Sebuah Paranoia; Eskalasi AS-Iran yang Meninggi, Berpotensi Perang Dunia ke-3? Perang Dunia Ndasmu!

Sebuah Paranoia; Eskalasi AS-Iran yang Meninggi, Berpotensi Perang Dunia ke-3 Perang Dunia Ndasmu!

Sebuah Paranoia; Eskalasi AS-Iran yang Meninggi, Berpotensi Perang Dunia ke-3? Perang Dunia Ndasmu!

Penulis: Rizaldi Dolly | Editor: Dyas BP

Awal tahun 2020, dunia dikejutkan dengan terbunuhnya seorang petinggi militer Iran, Mayor Jendral Qassem Soleimani, lewat skema penyerangan udara (pesawat tanpa awak) di Baghdad, Irak, oleh biang keributan Amerika Serikat.

Mayjen Qassem Soleimani, diberitakan oleh banyak media sebagai salah satu petinggi top militer Iran, almarhum diketahui memimpin sebuah pasukan elite Quds Iran, yang konsen terhadap operasi intelijen luar negeri.

Terbunuhnya almarhum Qassem Soleimani di Irak, semakin menguatkan posisinya sebagai perwira tinggi yang menurut perhitungan intelijen Amerika, Qassem berada dibalik berbagai teror di Irak yang memang telah menewaskan banyak Tentara AS.

Mungkin banyak dari kita yang kurang jeli mengapa terbunuhnya Qassem begitu penting, baik buat Iran, maupun Amerika Serikat.

Irak Adalah Koentji

Ini sebenarnya penting banget, lho! Untuk bisa mengerti dimana letak urgensinya, kita harus mendalami lokasi terbuhnya Qassem Soleimani.

Qassem tidak dibunuh di Iran, melainkan di Irak, mengapa demikian? Karena dari saat dulu AS meng-invasi Irak untuk menggulingkan Saddam Husein, pasca runtuhnya Saddam, AS kemudian terus bercokol di Irak untuk mengeksploitasi minyak mendirikan sebuah pemerintahan ‘demokratis’ yang dianggap sebagian pihak sebagai sebuah negara boneka bagi rezim AS.

Pihak-pihak yang kontra tersebut, lantas terpecah menjadi beberapa faksi militer, seperti Taliban dan milisi syiah Iran, alhasil? Irak menjadi arena proxy war, sampai sekarang ini.

Irak terus menjadi salah satu pusat kekacauan di dunia, dimana aktor-aktor yang terlibat adalah, Militer dan Intelijen AS (lewat pemerintah Irak), Kelompok taliban (sunni), milisi syiah (didukung penuh Iran), dan ISIS yang tiba paling belakangan. Dan tau apa yang paling buruk dari ini semua? Ya, benar sekali, mereka semua saling berperang satu sama lain.

Ada latar belakang historis yang kuat mengapa pemerintah Iran, turut serta dalam proxy war di Irak, yaitu, sebuah dendam masa lalu. Di era Saddam Hussein, dimana Irak kala itu adalah mayoritas sunni, dianggap banyak melakukan kekerasan terhadap kelompok syiah, begitupun sebaliknya.

Irak kala itu berdalih bahwa kelompok syiah yang dikomandoi oleh Iran, terus melakukan upaya pembunuhan terhadap kelompok sunni. Bahkan, Irak waktu itu sempat menyerang Iran secara konvensional.

Sudah nemu benang merahnya? Belum? Huft~

Kekacauan politik dan keamanan di Irak yang terus berlangsung hingga kini, dikarenakan memang belum tercapainya kedamaian secara penuh di Irak, semua aktor ngotot demi kepentingan masing-masing, waktu pun terus berlalu.

Posisi Iran semakin ‘baik’ di Irak, kelompok milisi syiah mendapat bantuan logistik dan intelijen memerangi musuh-musuhnya di Irak, dan itu semua, berkat pemimpin operasi mereka, the one and only, almarhum Mayjen Qassem Soleimani!

Tak hanya dipihak Taliban, pihak AS pun, turut banyak yang gugur di Irak, sebuah skema operasi pembunuhan pun dilakukan oleh pentagon, ATAS perintah langsung Chief of Commander US Army, presiden Donald Duck Trump.

Buat Iran, terbunuhnya mayjen Qassem Soleimani bisa jadi sebuah kehilangan aset militer dan intelijen terbaiknya, karna sukses menjalankan operasi-operasi intelijen di luar negeri, khususnya Irak.

Buat Amerika, terbunuhnya Qassen Soleimani, adalah sebuah ‘pemutusan rantai komando’ musuh di Irak, sebuah target high profile, dan mission complete! Persetan soal akibatnya, pikir Amerika.

Dari Pemakzulan, ke National Security

Pentagon melaporkan, operasi pembunuhan terhadap Qassem Soleimani adalah perintah langsung Donald Trump. Donald Trump mengatakan, Qassem merupakan seorang teroris yang telah banyak membunuh tentara dan warga AS di Irak, dan langkah yang ia ambil, merupakan sebuah langkah demi national security paman Sam.

Namun apakah benar demikian? Tak banyak pengamat-pengamat yang melihat bahwa semua ini bisa saja memiliki korelasi dengan politik AS yang sedang menghangat, yaitu, pemakzulan Donald Trump. Apa landasan gue bilang begitu? Trump saat memerintahkan penyerangan, diketahui TIDAK BERKONSULTASI dengan kongres Amerika Serikat. Dan hal tersebut mendapat kritikan keras, karna bagaimanapun, sebuah kebijakan strategis lumrah meminta pertimbangan dan persetujuan dari kongres.

Hasilnya terlihat, baik publik AS maupun dunia, teralihkan dari isu pemakzulan Donald Trump kepada sebuah paranoia internasional.

AS pun, menarik pulang para pekerjanya dari Irak, menyusul respon keras dari pemerintah Iran.

Perang Dunia ke-3

Dan kita sampai untuk mencicipi hidangan specialnya, bumbu utama dari krisis AS dan Iran, sebuah perang yang berpotensi menyulut perang dunia ke-3.

Kini dari segala penjuru dunia, mulai dari kedai-kedai kopi di Paris, bar di Inggris, New York yang riweh, sampai anak gaul di Jakarta Selatan dan wabil khusus milenial Indonesia yang 90% lebih suka nonton netflix ketimbang membaca berita, semua membicarakannya, perang dunia ke-3.

Pada dasarnya, lahirnya paranoia di awal tahun ini memang cukup logis, dikarenakan kedua belah pihak yang berseteru sama-sama memiliki senjata nuklir. Meskipun jika kita menghitung hulu ledaknya, AS punya lebih banyak ketimbang Iran yang nuklirnya bisa dibilang ‘ketengan’. Tapi iya, gue ngerti, yang namanya nuklir tetaplah nuklir, sebuah senjata pemusnah masal yang dapat meniadakan kaum homo sapiens.

Dan apakah eskalasi yang memanas antara AS dan Iran ini benar-benar dapat memicu perang dunia ke-3? Ndasmu perang dunia! Potensinya tetap ada, tapi tidak terlalu besar. Begini…

Premis yang ditakutkan oleh umat manusia adalah, senjata nuklir. Tak dapat dinafikan, bahwa memang, jika kita melihat pada kajian geopolitik dunia, satu-satunya hal, yang berpotensi besar menyulut perang besar adalah, senjata nuklir, dan sebetulnya, potensi tersebut, memang telah ‘terpelihara’ sejak era perang dingin.

Tak hanya Iran, negara-negara yang berpotensi meletuskan perang nuklir juga banyak, konflik Korut dan Korsel serta Pakistan dan India, adalah sebuah bukti dari ancaman perang nuklir yang masih ada!

Even sekarang, soal korut bisa kita kesampingkan, menyusul ‘melunak’nya Kim Jong Un, yang lebih berbahaya sebenarnya, itu tuh, India versus Pakistan, mereka berdua sama-sama punya nuklir.

Baca Juga: Tersangka Penyiraman Air Keras yang Juga Melumpuhkan Atensi Kasus Jiwasraya: Drama, Oh Drama

Dan kalau gue ditanya apakah isu terbunuhnya Qassem Soleimani dapat memicu terjadinya perang nuklir? Gue 90% menjawab tidak. Why?

First, ini adalah proxy war di Irak, kalaupun terjadi perang konvensional? Lokasi pertempuran tetap akan berfokus di Irak, atau paling buruk, akan terjadi efek domino di Timur Tengah, yang akan semakin membuat problema di Timteng makin buram.

Second, mekanisme penggunaan senjata nuklir, merupakan last option yang akan melibatkan intervensi banyak negara di dunia lewat PBB. Sebelum perandaian perang konvensional terbuka, perang di jalur diplomasi akan keras, saling sanksi akan terjadi, harga minyak dunia akan jadi pertaruhan, dan itu, merupakan HAJAT HIDUP SELURUH UMAT MANUSIA.

Third, perang dunia akan terjadi jika, melibatkan banyak pihak, di sisi AS, NATO dapat menjadi sebuah pintu masuk potensi world war terjadi, namun, disisi Iran, kekuatan sekutu Iran terbilang kecil, jika kita mengandaikan Rusia masuk kedalam blok Iran, perlu diingat, bahwa Iran bukan China, yang mempunyai hubungan ideologis yang kuat, meskipun sejauh ini, Rusia terlihat ‘memihak’ kepada Iran, hal ini dibuktikan pada kasus Suriah, dimana Rusia dan Iran sama-sama mendukung Presiden Bashar Al-Ashad.

Last, bre… soal isu Iran dan AS, belum ada apa-apanya dibanding krisis misil kuba. Cuman berhubung kita sekarang hidup di era globalisasi dan teknologi, dimana semakin memudahkan paranoia menyebar kemana-mana, khususnya lewat jalur sosial media.

Perbanyaklah diskusi mendalam selain menelan mentah-mentah pemberitaan media yang cenderung ‘kompor’, meskipun di satu sisi, gue juga percaya, bahwa potensi perang dunia ke-3 tetaplah ADA.

Cheers!

Sumber Foto: cnn.com

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.