghiasi kantin sekolah, anak-anak begitu lahap menyantap makan siang tak terkecuali Sore. Suasana sekolah belakangan inil tampak sedikit tense dari biasanya—setelah kejadian pada hari Kamis yang sampai detik ini menjadi buah bibir di sudut-sudut sekolah. Berawal dari pelajaran olahraga yang dilaksanakan di lapangan basket, Sore yang saat itu amarahnya pecah karena Bimo—seorang pemain basket andalan sekolah yang secara sengaja melempar bola kearah kepala Sore. Siang itu benar-benar keruh, aktifitas semua orang di lapangan saat itu seketika berhenti—bahkan sampai terdengar di lorong pojok sekolah. Belum pernah rasanya melihat Sore yang bisa dibilang pendiam dan tertutup marah dengan semarah-marahnya. Mungkin benar adanya, seseorang yang terlalu menyimpan sendiri dan tampak baik-baik saja sebenarnya mungkin sedang tidak baik-baik saja.

“Re, sore!” Pak Rahmat setengah berlari memanggil Sore yang pergi meninggalkan lapangan basket.

Anak-anak lainnya berbisik, setengah menatap heran, beberapa hanya terdiam.

“Resa, bapak titip arahin anak-anak, ya. Anak-anak, olahraga dilanjutkan!” perintah Pak Rahmat.

Pak Rahmat ikut meninggalkan lapangan, menyusul Sore yang punggungnya sudah tidak tahu dimana.

Senja sedikit terbirit-birit lari dari toilet menuju kelas yang jauhnya minta ampun—maklum saja, sekolah ini besarnya teramat besar, padahal banyak ruangan yang tidak terpakai, tapi anehnya beberapa kelas tidak dirapatkan demi meminimalisir langkah kaki.

“Sore..” dalam hati Senja, sedikit menengok ke belakang melihat Senja yang tengah berlalu, wajahnya merah.

“Sore… are you ok?” kata Senja terbata bata

Sore berhenti seketika.

Bersambung…

Baca Juga Hiduplah Sebagaimana Orang-orang yang Pergi

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.