Seikat Kisah Ringkas Gulungan Pertama; Cerita yang Jarang Dibahas Orang

Seikat Kisah Ringkas Gulungan Pertama; Cerita yang Jarang Dibahas Orang

Penulis M. Zein | Editor Rizaldi Dolly

Salah Benar

Televisi 14 inch adalah satu-satunya barang elektronik mahal yang kami punya. Semenjak ditinggal bapak mati, ibu jadi jualan jamu tradisional setiap pagi. Sedangkan hidupku, sering dipecat dari pekerjaan karena keseringan datang terlambat.

Ibu bergumam di depan televisi. Ia menyaksikan siaran berita yang dari kemarin sudah menyita banyak perhatiannya, yaitu perihal salah seorang pemuka agama yang ketahuan memakan daging babi. Lantas masyarakat mengata-ngatainya kafir.

“Masyarakat dan penghakimannya.” Kata ibu.

Aku bertanya, “Kenapa, Bu?”

“Supri, coba lihat ini,” aku duduk di lantai di sebelahnya. “Kalau kamu melihat orang melakukan kesalahan, jangan katai dia dengan hal-hal yang menurut kamu benar, apalagi sampai menggerakkan massa demi ambisimu semata. Dan jangan sok suci, kalau jadi kafir saja belum pernah.” Lanjutnya.

Aku mengangguk-angguk, perkara agama siapa yang mau mendebatnya?

Seusai nonton berita, aku masuk ke kamar. Dari belakang ibu berpesan: tapi tetap lakukan apa yang menurut kamu benar, biarpun itu salah di mata manusia, asal jangan memaksa orang lain ikut melakukannya. Aku mengangguk-angguk lagi. Perkara omongan ibu, siapa yang mau jadi durhaka dengan mengelaknya?

Aku berbaring sebentar. Pintu depan ada yang membuka, tak lama ditutup kembali. Kurasa itu ibu, entahlah.

Semakin lama aku semakin terpengaruh omongan ibu. Aku jadi ingin melakukan apa yang menurutku benar, meskipun salah di mata orang lain, asal tidak mengajak yang lainnya. Baiklah, mantel kulit sudah terpakai, rambut tersisir rapi, kumis dan jenggot aman. Setelah menaikkan standar, motor kugas menyongsong kabut malam.

Sesampainya di tempat tujuan yang tak jauh dari rumah, terlihat banyak wanita dari yang muda sampai tua sedang asyik menunggu seseorang. Aku berbelok ke penjual kondom sambil bergumam, “Umurku sudah legal untuk beli ini”.

Setelahnya, aku berbelok lagi untuk mencari wanita di sepanjang lorong komplek. Jalanan yang kulalui sangat baru, ini kali pertamaku, dan aku terkejut di sepanjang kakiku melangkah, tak ada henti-hentinya wanita-wanita itu menanyakan, “Nggak mau ngewe sama aku tah, Mas?”

Ini bukan saatnya, maksudku, aku harus pilih-pilih dulu. Di suatu momen ketika kepalaku tolah-toleh ke sana-sini, aku sampai tak hati-hati menatap ke depan.

Di pertengahan lorong aku menabrak seseorang, ia setengah terjatuh, membungkuk, meraih tasnya dan berdiri lagi. Kami langsung bertatap-tatapan, ada yang tak asing. Aku mengucek-ngucek mata, berkali-kali, sampai sadar ini nyata.

“Ibu?”

Makhluk Pengganggu

Seluruh keluarga sudah tahu, di kamarku, bukan hanya akulah satu-satunya makhluk yang menempati. Apalagi kamarmu selalu kotor, kata ibuku. Tempat-tempat yang seperti itu memang rentan mengundang ‘dia’ masuk, tambahnya.

Ibuku tentu saja tak berbohong. Bukan semata-mata menakut-nakuti supaya aku rajin membersihkan kamar. Pernah suatu waktu, aku baru sampai di rumah jam 6 sore sepulangan kerja, lalu ibuku mengomel.

Kalau kamu tak segera membersihkan kamarmu, bukan hanya kamu, tapi semua orang di rumah ini bakal terkena imbasnya: ketemu sama ‘dia’, katanya dengan nada mendesak. Aku tak suka didesak, jadi aku menjawab seadanya: nanti kalau ‘dia’ datang, pasti aku usir kok. Padahal, aku takut sekali sama ‘dia’.

Entah kualat atau apa, di pertengahan malamnya, ketika aku tak juga bisa tidur, ‘dia’ benaran datang. Ujuk-ujuk menengok dari balik lemari pakaian, aku kaget seperempat mati dan pikiranku mendadak rusak, sehingga aku tak pakai mikir telah melempar asbak rokok—yang kuharap mengenainya. Tapi malang, asbak itu mendarat ke cermin lemari. Bunyi pecahan yang nyaring membuat ibu dan bapak terbangun, juga adik. Dan ‘Dia’, langsung kabur.

Mereka lantas mempertanyakan, dan aku segera menjawab. Mereka paham ketakutanku, sebab dari kecil aku sudah sering diganggu. Malam itu, aku merasa sedikit aman ketika pada akhirnya kuputuskan untuk berbagi kasur dengan adikku, di kamarnya.

Setelah kejadian itu, secara berangsur-angsur kubersihkan kamarku, dekorasi sana-sini, menerangkan dinding yang gelap, mengharumkan yang berbau. Tapi karena memang dasarnya makhluk itu tak bisa melihat barang sedikit, perihal perjuangan manusia, ‘dia’ masih suka datang.

Aku betul-betul menderita, jadi kuputuskan untuk menyenggol sebagian uang tabungan demi membayar siapa, atau apa saja yang bisa mengusirnya. Ibuku punya saran, setelah mendengarkan, aku memberinya sejumlah uang.

Baca Juga: Antara Mc’Donald, Mahasiswa-mahasiswi dan Tugas Kuliahnya, serta Pengunjung Lain yang Resah

Benda itu tak asing bagiku, tapi sejujurnya aku baru tahu bahwa ‘aromanya’ bisa membunuh ‘dia’. Betulan bisa membunuhkah? Tanyaku tak percaya. Ibuku menjawab, kamu bakal percaya nanti.

Jadi, malam itu aku menyusun rencana. Lampu kumatikan, bungkus jajanan kulempar ke sana-sini, segala macam bebauan kuoles di setiap dinding dan sudut-sudut kamar, untuk memancing kedatangannya. Ibuku berjaga-jaga di ruang keluarga yang tak jauh dari kamarku. Aku merebahkan diri, situasiku sekarang berada di pertengahan antara takut dan tidak takut.

Mungkin karena memang dari kecil aku sudah sering diganggu, telingaku sampai bisa mendengar kedatangannya. Awalnya aku ragu ‘dia’ akan menyelinap masuk ke selimutku, tapi perlahan-lahan, perasaan seperti ‘digerayangi’ itu semakin kuat. Kakiku ingin memberontak tapi otakku beku, dan mulutku menolak untuk terlibat.

Dengan kondisi napas yang terengah-engah, keringat dingin yang menetes laju ke bantal, badan yang kaku—aku jadi semacam ketindihan. Hingga pada akhirnya mulutku bisa lolos dari jerat ketakutan, ibuku datang segera ketika mendengar teriakan.

Dengan gerakan yang mantap dan tangkas, ibu gesit membuka selimutku, tangan satunya memegang dan mengarahkan benda tersebut tepat ke tubuh ‘dia’. Sejurus setelah bunyi semprotan yang panjang, ‘dia’ akhirnya guling-gulingan di kasur, kejang-kejang. Hanya dalam hitungan detik, ‘dia’ benar-benar mati.

“Nah, kan. Apa ibu bilang? Baygon semprot memang ampuh bunuh kecoa.”

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.