Sisa Tahun yang Harus (Tetap) Waras

Sisa Tahun Harus Tetap Waras

Sisa Tahun yang Harus (Tetap) Waras

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Waras yok, waras.

Thexandria.com – Setiap kita menjadi penumpang dalam sebuah ‘destinasi’ yang arahnya sudah jelas, namun diterpa kenyataan yang begitu dilematis. Destinasi itu bernama 2020 yang memiliki tujuan berikutnya, 2021. Perjalanan yang setidaknya membuat kita mampu bertahan dan melawan ke-tentatif-an—merupakan bias dari harapan yang tinggi saat terompet perayaan awal tahun disuarkan.

Kebahagiaan dan kejayaan yang menjadi target cepat beralih menjadi bencana hingga krisis dimana-mana. Tidak ada kata lain yang wajib kita tanam di kepala selain: Bertahan!

Hidup di era disruptif menjadi ajang implementasi dan justifikasi untuk beberapa istilah terkait mental health. Masalah yang hadir akan selalu menciptakan kecemasan (anxiety disorder), fluktuasi suasana hati (mood disorder) sampai gangguan psikotik (psychotic disorder).

Baca Juga Kubang Politik Elitisme dan Tongkronganisme di Balikpapan

Fenomena tersebut yang kemudian menghadirkan sebuah perbandingan; hidup di zaman dulu, yang terdekat misalnya Perang Dunia Kedua. Pasti concern terkait mental health di era itu belum sebegitu masif seperti sekarang. Kecemasan akan selalu ada, namun hal itu hanya menjadi ‘kubangan’ di kepala. Sisanya, tetaplah berperang atau mati. Prinsip yang dipertahankan adalah hiduplah seperti Larry: berani menantang bahaya dan harus terus dipertaruhkan!

Tak apa jika sekarang prinsip kita adalah “Tetaplah hidup walau tidak berguna”. Setidaknya ada yang tetap diperjuangkan: hidup.

Kewarasan yang tereduksi oleh bencana dan ketidakstabilan mental, harus ditambah oleh situasi perpolitikan yang tidak bersahabat. Beberapa kebijakan disusun hanya berlandaskan ego dan kepentingan tanpa mengindahkan adanya ethic sebagai variabel penting. Belum lagi kepulangan tokoh agama yang akhir-akhir ini ‘menggebrak’ situasi dengan kolektivitas.

Tontonan yang patut ditunggu adalah terjadinya ‘gesekan’ antara massa ormas agama (kaum kanan jauh) dengan para pejuang keadilan sosial (kaum kiri jauh). Awalnya kaum kanan konservatif dengan pendekatan yang lebih mudah diterima kaum akar rumput yang cenderung centrist, dipercaya akan semakin inklusif. Jauh api dari panggangan, sosok-sosok pionir yang dengan mudah berteriak “Lonte!” mengaburkan dan menghadirkan polaritas.

Waras yok, waras.
Pertahanan manusia terhadap penalaran di kepalanya bermodalkan daya dalam metakognisi. Dari kemampuan metakognisi itu, manusia akan mampu menghasilkan pengetahuan deklaratif (pengetahuan tentang apa), pengetahuan prosedural (bagaimana hal itu bisa terjadi), dan pengetahuan kondisional (mengapa dan kapan kejadian tersebut). Tetapi, berfikir saja tidak cukup untuk beberapa orang. Aliran Post-positivisme mengajarkan manusia tak akan mendapatkan kebenaran apabila tercipta jarak antara pemikirannya dengan realita.

“Anak-anak pelajar sekarang harus disiapken benar-benar untuk mencintai tanah air, untuk mencintai produk dalam negeri. Maka para remaja yang sekarang nanti akan hidup di tahun 2020, akan menjadi benteng untuk mempertahanken daripada kelangsungan hidup negara dan bangsa.” begitu ujar Pak Harto di video tersebut.

Nasehat dari Pak Harto tentang globalisasi dan nasionalisme tersebut cukup relevan dengan apa yang terjadi pada masa kini—entah mengapa tahun yang disebut adalah tahun 2020, mengapa tidak 2025, 2030 atau 2012? Apakah pak Harto sebenarnya adalah seorang cenayang? Apakah pak Harto memiliki mesin waktu? Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tau.

Kalaupun mesin waktu ada dan saya yang menemukan, hal pertama yang saya lakukan bukanlah menjelajah waktu. Tidak ada obsesi terhadap masa depan, dan mesin waktu itu akan saya tunjukkan pertama kali kepada Bu Megawati.

Apakah perolehan major seperti itu sudah cukup sebagai manifestasi kontribusi anak muda di mata Bu Megawati? Entahlah, saya tidak berharap banyak kepada beliau yang bahkan sempat mengatakan beliau tidak tahu apa itu alutsista.

Kini telah berjalan 11 bulan dari 12 bulan di tahun 2020. Pencapaian apa saja selama 11 bulan terakhir ini? Sudah pasti dipenuhi hal-hal dilematis, overthinking setiap malam dan ketidakpastian. Perlu dicatat, yang fundamental perihal hidup: yang pasti adalah ketidakpastian.

Meskipun hanya rebahan dan menaikkan berat badan, kegiatan itu merupakan sebuah pencapaian di masa sulit seperti ini. Tak perlu muluk-muluk, sisa satu bulan kedepan merupakan ajang bagi kita untuk bersiap. Sekadar menyiapkan apa rencana terbaik untuk tahun berikutnya karena desas-desus yang beredar, 2021 akan lebih progresif—sembari mempertahankan kewarasan bagi diri kita.

Gimana, hari ini masih rebahan? Good.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.