Sebuah Mukadimah; Aku Mencintaimu Seperti Halnya Jalaluddin Rumi Menulis Puisi

Jalaluddin Rumi Menulis Puisi

Sebuah Mukadimah; Aku Mencintaimu Seperti Halnya Jalaluddin Rumi Menulis Puisi

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Aku terjatuh seperti halnya Harut dan Marut, tanpa sayap dan ingatan yang telah pupus. Bila saja aku melihat bayi Ismail yang menangis, barangkali sudahlah habis kutenggak zam-zam itu, dan tersungkurlah aku menatapi langit yang berbahagia, sebab diantaranya anugerah berada.

Disini, ditempat kali pertama cinta menyatu, tatkala Adam dan Hawa bertemu, diwaktu itu pula dengan perbandingan dimensi yang kacau, aku mendapati kau meringkuk. Menangis tersedu sedan, sedang yang kau cari adalah keputusasaan.

Ada sebuah dinding pembatas, yang mana dengan leluasa aku dapat melihatmu, namun kau tak berkuasa atas lahiriah ku. Kau sering menengadahkan tangan di sepertiga malam, dengan rembulan memanjangkan tangan-tangannya ke anak-anak manusia. Satu doamu yang paling kuingat.

“Panggilah aku sebagai jiwa yang tenang. Pertemukan aku dengan sayap pelindungku, ditempat dimana Kau tak pernah mengingkari janjiMu.”

Belumkah Azazil sadar? Jika ia hanya ingin mengecohku, maka ia berhasil dengan sempurna, tanpa cacat sedikitpun. Namun belum selesai aku berbaring diatas butiran pasir, tempatku memasrahkan malam, disewaktu kemudian, Roh yang suci mendeklarasikan kebenaran.

“Tataplah! Tataplah! Tataplah!”

Ia berseru laksana petir, sedang sayapnya seluas langit dan bumi. Aku tak mengerti jelas apa maksudnya, tapi, aku teringat akan sosok manusia suci, yang dipeluk lalu getir, yang didekap lalu abadi.

Maka, ya, aku menatap. Aku menatap ke sekililing. Yang kutemukan masihlah hamparan gurun yang apabila siang menyengat, apabila malam menusuk. Kemudian ia kembali hadir, disebrang pembatas, untaian rambutnya yang hitam sedikit basah karna ratapan gerimis yang tiba-tiba datang.

Ia melihat ke arahku, namun dahinya yang mengernyit memberi sinyal bahwa ia tak melihat apa-apa. Ia hanya sekedar menatap, atau mungkin sedang bermain insting.

Wajahnya yang berpendar, malam ini meluluhlantakkan dingin, ada segenggam hangat yang melingkari leher sampai betisku. Dan cinta, itukah dirimu?

Lalu kita saling mendekat tanpa diperintah, setapak demi setapak. Betapa pelannya untaian langkah kaki kita, sampai-sampai waktu ikut memelankan suaranya. Bintang berdehem tak sabar. Matahari–matahari sedang tidur, ia tak ada, namun ia tetap ikut bergemuruh secara in absentia.

Maka bila lepas sebuah malam yang membingungkan, bergetarlah pula tiang-tiang di langit, padahal aku haru, karna roman ini tak sekalipun mengetuk alam semesta untuk meruntuhkan pembatas diantara kita. Kau tetap tidak bisa melihat lahiriahku, aku tak sampai hati melihat kerlingan matamu sedekat ini. Sedekat urat nadi!

Rupanya kehidupan rohaniah seserius ini. Sudah lebih dari 3 purnama aku menjebakkan diri ataupun terjebak–yang mana saja aku tidak perduli. Karna yang kunanti adalah bidadari, berselimut keanggunan dan kesendirian. Kami hanya terpisah oleh ketetapan, adakah Tuhan yang Maha Pemurah memberi Kemurahan?! Atas nestapa yang merona, dalam satu warna merah yang mengalir seperti darah, adakah hai Tuhan?!

Semula tak ada yang berubah, purnama tetap berlalu begitu saja, tanpa sesal, walau ada sedikit bisikan maaf yang kudengar, namun bisikannya terlalu pelan karna ia takut murka Tuhan.

“Hai diriku? Lupakah kamu kepada awal, dikala kita hanya berbentuk segumpal darah? Lalu Tuhan mengizinkan kita mendengar kata-kata yang indah?”

Baca Juga: Menjadi Sufistik Ketika Sakit (Mistikus Cinta)

Kata-kata indah. Lalu malam itu juga, aku menengadahkan tangan dan kepala, aku berdoa agar sekiranya dikirimkan padaku beberapa carik kertas, yang isinya adalah cinta dan muhasabah.

Turunlah hujan, yang dimana air digantikan oleh ribuan kertas yang terjatuh dari langit.

Pelan dan nanar, aku memunguti ribuan kertas tua yang terbuat dari lontar daun, sedang tintanya adalah cinta, yang apabila genap dibaca, melahirkan musahabah yang paripurna.

Setelah usai kukumpulkan. Seketika alam bertingkah aneh. Anomali. Bergantian siang dan malam bergerak cepat dalam mili detik, hujan dan panas tak mau ketinggalan, jutaan burung masih sempat terbang mengitari, kemudian dengan cepat pula lenyap dimakan kawanan kuda terbang. Aku ketakutan.

Lalu terdengar suara dari sebrang, kau rupanya, kau meminta sesuatu,

“Ya Tuhan kami, sekiranya asa ada untuk dibunuh, maka biarkan diri ini menjadi Siti Hawa dalan tragedi yang lain, dan selama itupula, aku termasuk orang-orang yang takut kepadaMu.”

Dalam sekejap semua kembali seperti semula. Kau berkata sesuatu, kali ini dengan agak berteriak,

“Wahai kekasih, bacalah puisi-puisi itu! Sesungguhnya apa yang terlihat dimatamu, belum tentu sebuah kebenaran. Dari awal, aku selalu mampu melihatmu. Namun Dia menginginkan sebuah pembelajaran, agar kau kekasih, agar kau dapat mengenali dirimu sendiri.”

Kemudian kau mengalungkan sebuah kain berwarna hitam di wajahmu, sehingga hanya nampak pandangan matamu yang menghancurkanku. Kau pergi tanpa pernah menoleh, meninggalkanku dengan ribuan puisi yang kugenggam.

Jalaluddin Rumi berkata benar, bahwa manusia adalah mikrokosmos (jagat kecil), yang mampu menyerap makrokosmos (jagat besar) didalam bingkai yang kecil. Dan seorang penyair yang baik, bisa melihat keindahan hanya dari dirinya sendiri, karena dia sudah mengenal dirinya sendiri sampai yang terdalam.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.