Sebuah ‘Legacy’ Akan Nonsense Jika ‘Dinegasikan’

Legacy-Pulau-Malamber

Sebuah ‘Legacy’ Akan Nonsense Jika ‘Dinegasikan’

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Negasi adalah pengingkaran/pemutar balikan fakta terhadap suatu nilai yang mengandung unsur kebenaran

Thexandria.com – Beredar isu ‘gelap’ mengenai salah satu kepala daerah muda di Kalimantan Timur, tepatnya Bupati PPU, Abdul Gafur Masud atau hangat disapa dengan akronim AGM.

Dikatakan isu ‘gelap’ karena kebenarannya adalah ketidakbenaran yang coba dibenar-benarkan. Simple-nya; dibuat-buat, di setting, direkayasa, digoreng, dan segala macam terminologi ngawur bin ngasal lainnya.

Tersiar kabar bahwa Bupati PPU telah membeli sebuah pulau yang berada di wilayah Provinsi Sulawesi Barat. AGM disebut telah membeli sebuah pulau yang bernama Pulau Malamber.

AGM sendiri mengaku kaget dengan berita yang beredar, namun memilih untuk tak ambil pusing. Dalam pesan singkatnya yang diterima oleh banyak media, ia mengatakan, “Itu pulau punya keluarga saya. Sudah lama sebelum Indonesia merdeka. Dari kakek nenek kita dulu. Kebetulan orang tua saya orang Mandar Sulawesi Barat, saya cucu dari KH Muhammad Husain (Puang Kali Malunda) hanya saya bingung diisukan demikian,” Jumat (19/6/2020).

AGM menduga isu pembelian pulau ini tercipta karna berkaitan dengan sengketa wilayah antara Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat. AGM juga mengakui memang pernah mengunjungi Pulau Malamber dan pulau-pulau lainnya yang diketahui berada di antara Kaltim dan Sulbar. Namun, yang harus digarisbawahi, kedatangannya adalah dengan status sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo).

“Mungkin para pejabat di Sulbar khawatir karena saya menjadi Bupati Penajam di Kaltim, yang mana memang dari dulu itu menjadi perebutan sebenarnya, perebutan wilayah, tapi saya tidak masuk wilayah situ. Saya datang ke sana, ke-12 pulau itu, karena saya ketua umum Aspeksindo, yaitu asosiasi Kepala daerah Kepulauan dan Pesisir seluruh Indonesia,” tuturnya.

Legacy Itu Keutuhan, Negasi Adalah Pengingkaran

Isu ‘gelap’ ini menarik untuk ditelisik lebih jauh—and we don’t want to explore political motives, here, we give a logic of thinking.

Dari keterangan AGM, dikatakan dengan jelas dan gamblang bahwa ia adalah cucu dari KH Muhammad Husain (Puang Kali Malunda), seorang tokoh dan ulama kharismatik yang kaya akan hikayat perjuangan dan pengabdian terhadap umat dan bangsa. Dikatakan juga, bahwa pulau Malamber adalah milik keluarga, yang kebetulan, memiliki pertalian keluarga sampai ke AGM sendiri.

Berita Pulau Malamber dibeli Bupati Penajam
Gambar hanya ilustrasi

Satu hal yang mesti dipahami, pada dasarnya, pulau tersebut hakikatnya adalah sebuah legacy.

Legacy yang juga harus dimaknai secara luas, tidak sempit dan kontemporer. Legacy yang tak melulu perihal material semata, namun juga linier dengan historis yang tersemat dalam darah juang perintisnya.

Sehingga, legacy ini pun menjadi satu kesatuan yang utuh dari banyak pemaknaan yang maha luas tersebut.

Maka, selesailah tudingan bahwa yang bersangkutan telah membeli sebuah pulau—karna pulau yang dimaksud, dari sejarahnya memang masuk dalam kategori: legacy.

Isu pembelian pulau ini, rasa-rasanya muskil tak diketahui sisi historisnya, atau legacy-nya dari yang membuat isu itu sendiri.
Kalaupun ada yang berpikir demikian? Dengan asumsi ketokohan KH Muhammad Husain sudah kadung mewangi di bumi Sulawesi, maka penggunaan diksi ‘muskil’, atau ‘mustahil’ rasa-rasanya sudah sangat tepat.

Kalau boleh ‘agak’ ber-satire-ria; “kadang kita terlalu sentimen terhadap anak negeri yang sedang berusaha mengimplementasikan baktinya pada nusa dan bangsa. Sedang ‘di belahan dunia lain’, mandatoris masyarakatnya malah memberi karpet merah pada penguasaan-penguasaan asing atas nama investasi, alih-alih memprioritaskan nasib pemuda/i daerahnya yang gigih melempar CV kesana-sini”.

Oops! Kenapa penulis malah emosional? Bukan, tidak begitu, penulis daritadi sedang berusaha menjewantahkan ironitas di depan pelupuk mata. Sesuatu yang salah tidak boleh menjadi pembenaran sedikitpun, dan sesuatu yang benar, harus dikemukakan meski sesulit apapun.

Baca Juga Ibukota Negara Baru, Diantara Kepentingan Politik Nasional dan Tokoh-tokoh Kaltim yang “Ter-marjinal-kan”

Baiklah, terlepas dari apapun motif politisnya, pemilihan isu yang diekspos, in case, pembelian pulau Malamber yang sejatinya merupakan legacy— bahkan jauh sebelum Republik ini berdiri, adalah sebuah bentuk negasi, atau pengingkaran.

Dalam logika matematika, negasi, adalah ingkaran/penyangkalan terhadap suatu pernyataan, baik tunggal maupun majemuk. Negasi membalikkan nilai kebenaran suatu pernyataan. Jika p bernilai benar, maka ~p bernilai salah. Sebaliknya, jika p bernilai salah, maka ~p bernilai benar.

Dalam pengertian yang lebih sederhana, negasi adalah pengingkaran/pemutarbalikan fakta terhadap suatu nilai yang mengandung unsur kebenaran.

Atau dengan kata lain, kita bisa menyimpulkan jika isu pembelian pulau Malamber oleh Bupati PPU, AGM, adalah pengingkaran terhadap unsur kebenaran—bahwa pulau Malamber tidak dibeli melainkan milik keluarga yang runutannya merekah pada nama tokoh KH Muhammad Husain. Case close.

Terakhir, legacy akan nonsense jika dinegasikan. Pengingkaran/penyangkalan akan menjadi tidak masuk akal (irasional) bila ditujukan kepada sebuah kebenaran. Terlebih perihal legacy, yang sarat akan nilai-nilai historis didalamnya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.