Sektor Ekonomi yang Lesu, Nasib Pekerja, dan ‘Senjata Pamungkas’ di Kala Krisis Mendera

Sektor Ekonomi

Sektor Ekonomi yang Lesu, Nasib Pekerja, dan ‘Senjata Pamungkas’ di Kala Krisis Mendera

Penulis Faisal | Editor Rizaldi Dolly

Ketika ekonomi makro Indonesia ‘sekarat’, ekonomi mikro lah yang menyelamatkan nadir perekonomian.

Thexandria.com – Hari ini masyarakat dilanda kebingungan persoalan wabah global yakni pandemi Covid-19. Sebagian masyarakat merasa dibuat gagal paham akibat simpang siur pemberitaan oleh pemerintah perihal himbauan, sampai dengan putusan kebijakan yang beredar ditengah kaum awam. Lingkup sendi-sendi kehidupan sosial mau tidak mau bergeser. Mulai dari kebiasaan rutinitas kalangan umum, hingga diberlakukannya protokoler kesehatan oleh pemerintah dengan istilah New Normal—atau dalam bahasa oposisi politik disebut, “bendera putih dari pemerintah”.

Saya sebagai penulis turut merespon peristiwa sosial hari ini, tentu dengan opini dan keterbatasan dalam merangkum serangkaian peristiwa dari apa yang dilihat-didengar-dirasakan. Spektrum kecil, namun empirik.

Kurang lebih 3 bulan lalu sampai hari ini kita sudah melalui dan menjalani himbauan serta peraturan release pemerintah atas pandemi covid-19 itu sendiri. Seluruh elemen masyarakat pun ikut terlibat dalam pencegahan dan menekan angka penyebaran Covid-19.

Walaupun juga tidak dipungkiri bahwa yang namanya virus, adalah sesuatu tak kasat mata, so, it becomes more difficult. Tantangan yang lebih serius jatuh kepada para ahli kesehatan yang berjuang di garda terdepan untuk penanganan korban.

Sementara itu, perjuangan unik dirasakan oleh kalangan masyarakat umum yang cukup beraktifitas didalam rumah atau populer di dunia maya dengan hastag #dirumahaja / #stayathome. Dari sektor pekerja, aktivitas perkantoran dikenal dengan istilah #workfromhome yang juga dalam prakteknya, terjadi perubahan-perubahan mekanisme kerja yang tak main-main. Misalnya, pemotongan gaji apabila telat absen online dan pengawasan kantor terhadap mobilitas karyawan melalui sistem gps.

Ekonomi Makro ‘Tiarap’

Di lain hal, covid-19 juga membawa dampak krisis ekonomi yang cukup parah menghantam sektor perekonomian, khususnya di bidang ritel, wisata, dan kuliner yang semuanya mengalami penurunan omset yang signifikan.

Sektor Ekonomi Makro
Gambar hanya ilustrasi

Bahkan, banyak gerai-gerai besar yang storenya ‘menginduk’ di mall terpaksa tutup dan akhirnya para pekerja lah yang paling terdampak.

Sehingga dapat dikatakan pula, terjadi sebuah potret ironis karena banyaknya pekerja yang dirumahkan. Sebuah peribahasa dapat memenuhi unsur sensitifitas guna menggambarkan situasi perekonomian yang ada, dan mungkin yang paling cocok adalah; ‘sudah jatuh tertiban tangga’.

Korban Pemutusan Kontrak Karya Pekerja, Pemutusan Hubungan Kerja dan Pengunduran Diri Paksa dibalut dalam permainan terminologi, oleh hampir semua pengusaha makro dengan mengatasnamakan keputusan manajemen perusahaan—menjadi istilah yang cenderung terdengar agak di-humanis-kan, hingga menjadi istilah; ‘dirumahkan’.

Bagi penulis, ini sebenarnya menjadi satu hal yang selain disatu sisi memprihatinkan, juga menjadi titik balik sikap kritis dalam melihat fenomena yang terjadi.

Betul, merebaknya PHK memang menjadi keputusan krusial yang tak bisa sepenuhnya disalahkan kepada para pengusaha, sebab, seluruh roda perekonomian global memang dipaksa tiarap.

Penulis ingin menuangkan sikap kritis dalam bentuk pandangan yang mungkin dapat menjadi pilihan alternatif bagi para pengusaha dalam mengambil kebijakan. Pun juga, para pekerja jangan hanya dilihat sebatas aset untuk meraih benefit materi semata. Para pekerja harus dilihat sebagai insan yang memiliki hak dan kewajiban demi dapur tetap bisa ngebul.

Penulis menuangkan 4 point pemikiran, yaitu:

  1. Sikap jujur perusahaan yang disertai transparansi, dan akuntabilitas atas kondisi pandemi.
  2. Menentukan Strategi Bisnis untuk bertahan dengan Pivot dari Core Bisnis atau menjalankan fungsi keduannya dengan cara mengarahkan karyawan menyesuaikan kebutuhan saat ini.
  3. Karyawan dengan status kontrak yang dilematis antara pemutusan dan perpanjang, karena dirasa karyawan baik enggan untuk melepaskan. Sebaiknya, tawarkan dengan opsi menjadi mitra/distributor/reseller/freelance.
  4. Lakukan negoisasi dengan pekerja melalui bripartite.

Tentunya yang paling penting, pengusaha harus tetap berpedoman pada mekanisme hukum yang berlaku, yakni, UU Ketenagakerjaan. Dan pemerintah, harus semakin gencar memberikan advice yang tak hanya lipsing, namun solutif, serta meningkatkan pengawasan regulasi.

Baca Juga Suguhan ‘New Normal’ Ala Pemerintah: Jadi Pembiasaan atau Pembiasan?

Sektor Ekonomi Mikro, Sebuah Manajemen Krisis yang Solid

Di Balikpapan, dampak covid-19 mungkin memang tak separah di Jawa. Namun sesuai dengan apa yang tertulis sebelumnya, ekonomi dalam skup makro di Balikpapan juga tergiling. Mall-mall tutup, hotel sepi, dan banyak sekali industri Food and Beverage baik taraf nasional maupun multinasional gencar melakukan strategi ‘jemput bola’ dengan menempatkan karyawannya di banyak sudut jalan—pasca diberlakukannya new normal.

Yang menjadi unik, bila kita perhatikan, saat pra new normal, ketika covid-19 sedang galak-galaknya, perekonomian Balikpapan secara keseluruhan sebetulnya ‘tertolong’ oleh para pelaku usaha UMKM beserta para pedagang kecil. Sebab karena mereka lah, perputaran uang di Balikpapan tidak tersendat separah di pulau Jawa—atau malah, boleh jadi, yang meminimalisir dampak ekonomi nasional, juga karna aktivitas perekonomian skup mikro tersebut.

Sektor Ekonomi Mikro
Gambar hanya ilustrasi

Sederhananya, ketika ekonomi makro Indonesia ‘sekarat’, ekonomi mikro lah yang menyelamatkan nadir perekonomian.

Apa point yang bisa kita simpulkan? Ini jelas. Ketika pemerintah Indonesia menggelar karpet merah untuk para investor asing yang ujungnya, gelontoran dana tersebut ditujukan kepada sektor ekonomi makro. Sementara ekonomi mikro terkesan ‘termarjinalkan’—padahal, berkaca dari situasi krisis, apabila pemberdayaan dan perhatian khusus dicurahkan pemerintah untuk sektor UMKM dan para pedagang kecil, justru malah dapat menjadi manajemen krisis yang solid.

Ini harus menjadi perhatian, sebab pemberdayaan UMKM dan para pedagang kecil dapat menopang perekonomian nasional demi menjaga ritme perputaran uang yang melambat ditengah krisis.

Dengan diberdayakannya UMKM dan para pedagang, sektor mikro dapat menjadi ‘jurus pamungkas’ Indonesia dikemudian hari.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.