Serba-Serbi Among Us: Game yang Dianggap Overrated Hingga Meniru Werewolf

Among Us

Serba-Serbi Among Us: Game yang Dianggap Overrated Hingga Meniru Werewolf

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Eh lama-lama ternyata seru juga, ya—practice makes perfect then, lad.

Thexandria.com – Game Among Us mendadak menjadi primadona bagi warganet untuk menemani suntuknya masa pandemi yang tak kunjung usai atau sekadar mengisi waktu luang. Berbagai tangkapan layar dibagikan di linimasa menggambarkan betapa ramai dan serunya game ini bagi para player-nya.

Bahkan beberapa public figure ikut memainkan game ini, contohnya saja Kunto Aji melalui akun pribadi twitternya @KuntoAjiW melontarkan cuitan “Bayangin main Among Us sama Mba Najwa Shihab.” kemudian dibalas oleh jurnalis senior itu perihal cara bermain game tersebut. Hingga beberapa Youtuber gaming juga ikut tergoda untuk mencoba memainkan dan mengulas permainan yang dikembangkan oleh developer InnerSloth ini.

Mengenal Among Us

Game ini dapat dimainkan di beberapa device mulai gawai hingga komputer personal. Sistem operasi Android dan iOS kapabel untuk menjalankan game yang sudah rilis sejak 15 Juni 2018 ini. Konsep dari game ini secara keseluruhan adalah multiplayer sehingga memungkinkan kita untuk ‘silaturahmi online’ alias mabar dengan pemain lainnya di berbagai penjuru dunia.

Konsol dalam game ini menggunakan sistem function button untuk menjalankan beberapa fungsi aktivitas dan analog controller atau fitur tonjolan berbentuk bulat sebagai fungsi gerak karakter yang dimainkan.

Mengutip laman SBNation, storyline atau alur cerita dari game Among Us menarasikan tentang sebuah perjalanan ke ruang angkasa dari bumi. Di dalam pesawat luar angkasa tersebut terdiri dari 5-10 astronot yang memiliki misi di luar angkasa.

Nantinya para astronot atau yang disebut dengan ‘crewmates’ memiliki tugas (task) masing-masing di berbagai area di dalam pesawat. Beberapa kawasan yang terdapat di game ini antara lain ruang angkasa (The Skeld), gedung markas (Mira HQ) dan pangkalan planet (Polus).

Among Us Indonesia
Among Us / Source kabargames.id

Situasi yang coba disuguhkan adalah misteri, pembunuhan dan fiksi ilmiah yang terjadi di dalam pesawat tersebut. Karena dari beberapa astronot yang terbang, terdapat satu atau lebih pengkhianat yang menjadi peran antagonis disebut dengan panggilan ‘impostor’ sementara karakter protagonis tadi disebut dengan ‘crewmates’.

Sang impostor dengan leluasa memiliki kemampuan untuk melakukan sabotase di dalam pesawat yang akan membuat kegaduhan. Mulai dari listrik yang mati sampai pasokan oksigen yang menipis adalah ulah dari sang impostor. Di sisi lain impostor dapat membunuh crewmates dengan diam-diam, yang kemudian jasad yang ditemukan crewmates lain dilaporkan kepada se-isi pesawat.

Pertemuan darurat pun dilakukan untuk membahas mengapa pembunuhan itu bisa terjadi dan siapa pelakunya. Para pemain akan berdebat tentang siapa yang menurut mereka adalah impostor yang membunuh rekan mereka itu. Mereka berbagi informasi tentang apa yang mereka lihat (clue), siapa yang tidak hadir terlihat melaksanakan tugas dalam pesawat dan siapa yang bertindak mencurigakan.

Bagi salah satu pemain yang terbunuh dalam game, dirinya dapat terus ikut bermain namun dalam wujud hantu. Si hantu ini nantinya dapat berkelana di map tanpa ketahuan oleh pemain lainnya. Tentunya pemain ini tidak akan dapat berkirim pesan dengan pemain yang masih hidup tetapi mampu untuk berkomunikasi dengan player lain yang sudah mati sebelumnya.

Baca Juga Syabab eSports, Bukan Sekedar eSport Biasa

Dari diskusi yang telah dilakukan, para pemain akan melakukan pemungutan suara untuk menetukan siapa yang dicurigai sebagai impostor dan akan ‘ditendang’ keluar dari pesawat. Jika benar, teliti dan beruntung para crewmates akan memenangkan permainan karena berhasil menyingkirkan para impostor. Sebaliknya, jika tidak mujur maka bersiaplah untuk ‘tertipu’ dan game akan berakhir dengan kekalahan.

Anggapan Miring

Among Us Online
Among Us

Animo yang tinggi terhadap permainan ini tentu tidak hanya menyajikan respon positif, di sisi yang berseberangan respon negatif pun juga ber-lalu-lalang—tak apa, siapa saja bebas menilai. Banyak yang menganggap game Among Us terlalu diagung-agung-kan (overrated). Hal ini berdasarkan beberapa penuturan warganet yang setelah mengunduh dan mencoba bermain malah bingung untuk memainkannya. Dari situlah mulai muncul anggapan bahwa Among Us tidak se-seru yang dikampanyekan.

Saya sendiri pada awalnya kesulitan memahami “apa yang harus kita lakukan dalam game ini?”. Namun dengan banyak bimbingan dari teman tentang tata cara bermain dan kemudian sering bermain, eh lama-lama ternyata seru juga, ya—practice makes perfect then, lad.

Selain itu, narasi dalam gameplay Among Us dinilai meniru narasi dari game Werewolf dan tak sedikit yang menganggap ini menjadi kemunduran dalam game berkonsep roleplay characters.

Simplifikasi karakter menjadi crewmates dan impostor diasumsikan sebagai reduksi ‘kekayaan’ dari karakter yang ada pada game Werewolf; Villagers, Guardian, Seer, Cupid dan masih banyak karakter lainnya. Tiap-tiap karakter dalam Werewolf memiliki peran yang detil, krusial dan berkesinambungan antara satu karakter dengan lainnya.

Namun rasanya komparasi tersebut dirasa agak ‘kureng’ dan tidak bisa dijadikan acuan untuk menentukan yang mana yang lebih baik. Tiap-tiap produk memiliki karakter masing-masing, dan tentu, Among Us memiliki dimensi yang berbeda dengan Werewolf—Among Us begitu futuristik dengan ekspedisi luar angkasa mereka, sementara Werewolf mempertahankan sketsa mitologi klasik.

Baca Juga Ospek Virtual Unesa: Memberikan Hiburan Baru Lewat ‘Marah-Marah Online’ Soal Ikat Pinggang

Sedikit trivia, percaya atau tidak, game Among Us sedikit-banyak membangkitkan gairah ber-wawasan akan sejarah yang juga identik dengan skena pengkhianatan. Beberapa akun-akun besar di Twitter mengaitkan alur cerita pada Among Us dengan salah satu peristiwa kontroversial dan kelam di negeri ini, Gerakan 30 September (G30S).

Dari persitiwa tersebut publik juga diajak untuk ‘tebak-tebak buah manggis’ siapa yang sebenarnya menjadi ‘impostor’ dari kejadian tersebut yang berdampak besar kedepannya untuk bangsa ini. Utas-utas mengenai kejadian tersebut banyak ‘digelar’ dengan integrasi alur game Among Us yang kemudian membuka rasa ingin tahu dan wawasan masyarakat. Tak jarang beberapa pemain menggunakan nama mulai dari “Soeharto”, “Nasution” hingga “Soekarno “dalam permainan ini.

Jadi, kapan kita mabar, guys?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.