Selagi Muda dan Selagi Membara; Mimpi Butuh Dana

Selagi Muda dan Selagi Membara; Mimpi Butuh Dana

Selagi Muda dan Selagi Membara; Mimpi Butuh Dana

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Dyas BP

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda”

Thexandria.com – Harusnya intro tulisan ini dimulai dengan lagunya SID feat Shaggy Dog yang judulnya, “Jika Kami Bersama”, dan enggak lupa sisipkan pula lagunya .Feast yang “Dalam Hitungan”, ya karena kami sepakat dengan salah satu lirik dalam lagu tersebut, ‘mimpi butuh dana’. Kalau lo pikir tulisan ini bakal ikutan nge-bully Baskara soal ‘musik metal paling keras’ lo salah. Walaupun kepingin hehe asal buat seru-seruan dan biar dianggap keren ngikutin trend. Sumpah gue enggak lagi sarkas. Lagian, itu based on his opinion.

Oke, back to the shit topic. Kali ini gue mau bahas soal idealisme yang dimiliki oleh lo ataupun gue, i mean, kita semua.

Lebih jelasnya, biar gue kasih kutipan dari Tan Malaka, “idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda”.

Idealisme sendiri secara umum dapat dimengerti sebagai sebuah keyakinan dari individu yang berdasarkan dari pengalaman dan preferensi hidupnya.

Kita semua paham dan pasti merasakan bahwa kita memiliki idealisme dalam landscape pribadi masing-masing. Dan mungkin saja, idealisme kita berbeda satu sama lain.

Pun erat kaitannya dengan perspektif, idealisme menjadikan kita melihat dunia dalam kacamata ‘kita semestinya’ bukan dengan ‘kita sebagaimana adanya’.

Idealisme tak pelak juga menjadi salah satu variable yang membentuk karakter dalam bersikap dan bertindak.

Dan di sinilah korelasi mengapa idealisme dikatakan oleh Tan Malaka sebagai ‘kemewahan’ terakhir yang dimiliki anak-anak muda.

Karna selagi kita muda, kita memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk memperjuangkan idealisme kita. Selagi muda, selagi membara, kita sadar atau tidak, kita terus berusaha mengeksplorasi kemampuan kita dalam mewujudkan apa yang kita ingin dan yakini.

Kemudian disinilah letak masalahnya dan mengapa kami mengambil kutipan lirik dari .Feast dalam lagu “Dalam Hitungan”.

Dalam proses mewujudkan keinginan kita, kita pasti dihadapkan pada satu permasalahan, yaitu dana. Itu sebabnya pula, lirik “mimpi butuh dana” tidak bisa diartikan secara harfiah, karna kalau diartikan secara harfiah, maka jelas lirik tersebut menjadi rancu. Karna untuk sekedar bermimpi atau menghayal, enggak perlu repot-repot musingin dana, cukup rebahan sembari menatap langit-langit kamar. Trust me, it works! Perut auto six pack~

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang, termasuk mimpi-mimpi yang terbalut dalam idealisme kita.

In case sebagian orang harus ‘rela’ untuk ‘menggadaikan’ idealisme-nya demi mendapatkan dana untuk kemudian menjadi batu loncatan dalam menggapai mimpinya. Kecuali, lo anak sultan.

Kenapa gue gunakan diksi ‘menggadaikan’ yang bisa dibilang cukup kasar?

Karena lo bisa temukan dimana-mana, bisa jadi temen lo, atau mungkin lo sendiri, yang saklek sama idealisme lo, hingga lo enggakmau merelakan waktu sebentar untuk mentolerir keadaan lo. Sialnya, di titik ini pula dilematis bermula.

Lo sadar kenapa Tan Malaka bilang, ‘idealisme adalah kemewahan TERAKHIR yang dimiliki pemuda’ ? Ada kata-kata ‘terakhir’ yang gue bold disitu.

Karna kembali lagi ke proses yang dalam perjalanannya, kita seringkali harus mentolerir keadaan, yang celakanya bisa membentuk comfort zone atau zona nyaman. Nyanyi ‘sembilu yang dulu’ gue gampar lo~

Sehingga seiring waktu bergulir, comfort zone itu dapat mengikis idealisme kita. Itu sebabnya kita sering menemukan orang-orang dewasa cenderung pragmatis, dan itu sejatinya bukan sebuah kesalahan.

Gue enggaktau harus mengatakan ini apa, boleh jadi adalah sebuah ‘lingkaran kehidupan’ atau paradox dalam idealisme itu sendiri.

Yang kalau gue rangkum, kurang lebih adalah;

Lo idealis tapi terkendala cuan. Lo kerja tapi enggak sesuai idealisme lo. Lo mentolerir keadaan. Tapi ternyata, keadaan yang sudah lo tolerir, membentuk zona nyaman. Lo kebablasan. Idealisme lo sisa kenangan sewaktu muda. Selesai.

Apa Solusinya?

Sub judul ini jujur click bait. Gue enggak tau apa solusinya dan bisa aja someday, gue menjadi ‘korban’ dari paradox idealisme gue sendiri. Karna yang pertama, gue masih muda gampang insecure-an walaupun belum di tahap toxic. Dan yang kedua, dana buat mimpi-mimpi gue belum cukup.

Tapi satu hal yang sebenarnya bisa jadi spirit buat kita menggapai idealisme kita tanpa harus takut terjebak dalam comfort zone disuatu hari nanti. Gunakan. Perspektif. Terbalik.

Yang pertama, kita masih muda, kita bisa terus coba banyak hal, kita masih punya waktu to rock & roll dan enggak ada salahnya jadi pragmatis, asal enggak oportunis.

Yang kedua, karna dana belum cukup untuk mewujudkan mimpi. Kita harus cerdas menempatkan posisi. Kalau lo pikir mimpi-mimpi lo enggak mungkin terwujud? Lo bisa liat keatas. Berapa banyak anak-anak muda yang berhasil mencapai keinginannya sebelum tua. Lo bisa lihat kebawah, berapa banyak anak muda yang masih ditahap mengkhayal dan sementara lo sudah ditahap berjuang.

Baca Juga: Bulan Puasa 2020 Vibes Check: Ramadhan yang Dulu Bukanlah yang Sekarang

Terakhir. Please, kita harus percaya sama mimpi-mimpi kita. Karna kalau kita sendiri ragu, gimana orang lain mau percaya sama mimpi-mimpi lo? Kalau kita percaya sama mimpi-mimpi kita, even kita harus mentolerir keadaan, kita juga punya sisa kekuatan untuk keluar dari zona nyaman dan ngelanjutin mimpi-mimpi yang tertunda.

Gue nulis ini sebenarnya juga buat self reminder. Kalau someday gue terjebak dalam zona nyaman yang enggak sesuai sama apa yang gue impikan. Setidaknya gue bisa baca lagi tulisan ini, gue investasi kekuatan keberanian untuk kembali melanjutkan apa yang belum gue capai.

Besides, gue yakin. Semua orang akan menemukan dengan apa yang dia cari.

Untuk sekarang, selagi muda, selagi membara. Kita ‘enggak bisa apa-apa’ kecuali terus berjuang. Terus konsisten sama mimpi kita. Terus berani merealisasikan ide. Dan yang terpenting, enggak sekedar wacana.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.