Seharusnya, Kita Bisa Banyak Belajar dari Mas Anji

Seharusnya, Kita Bisa Banyak Belajar dari Mas Anji

Penulis Dyas BP | Editor Adi Perdiana

“Tidurlah, selamat malam. Lupakan sajalah aku. Mimpilah, dalam tidurmu. Bersama Bintang..”

Drive-Bersama Bintang

Thexandria.com – Sebagian besar dari kita mungkin tidak asing dengan penggalan kalimat di atas. Jika dilengkapi dengan nada yang tepat, maka kalimat tersebut akan menjadi sebuah lagu yang cukup hits di masanya. Ya, lagu tersebut berjudul “Bersama Bintang” yang dibawakan oleh salah satu band ibukota ternama, Drive.

Pada periode 2000-an, mereka cukup melesat di industri musik Tanah Air. Kala itu, formasi Drive masih diisi oleh Saleh Budi Rahardjo, Ilhamsyah Dyego Pratama. Adi Sukarno Suryo Bawono dan Erdian Aji Prihartanto alias Anji. Anji yang kala itu menjadi ikon bagi Drive, memilih hengkang pada tahun 2011.

Selepas itu Anji memilih untuk bersolo karir. Banyak menelurkan single solo dan juga memproduseri beberapa musisi lain, pria yang kerap memakai kupluk ini juga menambah sayapnya di dunia entertaiment lewat kanal Youtubenya yang sudah menembus jutaan Subscriber hingga saat ini.

Dalam kanal Youtube tersebut, Anji sering menyuguhkan konten yang santai, rileks dan tetap mempertahankan unsur musik di dalamnya.

Tak hanya membuat karya digital, terkadang dia juga menumpahkan keresahan yang terjadi di sekitarnya. Salah satunya adalah saat dia bersuara dengan menyoroti beberapa poin dalam draf RUU Permusikan beberapa tahun lalu. Keberaniannya itu yang mengundang acungan jempol dari banyak musisi karena peduli akan kesejahteraan musisi bahkan dalam skala yang lebih kecil.

Nampaknya, keresahan Anji tak hanya sampai di situ. Sebuah postingan foto jenazah pasien Covid-19 yang terbungkus sangat rapi cukup men-trigger Anji, sekaligus merespon situasi pandemi yang tidak kunjung reda. Respon yang lahir dari Anji adalah pertanyaan besar tentang keabsahan dan kesahihan foto tersebut. Ia merasa ganjil ketika ada seorang fotografer dengan bebas diizinkan memotret jenazah yang telah dibungkus plastik sementara keluarga dari jenazah tidak diperkenankan.

“Foto ini terlihat powerful ya. Jenazah korban cvd (COVID-19 -red). Tapi ada beberapa kejanggalan,” kata Anji, mencantumkan karya dari fotografer Joshua Irwandi, Minggu (19/7).

View this post on Instagram

To photograph the victims of coronavirus in Indonesia is the most heartbreaking, most eerie photography I have ever done. In my mind at the time I only thought what happened to this person may well happen to people I love, people we all love. I’ve witnessed first hand how the doctors and nurses are continuously risking their lives to save ours. They are the true heroes of this story, and the only way to appreciate their work is to follow what they advise us. We felt it was absolutely crucial that this image must be made. To understand and connect to the human impact of this devastating virus. The image is published here today as a reminder and a warning, of the ever looming danger. To inform us of the human cost of coronavirus and how world governments have let matters get so far. As we head towards the second wave of the pandemic, people must realise they cannot take this matter lightly. This photograph accompanies an article that appears in the National Geographic Magazine @natgeo in the new upcoming August 2020 issue. LINK IN BIO. It is also the first time I’d see the image in print. There are many people to thank, most notably @kayaleeberne, in which this is the first print NG story she edited; @jamesbwellford for reacting on the story from early on; @andritambunan, @kkobre, and @paullowephotography for their advice; and last but not least my mentor @geertvankesterenphoto for his unrelenting support since day one. I would like to dedicate this to the medical staff – whose selfless efforts allow us to continue to live. I am truly humbled to be in their midst countering this pandemic. And to my late Uncle Felix who, two years before he passed away earlier this year, sent me an email: ‘Keep on taking pictures and never fail to report to let the world know what has really happened.’ Please share this story and please act. This is the pandemic of our lifetime. We must win this battle. Supported by the @forhannafoundation and @insidenatgeo COVID-19 Emergency Fund for Journalist. @natgeointhefield #natgeo #joshuairwandi #natgeoemergencyfund #documentaryphotography #photography #covid19 #covidstories #nationalgeographicsociety #pandemic #stayathome

A post shared by Joshua Irwandi (@joshirwandi) on

Selain itu, Anji juga menggaris bawahi polarisasi penyebaran informasi yang dilakukan oleh akun-akun yang memiliki banyak pengikut. Anji curiga ada key opinion leader (KOL) yang mengarahkan viralnya opini mengenai hal tersebut. Polarisasi dalam penyebaran foto tersebut dia anggap mirip-mirip dengan pola yang dipakai oleh para buzzer.

Warganet berbondong-bondong menghujat Anji karena berbicara yang tidak seharusnya dan terkesan meremehkan virus satu ini. Namun, sampai di sini, saya pun mewajarkan kecurigaan mas Anji saat (untungnya) ia menjustifikasi bahwa sudut pandangnya tersebut berdasarkan kacamata sebagai seorang influencer. It’s okay..

Belum juga selesai huru-hara yang telah ia buat, Anji kembali membuat ulah yang kontroversial. Perbincangannya di kanal YouTube-nya dengan Hadi Pranoto yang ia klaim sebagai seorang profesor atau ahli mikrobiologi. Video tersebut berjudul “Bisa Kembali Normal? Obat Covid-19 Sudah Ditemukan!!”.

Dalam wawancara tersebut banyak kejanggalan pernyataan yang dilontarkan oleh Hadi Pranoto. Salah satunya adalah komparasi antara tingkat kekuatan virus Covid-19 dengan partikel baja. Menurut sang profesor (katanya), virus Sars Corona hanya akan mati dalam suhu panas di atas 350°C. Sementara menurut data WHO, virus tersebut akan mati pada suhu 56°C (10rb unit per 15 menit).

Mereka juga sepakat bahwa suhu di atas 350 derajat dapat melelehkan sebuah baja, yang nyatanya apabila mereka membaca lebih banyak lagi, baja akan meleleh pada suhu 1500°C.

Sebenarnya masih banyak pernyataan lain yang ‘menyesatkan’ hingga akhirnya video tersebut dihapus oleh pihak YouTube. Hingga kabar terbaru mengatakan bahwa Anji dan Hadi Pranoto dilaporkan ke pihak kepolisian karena menebar kebohongan.

Sebuah Pelajaran

Dari persitiwa tersebut, kita bisa untuk mengambil hikmah bahwa segala sesuatu memiliki batasannya masing-masing, termasuk freedom of speech (kebebasan berpendapat). Meskipun secara konkret belum diketahui pasti batasan secara detil, namun melarang seorang artis untuk tidak berbicara terlalu dalam soal Covid-19 tidak akan menciderai freedom of speech itu sendiri, kok—setidaknya pada kasus mas Anji ini.

Karena membiarkan seorang Anji berpendapat atau berfantasi tanpa memiliki kapabilitas dalam bidang epidemiologis atau mikrobiologis akan ngeri-ngeri sedap. Sebagai publik figur yang memiliki pengikut sangat banyak, dengan statement yang tak berdasar kuat dan tanpa melalui riset mendalam, tentu akan menciptakan miskonsepsi dan bias di masyarakat. Pendapat seorang Anji terhadap perkembangan pandemi ini sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan dan diprediksi melahirkan potensi opini yang debat-able.

Baca Juga Wacana Otonomi Khusus Jilid II: Rakyat Papua yang Hanya Menjadi Penonton

Selain Anji sebagai seorang influencer, para pengikut yang menjadi objek aktivitas influence pun harus sedewasa itu memilih-memilah informasi. Karena tak hanya sang influencer yang memiliki tanggung jawab, para followers pun juga—meskipun kadar tanggung jawabnya saja yang berbeda, edukasi bagi diri adalah substansinya.

Kultur masyarakat dalam menyikapi sebuah keributan saat ini masih terjebak melihat kepada sebuah ‘sosok’ bukan ‘sudut pandang’. Padahal jika dianalogikan; seorang anak sastra akan sah-sah saja jika membahas soal dunia otomotif.

Menurut kacamata sastra, akan hadir dramatisasi dari panasnya knalpot, sekali lagi dari sudut pandang sastra, bukan anak sastra. Pun, pembahasan secara basic, general dan tidak serampangan akan menjadi batasan yang mengakar dengan sendirinya.

Tetapi yang dilakukan mas Anji sudah tidak basic, general dan terkesan serampangan. Mas Anji bukanlah satu-satunya pelopor monumental betapa harus berhati-hatinya dalam berpendapat di luar lingkup musik sebagai seorang musisi. Agar tak terlalu jauh, apakah mas Anji tidak mengetahui bahwa sang legenda hidup musik, Ahmad Dhani, kemarin dipenjara karena ucapannya?

Terpenting adalah, dari mas Anji kita seharusnya belajar, kebebasan berpendapat juga memiliki batasan terhadap ‘kebebasan’ agar tidak menjadi ‘kebablasan’. Jika dirasa tidak mampu mempertanggung-jawabkan pernyataan kita ke publik (apalagi sebagai publik figure) sebaiknya diam saja, apalagi tidak memiliki ‘ilmu-nya’. Setidaknya seperti itu nasihat Ariel kepada Anji.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.