Scriptwriting; Mengenal Cerita Dibalik Cerita

Scriptwriting; Mengenal Cerita Dibalik Cerita

Scriptwriting; Mengenal Cerita Dibalik Cerita

Penulis Suci Jayanti Tadjri | Editor Rizaldi Dolly

​“’Banting setir’, ah!” ucapku sambil leyeh-leyeh di kasur pukul 2 siang. Seperti biasa, Minggu siangku diisi dengan rebahan dan tidak melakukan apa-apa kecuali berselancar di dunia maya membaca berita-berita. Instagram adalah sasaran kedua setelah aplikasi Twitter—melihat satu flyer dari SAE Institute Jakarta yang menampilkan kelas pendek Scriptwriting.

Tertarik melihat itu, aku mulai mencari-cari tahu bagaimana sistem kelas tersebut di laman pencarian google. “Wow, menarik!” kataku—sudah lama SAE Institute menjadi salah satu kampus idaman pada saat itu, ya bahkan sampai sekarang, sih.

​Setelah memutuskan untuk yakin ‘banting setir’, kemudian pencarian ijin dari orang tua pun dimulai—sempat ragu awalnya karena harus ‘melepaskan’ anak perempuannya pergi ke luar kota dan menetap untuk waktu yang cukup lama. Namun kemudian, ijin pun dikantongi—setelah kekeuh mendebatkan perihal ini dan itu.

“Kos!” gumamku, ya, tempat tinggal yang tak jauh dari kampus menjadi sasaran utama namun nihil didapat karena penuh. Sempat wara-wiri di pencarian mamikos berakhirlah di Kemang Selatan—yang mana susah untuk nemu makanan murah.

​Masuk ke kelas pertama kali, hanya di hari Sabtu siang hingga sore, dari awal pertemuan hingga akhir—membuatku tidak tahu ingin melakukan apalagi setelahnya, ya, pada awalnya.

Kelas yang dingin dan berisi 11 anggota, katanya sejauh ini—kelas yang paling banyak penghuninya namun terasa hening—mungkin masih malu-malu, ucapku dalam hati. Namun, malu-malu yang disuguhkan berbeda dengan materi yang disampaikan—jelas dan ramai, bisa dibilang juga kocak; mampu menghangatkan kelas yang berisi 1 AC besar.

​Materi-materi berupa teori dan diperbanyak dengan praktik membuat isi otak ini bereksplorasi dengan bebasnya dan tentu saja harus tahu ‘arah’. Dimulai dengan brainstorming tentang tiga logline untuk akhirnya dipilih satu yang layak untuk dieksekusi menjadi skrip film pendek.

Aku yang pada saat itu sedang getolnya menulis tentang kesedihan; menuliskan tentang perjuangan anak untuk ibunya dan mencintai pasangan dengan apa adanya—sounds cliché, I know, but yeah. Ditambah tentang perempuan yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan likes di Instagram. *muntah*

Namun, yang menjadi pilihan terbaik adalah:

LOGLINE 3 (Drama)

Seorang anak kecil ingin memberikan gunting kepada ibu di rumah untuk menyelesaikan jahitan secara tepat waktu tapi di jalan pulang gunting yang ia bawa diambil oleh seekor monyet.

STATEMENT

Perjuangan anak untuk ibu supaya hari ini bisa makan.

​“Eksekusi, eksekusi, eksekusi!”, seperti mengerjakan skripsi namun lebih ‘menyenangkan’—setelah melewati beberapa langkah seperti memilah mana obstacle yang tepat untuk tujuan yang tepat pula, bagaimana cara membuat internal synopsis yang menarik sampai synopsis yang ‘menjual’ agar dilirik oleh produser—however, no goals no obstacle is a big no for a script.

​Sebenarnya itu hanya segelintir yang aku pelajari dari dosen di SAE, selebihnya aku akan menceritakan apa-apa saja yang didapat setelah lulus dari kelas tersebut. Menulis memang menyenangkan untukku pribadi dengan menuangkan skenario-skenario manis sampai skenario gila, bebas—asal mempunyai value yang bisa diambil.

Baca Juga: Emotionally Abused; Tak Nampak, Tak Terasa Terjebak

Selain value, selepasnya dari SAE—mengenal orang-orang baru ternyata lebih mengasyikan dari yang aku kira. Networking menghasilkan perjalanan-perjalanan baru, even di satu sisi, Bertemu dengan link baru juga membuatku merasa kecil sekali—ingin menggali bidang ini beribu kali, rasanya.

Memang benar adanya, aku diperijinkan menggali bidang ini lebih dalam lagi bersama Yourco Team; production house kecil-kecilan di bidang pembuatan naskah—yang dibangun oleh empat orang lulusan kelas pendek SAE, termasuk saya sendiri.

Dari kelas pendek scriptwriting ini hingga membangun Yourco Team dengan bermodal awal “Eh, habis kelas, ngapain nih? Masa udahan?” dan bertemu pesohor dunia maya untuk menggarap project mereka—meskipun masih dibilang kecil dan belum sekelas Joko Anwar atau David Fincher—tapi dari langkah kecil ini, setidaknya bisa ‘membunuh’ kegabutan setelah kelas berakhir dan berlanjut bertukar cerita—mengenal cerita lebih dalam dari orang-orang yang kompeten dan capable di bidang scriptwriting dan film, sebenarnya ada apa dibalik project yang ditawarkan, Analogi terbaik adalah membuat perumpamaan hubungan emosional.

Seperti turut andil ‘membantu’ melahirkan anak kesayangan rasanya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.