Senandika; Dua Halaman Tentang Rindu Berlari dan Bermimpi

Senandika; Dua Halaman Tentang Rindu Berlari dan Bemimpi

Senandika; Dua Halaman Tentang Rindu Berlari dan Bermimpi

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Aku tetap ingin berlari, menabrak angin di siang hari. Sendiri, atau bersama kalian lagi, tertawa tanpa luka di dada.

Senandika Halaman Pertama: Berlari

Thexandria.com – Sekejap, sekejap saja, tak lama, tak akan mencuri waktu bahagiamu bersamanya. Kali ini yang ingin yang ingin kusampaikan adalah tentang perasaan yang selama ini belum sempat tercurahkan. Entah mengapa, mungkin dewi inspirasi sedang pergi karena aku yang kini mulai jarang mandi. Kamu bau, barangkali begitu katanya kepadaku. Sudahlah sebaiknya kuhentikan saja perandai-andaian ini.

Mari kembali saja ke cerita ini, cerita di mana seorang anak kecil yang berkejaran melawan angin merobek siang yang terik. Anak kecil lainnya juga melakukan hal yang sama, namun satu yang sulit dilupakan dari adegan ini adalah senyuman mereka, senyuman yang tulus.

Baca Juga Salah Kata, Luka, dan Sandiwara

Berlari bagi mereka masihlah merupakan sebuah permainan yang menyenangkan. Yang kini bagiku yang sudah lapuk memahami bahwa berlari adalah suatu perlombaan hidup. Maksudku kita berlomba lari dengan orang lain di setiap harinya. Di sekolah, di tempat kerja, di rumah, di manapun sepertinya setiap lini kehidupan adalah persaingan. Siapa cepat dia dapat, siapa curang dia cepat menang.

Ah mungkin perasaanku saja, aku berharap demikian. Karena memang rasanya tak pernah lagi kurasakan yang namanya berlari dengan senyuman paling tulus itu.

Aku tak gila, jelas ku tau bahwa aku bukan lagi anak kecil. Tapi apakah aku memang tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti perlombaan lari dalam kehidupan orang dewasa yang kerap kali dibutakan oleh ambisi berlebihan.

Apakah aku sudah terlalu berkawan baik dengan kenyataan yang pahit? Padahal hanya sebentar saja aku berdamai dengan keadaan dengan menerima semuanya. Apakah aku memang sudah tak layak lagi untuk merasakan betapa bahagianya berlari tanpa embel-embel kompetisi?

Sambil bersender dengan nyaman di atas kasur di dalam kamar yang lampunya mulai redup, sebelum terpejam aku berucap “kumohon, hanya untuk malam ini, setidaknya izinkan agar kembali kurasakan di dalam mimpi.”

Ya benar, di dalam mimpi. Dimana segala hal dapat terjadi, aku tak ingin menjadi anak-anak lagi, hanya saja kumohon jadikanlah kompetisi duniawi tak melulu seperti ini.

Aku tetap ingin berlari, menabrak angin di siang hari. Sendiri, atau bersama kalian lagi, tertawa tanpa luka di dada.

Baca Juga Di Pijar Batas yang Tenang (Sebab-musabab Keterpisahan) Kita Ada untuk Gugur

Senandika Halaman Kedua: Bermimpi

Di bawah menara berkubah, di payungi awan yang sebagian kelabu lagi sebagiannya mulai ditimpali cahaya keemasan dari sang surya yang nyaris terbenam di ufuk.

Aku kembali merenung setelah berbicara dengannya. Terpaksa untuk merenung lebih tepatnya. Dia seorang wanita yang membuatku merasa paling hidup ketika melihatnya.

Bersender pada waktu terucap dengan manis dari bibirku. Namun di baliknya ada perasaan yang porak-poranda karena sejuta keresahan sedang berpesta termasuk di dalamnya ada perihal cinta, terlebih satu yang terakhir adalah yang paling membuat resah. Nanti aku ceritakan lebih jelas.

Aku teringat tentang bagaimana waktu itu kamu bertanya tentang suatu hal yang sangat serius. Waktu itu di balkon lantai dua rumahmu yang sepantaran dengan pohon mangga itu.

Entahlah apakah pohon itu masih ada atau tidak. Yang kuingat terakhir kamu bilang sudah lelah menyapu daunnya yang selalu gugur mengotori teras rumah. Dasar kamu, meskipun begitu kamu suka makan buahnya kan. Dan pohon mangga itu kamu sendiri yang menanamnya kan waktu masih kecil dulu bersama almarhum kakek.

Setelahnya itu menjadi terakhir kalinya kita bicara. Barangkali setelahnya adalah setahun aku merasa di dalam penjara, untung saja kini aku tak lagi perlu menghitungnya, entah sudah berapa lama sejak perasaan itu sirna.

Apakah kamu masih ingat apa jawabanku waktu itu? Kujawab meskipun sedikit terbata karena kepalaku sambil mencerna tentang arti kata itu, tentang pertanyaanmu. P-e-r-ni-k-a-h-an yang meluncur keluar perlahan dari bibir manismu.

Aku resah. Tentang apa yang akan terjadi selanjutnya setelah aku menjawab pertanyaan itu. Tentang suatu masa yang kulalui jika aku salah kata dalam menjawab itu. Tentang suatu masa yang akan terjadi jika jawabanku sesuai dengan keinginanmu.

Ah aku ingat lagi bahwa ternyata sungguh kesalahanku mencerna maksud dari pertanyaanmu.

Isi kepalaku kembali bertanya mengapa seorang wanita dewasa yang sudah mapan sepertimu mau kepadaku seorang yang tak punya apa-apa dan siapa-siapa.

Baca Juga: Interpretasi Cinta dari Pecundang dan Petuah dari Ksatria tanpa Zirahnya

Mengapa?

Haruskah aku melakukan pernikahan? Haruskah kita menikah? Untuk apa itu semua?

Siapa?

Siapa pula yang mau denganku seorang bujang lapuk yang tak punya apa-apa. Mungkin kamu sedang buta mata. Mengapa tak kita jalani saja seperti biasanya.

Ah aku lagi-lagi tak sengaja berharap pada akhir dari titik temu semua manusia di dunia.

Aku hanya seorang manusia yang paling mahir perihal menunggu. Terisolasi sangat jauh dari paparan tangis yang membunuh waktu. Kamu salah mengartikan jika aku adalah seorang yang tegar. Aku mengira demikian.

Namun ternyata kamu merayuku dengan kata itu karena kamu tau bahwa aku tak mampu mengiyakan permintaanmu. Dan kamu berharap aku yang menuntaskan ini semua, kamu ingin aku menjadi orang yang merasa berdosa.

Setidaknya kuucapkan terimakasih karena kamu pernah membuatku merasa bahagia dan hancur berkeping-keping.

Sudahlah. Lagipula itu masalah lama. Aku sudah tak lagi menaruhnya dalam kantung kumpulan keresahanku.

Kamu!

Jika saja perasaan ini dapat tersampaikan padamu, ingin kukatakan bahwa kini aku sedang tidak baik-baik saja.

Baca Juga Saling Memeluk di Dalam Pilu Membiru Experience

Yang pasti untukmu aku berdoa segala-galanya. Yakin dan percaya saja bahwa semua yang pernah terjadi di antara kita tak akan terulang saat kamu bersamanya.

Tetapi nyatanya bagiku itu terulang kembali, tak bersamamu tapi dengan dia. Ah sialnya ini adalah perihal yang sama dengan orang yang berbeda. Sial, sungguh. Aku masihlah orang yang tak punya apa-apa dan siapa-siapa.

Oh tunggu sebentar, kuingat bahwa aku masih bisa bersenandika, maka bersama senandika mohon izinkankan aku untuk mengutarakan perasaan ini kepada apa saja dan siapa saja, kau boleh saja anggap ini sebagai derau kalau tak suka.

Share Artikel:

One thought on “Senandika; Dua Halaman Tentang Rindu Berlari dan Bermimpi

Leave a Reply

Your email address will not be published.