Sengkarut Politik Sektarian Lebanon dan Warisan Cinta Kahlil Gibran

Politik Lebanon dan Warisan Cinta Kahlil Gibran

Sengkarut Politik Sektarian Lebanon dan Warisan Cinta Kahlil Gibran

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Dyas BP

“jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tapi tanyalah apa yang telah kamu berikan pada negaramu”

Thexandria.com – Badan-badan bantuan PBB menyatakan bahwa Lebanon tengah menghadapi krisis kemanusiaan setelah ledakan besar pada Selasa yang menghancurkan pelabuhan di Beirut. Peristiwa itu terjadi karena meledaknya 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan secara tidak aman di sebuah gudang selama enam tahun.

Banyak dari masyarakat Lebanon menuduh kejadian itu akibat dari pihak berwenang melakukan korupsi, penelantaran dan salah urus. Para ahli di Universitas Sheffield di Inggris memperkirakan bahwa ledakan tersebut memiliki sekitar sepersepuluh dari kekuatan ledakan bom atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima Jepang selama Perang Dunia Kedua dan “tidak diragukan lagi merupakan salah satu ledakan non-nuklir terbesar dalam sejarah”.

Sementara itu, melansir bbc.com, Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab telah mengumumkan bahwa segenap anggota kabinet mengundurkan diri ketika negara itu mengalami apa yang ia sebut sebagai malapetaka besar dan keruntuhan ekonomi serta sosial.

“Saya hari ini menyatakan pemerintah mengundurkan diri. Semoga Tuhan menyelamatkan Lebanon, Dirgahayu Lebanon dan rakyatnya,” kata Diab dalam pidato yang disiarkan langsung lewat televisi.

Pengumuman dikeluarkan setelah digelar rapat darurat. Pemerintah Lebanon, merasa ini adalah bentuk tanggung jawab, sementara rakyat Lebanon, menganggap pemerintah lari dari tanggung jawabnya.

Tahukah kita apa yang sebetulnya paling ironis dari ledakan besar di Ibukota Lebanon, Beirut? Tidak sampai 48 jam selepas kejadian, seorang presiden datang mengunjungi Beirut. Ia menyatakan simpati yang mendalam dan berjanji akan segera memberikan bantuan serta mengharamkan bantuan tersebut jatuh pada pejabat korup di Lebanon.

Presiden itu bukan presiden Lebanon, melainkan Perancis. Emmanuel Macron.

Ketidakhadiran pejabat tinggi Lebanon menjenguk warganya yang tengah terkena musibah memancing kemarahan massal. Masih melansir dari bbc.com, warga Lebanon membuat petisi online di situs Avaaz, meminta Perancis kembali “mengambil alih Lebanon” selama 10 tahun. Petisi online telah ditandatangani lebih dari 55.000 warga, sebelum Avaaz akhirnya diblokir. Kepada The New York Times, Khalil Honein, seorang warga Lebanon meminta Macron “menjadi presiden kami”. Teriakan “revolusi” pun menggelora.

Lebanon: A Fail State

Lebanon
Gambar hanya ilustrasi

Mayoritas analisis pakar menyimpulkan bahwa, mencuatnya sengkarut pengelolaan Negara Lebanon, adalah dampak dari politik dalam negeri.

Sistem konfesionalisme yang dianut Lebanon, memberikan dampak sosial, politik, dan ekonomi yang alih-alih membawa Lebanon pada persatuan dan kesejahteraan, malah justru membawa Lebanon pada kepentingan politik praktis masing-masing kelompok—yang ujungnya, membuat pengelolaan negara dijalankan dengan tidak profesional.

Merunut dari sejarahnya, Lebanon adalah negara dengan elemen masyarakat yang terjebak dalam pemikiran absurd mengenai paham kebangsaan.

“…Lebanon what it was: a country with no unity, a country without a sense of nationhood, a country whose citizens where loyal not to the state, but to their religius communities.” (David Gilmour, Lebanon: The Fractured Country, 1983)

Ada tujuh kelompok sektarian utama, dengan tiga aktor besar, yang menentukan arah politik Lebanon: Muslim Syiah, Muslim Sunni, dan Kristen Maronit. Empat kelompok lainnya adalah Kristen Ortodoks, Druz, Katolik Yunani, dan Armenia.

Dan untuk “menyatukan” kesemua kekuatan politik di Lebanon, Lebanon mengadopsi sistem konfesionalisme. Dengan tiga kantor politik utama yaitu presiden, ketua parlemen, dan perdana menteri—-yang dibagi lagi di antara tiga komunitas terbesar yakni Kristen Maronit, Muslim Syiah, dan Muslim Sunni. Pembagian kekuasaan masing-masing berdasarkan perjanjian yang dimulai pada 1943. Sementara itu 128 kursi Parlemen juga dibagi secara merata antara Kristen dan Muslim (termasuk Druze).

The problem is: masing-masing kelompok sampai detik ini masih terjebak dalam ego sektoral dan kepentingan masing-masing tanpa dilandasi semangat persatuan atas nama sebuah negara.

Bahkan, semboyan negara Lebanon yang berbunyi:  Kullunā lil-waṭan, lil-ʻula, lil-ʻalam—atau “Kita semua untuk negara, untuk kemuliaan, untuk bendera”, hanyalah semboyan tanpa falsafah kesatuan yang faktual.

Bayangkan, elite politik Lebanon yang selama ini berkuasa adalah kelompok sama yang saling berperang dan kemudian mengubah milisi mereka menjadi partai politik. Mereka termasuk para pemimpin komunitas Kristen, Sunni, Syiah, dan Druze yang mengambil posisi pemerintah dan membeli saham di bank. Masing-masing kelompok kemudian meminjamkan uang untuk proyek-proyek resmi yang dilakukan perusahaan yang dimiliki pejabat atau teman atau kerabat mereka—yang alhasil mencetak pemerintahan korup dan penuh akan nepotisme.

Warisan Cinta Kahlil Gibran

Kahlil Gibran
Gambar hanya ilustrasi

Lebanon dan kebanyakan negara timur tengah, selalu dipenuhi dengan krisis perdamaian. Ya, bisa dikatakan perdamaian adalah komoditi paling mahal di Timur Tengah. Bukan minyak.

Meskipun juga tidak dapat dinafikan, bahwa krisis perdamaian di Timur Tengah juga karena andil kepentingan sumber daya alam Negara Barat.

Tapi tau kah kita, bahwa di Lebanon, pernah lahir seorang filsuf, penulis, dan sastrawan ternama dunia yang karyanya sampai hari ini terus dikenang dan diabadikan dalam diskusi maupun acara sastra? Ialah Kahlil Gibran.

Baca Juga Politik Kotak Kosong: Sebuah Anomali dan Matinya Demokrasi

Filsuf kelahiran Bsharre ini meninggalkan sebuah legacy yang terdiri dari karya, cipta, dan rasa yang terus menggugah dalam spirit cinta diatas golongan.

Kata-katanya banyak dikutip oleh para pemimpin dunia, salah satunya, mantan Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy. Kita pasti tidak asing dengan kata-kata ini: “jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tapi tanyalah apa yang telah kamu berikan pada negaramu”.

Ironis. Pandangan Kahlil Gibran yang sangat nasionalistik ini tidak diserap dan diilhami oleh bangsa Lebanon sendiri.

Kahlil Gibran dalam karya-karyanya, sangat berbanding terbalik dengan realitas bangsa Lebanon dewasa ini. Ketika bangsa Lebanon masih dan terus terjebak dalam sektarian agama? Kahlil Gibran dan karyanya, justru menembus batas-batas tersebut dengan kecintaannya pada perdamaian dan persatuan.

“You have Your Lebanon and I have My Lebanon”. Ini adalah salah satu pemikiran Kahlil Gibran dalam bukunya yang berjudul Sand and Foam. Kalimat ini, diakui Kahlil Gibran terinspirasi dari ayat Al-Qur’an yang berbunyi, “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Padahal, Kahlil Gibran hingga akhir hayatnya menyatakan bahwa ia penganut Kristen Maronit.

Karya Kahlil Gibran juga sering digolongkan berbau sufistik—dan sekali lagi, Kahlil Gibran seolah menegaskan bahwasannya perdamaian hanya mungkin dicapai, jika kita menerima perbedaan.

Ia menulis, “I love you my brother, whoever you are? Wheter you worship in your church, kneel in your temple, or pray in your mosque. You and I all are children of one faith, for the divers paths of religion are fingers of the loving hand of one Supreme Bring”.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.