Selamat Datang di Kesendirian: “Selamat Berjuang untuk Tidak Sendirian (lagi)”

Selamat Datang di Kesendirian

Selamat Datang di Kesendirian: “Selamat Berjuang untuk Tidak Sendirian (lagi)”

Penulis Zein Lich | Editor Rizaldi Dolly

Aku pernah bertanya kepada lelaki tua yang sering meminjamkan pikirannya ketika aku tersesat keyakinan, perihal kesendirian, misalnya. Ia berkata, “Kesendirian paling sendiri adalah, ketika kamu merasa diasingkan padahal kamu yang lebih dulu mengasingkan.

Tanpa kamu sadari, prasangka adalah biang dari pikiran-pikiran buruk, bisik-bisikkan yang tak ada tandingan perihal menendang akal manusia hingga terjatuh ke dalam hal: menyakiti diri sendiri, juga orang-orang di sekitarmu.”

Ia tak ubahnya seorang petualang batin yang luar biasa, meski bermakna elusif: hanya dengan tatapan mata dan pendengaran saja ia mampu berkeliling ke dalam otakku, hatiku, dan yang paling membuatku kesal, ia juga mengorek-orek sisi demi sisi hingga inti jiwaku.

Kamu sakit, katanya. “Tak perlu dokter, kalau kamu ingin segera…” ia tak pernah sampai di akhir kalimatnya, sebab aku menyangkal dan aku tak peduli pada kenyataan yang mengatakan bahwa: aku betul-betul telah menyangkal kebenaran. Jika kebenaran itu selalu menyakitkan? Aku hanya butuh asupan kebohongan yang suka berdalih ke lain hal. 

Baca Juga: Di ‘Pluto’, Gue Sirna Sebelum Sempurna

Akhir kalimatnya, jika kuarahkan pada kelas kata, adalah satu kata sifat yang tidak berarti apa-apa untuk manusia sejenisku. Tak ada penolong yang benar-benar ingin menolong, maka kubiarkan saja hal itu datang.

Jika tak kunjung datang? Aku yang berlari menjenguknya. Sebab, satu kata sifat yang juga sebagai antonim darinya, telah mengajarkan satu hal bahwa dunia memengaruhi kita untuk selalu “tidak baik-baik saja”. Dunia yang kompleks, dengan rentannya jiwa-jiwa yang ingin dihancurkannya.

*****

Aku adalah Dean, Dean Rajab. Yang dicita-citakan oleh ibuku menjadi seorang pria sejati yang menguasai sebuah negara. Perihal menguasai negara dengan cara apa? Beliau tak menambahkan pada keterangannya.

Ia yang kusebut lelaki tua tadi, adalah Purnomo. Ia yang telah kusakiti, secara diam-diam dan dalam keadaan tidak sadar. Keegoisan, prasangka, bisik-bisikkan, curiga dan ketakutan—yang sering datang menjelma demam tinggi, semua kusatukan dalam rencana pengasingan diri. Dan ketika itu terjadi, Purnomo menamparku dengan pertanyaan, “Kenapa?”

“Kamu hanya terlalu takut, dan, kemari” Ia membawaku ke halaman rumahnya, perjalanan kecil menginjak rumput-rumput setinggi mata kaki, melewati taman menuju gudang peralatan kebun.

Kami sampai di sisi kanan gudang, di sana Purnomo telah menggantungkan sebuah sangkar kayu beserta satu burung bercorak bagus yang entah apa namanya.

“Dean,” Katanya, “Amati mata burung itu sampai mata kalian beradu,”

Aku tak paham, tapi aku melakukannya. Menatap sampai ditatap.

“Sekarang, buka sangkarnya dan coba tangkap.”

Kulakukan, dan, tentu saja burung itu mencoba mengelak!

“Kamu tahu kenapa? Ketika mata kalian saling beradu, burung itu tak mengerti apa isi pikiranmu, dalam kasus ini; kenapa kamu di sini, dan apa tujuan kamu datang ke sini.

Burung itu, lima hari yang lalu kubeli dari pasar malam seharga 35 ribu, sebab anakku menginginkannya. Sampai sini kamu paham maksudku?”

“Tidak.”

“Tentu saja, tapi jangan coba lupakan permulaannya. Dengar, aku telah memaksa burung itu menyendiri di dalam sangkar tanpa ada satu pun burung yang bisa diajaknya bicara. Bukankah itu suatu bentuk kejahatan? Benar, Dean. Aku jahat, dan kamu juga,”

“Kenapa aku juga?”

“Membuatnya takut dan kebingungan. Jangan pernah menatapnya jika kamu tidak mau membicarakannya.”

“Apa yang ingin aku bicarakan?”

“Semua hal yang ingin kamu lihat darinya. Dean, burung itu tak cukup mampu menjangkau pikiranmu, dan apa yang lantas ia lakukan? Menduga-duga, berprasangka, dan mendengar bisik-bisikkan yang tak jarang merupakan bisikkan buruk dari suara pikirannya sendiri.

Adalah hal yang salah, tapi dimaklumi jika ia sedang berada dalam kondisi ini. Sekarang, lepaskan burung itu Dean, toh anakku sudah mulai bosan mengunjunginya.”

Aku melepasnya, toh anak gadis temanku itu sudah bosan mengunjunginya dan ayahnya menyuruhku melakukan itu. Selain itu, aku ingin mendengarkan lagi apa yang sebenarnya belum terselesaikan.

Lama kami berdiri mematung memandang burung malang itu kabur, hinggap sejenak di ranting pohon untuk berpikir, kemudian terbang dan tertutup rapat oleh kabut tebal.

“Biarkan ia menentukan jalannya sendiri, burung itu, selama lima hari di sini dan entah berapa lama ia di tahan oleh penjualnya—selama itu juga ia sendiri karena dipaksa dan terpaksa. Kamu tahu, Dean?

Kesendirian yang baik adalah tanpa adanya paksaan, menyendirilah ketika kamu sudah tahu apa yang ingin kamu renungkan.

Biasanya, kamu akan menemukan sesuatu atau banyak hal-hal baru, dan kembali ke kehidupan semula tanpa pernah meninggalkan jejak: menyakiti orang lain. Dan sekarang, aku memaafkanmu. Kau akan mengerti nanti—kata-kata sialanku ini—setelah kamu kembali sembuh.”

Tepukan tangannya di bahuku menyadarkanku bahwa ia telah selesai—bukan hal asing bagi kami berdua, sebab, setiap kali ia berbicara seakan-akan aku terbawa dan hanyut ke dalam ombak-ombak pemikirannya.

Ketika tersadar, aku akan terkulai lemah di tepian dengan wajah mengernyit akibat terminum air laut yang asin.

Kini aku menyadari bahwa apa yang dicita-citakan ibuku atas aku? Tidak sepenuhnya bodoh, terlepas dari keterangan yang tidak sepenuhnya lengkap. Ibuku tersayang mengajarkanku untuk berpikir dan mencari pikiran-pikiran orang lain untuk kembali dipikirkan.

Mudahkah hal itu? Menguasai sebuah negara sedang menguasai diri sendiri saja belum mampu? Tidak sayang, jawab ibuku.

Tapi aku akan menemukan jawabannya sendiri, ketika aku sudah mulai sadar—menyendiri dan merenungkannya tanpa sedikit pun meninggalkan jejak: menyakiti orang lain.

Baca Juga: Lalat

Jadi biarkan sakit yang diderita Purnomo atas kecerobohanku sembuh dengan sendirinya. Dan biarkan sakitku melebur oleh kata maafnya.

*****

Terhitung, 05 Desember 2015, sampai sekarang Maret 2017: aku tak pernah melepas kertas post it di kaca lemariku, di sana aku menuliskan “Selamat datang di kesendirian dan selamat berjuang untuk tidak sendirian lagi! -Dari Dean, calon penguasa, untuk Dean yang (masih) berusaha menguasai dirinya.”

Aku meyakini bahwa tulisan itu mampu menyadarkanku jikalau aku kebablasan dalam hal: menyendiri. Sebab, aktivitas itu sudah masuk ke dalam daftar teratas hobi-yang-rutin-dilakukan.

Belajar dari pengalaman, aku tak ingin menyakiti siapa-siapa lagi. Rasanya seperti melemparkan bumerang yang ternyata memburu kepala sendiri!

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.