Sebilah Kata Untuk Membunuh

Sebilah Kata Untuk Membunuh

Sebilah Kata Untuk Membunuh

Oleh Rizaldi Dolly

Siang tak lagi begitu terik, matahari yang sudah tinggal sejengkal, diatas kepalanya masih ada yang jauh lebih mendidih. Amarahnya sendiri.

Sudah ke 7 negeri ia mencari para pemahat pedang, yang katanya paling handal, paling hebat, paling tersohor, sampai burung-burung pengelana pun termakan kebesaran nama-nama mereka.

Tapi tak sekalipun pedang itu dapat membunuh pikirannya. Maka ia mendapati dirinya dalam gulana yang gelap.

Harus dengan apa ia membunuh? Ia mengacak rambutnya, persis sudah seperti orang gila.

Seorang puan bertanya iba, dikiranya pemuda itu orang gila yang kelaparan. Dengan tatapan dingin, ia menjawab datar, “aku ingin membunuh seorang puan yang kecantikannya jauh melebihi puan.”

Seorang tuan, di tempat yang lain bertanya mengejek, dikiranya pemuda itu pencuri yang kelaparan.

Dengan tatapan dingin ia menjawab datar, “aku ingin membunuh seorang puan yang membenci laki-laki seperti tuan.”

Seorang pendeta bertanya di tengah keramaian, dikiranya pemuda itu sedang gamang dengan kehidupan dan jauh dari Tuhan.

Dengan tatapan dingin ia menjawab datar,

“Aku sedang mencari iblis, aku ingin meminta kebencian dan amarah terbesar yang pernah dia miliki. Aku ingin membunuh seorang puan, yang kukira, Tuhan mengirimkannya untukku, tapi ternyata bukan.”

Waktu yang bertalu-talu, tanpa dirasa, berlalu sedemikian tahun tanpa tau menau.

Sudah sedemikian amarah yang mendiami hati dan pikirannya. Hingga meletuslah semua.

Ia tak bersama apa dan siapa, melainkan hanya secarik kertas dan pena yang terjatuh di jalan.

Di letusan dahsyat itupula, ia menuliskan semuanya. Ia kirim kepada puan yang dimaksud. Malamnya, ia temukan puan mati menggantung di kamarnya.

Kini pemuda itu tak lagi dipenuhi amarah. Ia kini adalah seorang pendekar pedang yang paling ditakuti. Dengan senjata pamungkasnya, ia tidak takut dengan siapa-siapa ataupun apa-apa.

Orang-orang mengenalnya dengan sebutan, “seniman berpedang pena”, karna dengan pena, ia menjelma menjadi penyair yang paling berbahaya.

Baca Juga: Kumpulan Puisi Tentang Drama Dunia

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.