Saya Manusia, dan Ini Narasi Kontemplatif Saya

Saya Manusia, dan Ini Narasi Kontemplatif Saya

Saya Manusia, dan Ini Narasi Kontemplatif Saya

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Banyak orang yang ketika mencoba menulis mengatakan, bahwa hal pertama yang paling sulit untuk dilakukan, ialah, menulis kata-kata pertama. Dan sebagai penulis, saya menyadari betul, bahwa hal tersebut, adalah kebenaran yang tidak dibuat-buat.

Maksud saya, alasan tersebut bukan sekedar pembenaran. Kata-kata pertama, jika dianalogikan, mungkin seperti sebuah jembatan penghubung, atau bahkan, sebuah pondasi. Begitu fundamental.

Dalam kehidupan, satu langkah awal atau pertama juga menjadi titik yang paling sulit. Saya dan kita semua, tentu ketika bayi, harus terjatuh dulu untuk kemudian dapat berjalan.

Terjatuh itu sakit. Benturan kadang mengingatkan kita bahwa sebenarnya kita ini lemah. Pernah suatu sore, saya terpaku di atas batuan karang. Saya mengamati, betapa tangguhnya karang, tiap detik dihantam ombak, namun tetap kokoh.

Andai batuan karang ini bisa bicara? Apa yang akan dia ucapkan? Saya menerka-nerka bilamana sekali saja, sekali saja Tuhan mengizinkan karang membisik kepada saya. Tentang bagaimana rasanya menjadi kuat, kokoh, tak bergeming, bahkan tabah.

Lalu tatapan mata saya berhenti di salah satu batu karang yang kecil, terlihat bekas kikisan air laut yang pernah mengirisnya pelan-pelan, guratan sisa ketabahan dan kekuatannya tak tersirat. Bingkai empirik.

Apa iya, batuan karang sekokoh yang saya pikirkan? Sepertinya tidak juga. Batu karang kecil ini menyampaikan sebuah pesan. Bahwa setangguh apapun, kelak, semua pasti akan musnah. Ternyata karang tak setangguh yang saya kira, ia, hanya sekedar tabah. Tak lebih.

Tak ada waktu yang lebih baik untuk merenungi kesatuan kosmos yang misterius, selain daripada, malam. Saya takzim berusaha terhanyut sedalam mungkin kepada langit apabila gulita. Menyisakan hamparan titik-titik kecil yang mengawal bulan.

Bintang-bintang. Kerlipnya seperti menegur jiwa-jiwa yang tenang, atau malah sebaliknya, ia menghibur jiwa-jiwa yang gelisah?

Saya kemudian lagi-lagi mencoba menerka, bagaimana perspektif bintang-bintang melihat kami, manusia.

Apa ia kerap kali mengadu kepada Tuhan? Bahwasanya manusia, makhluk yang lewat drama di abad kekosongan, telah membuat Azazil terlempar dari singgasananya yang terang. Manusia dianggap telah mempermainkan privilage yang telah dianugerahkan, saya mungkin tidak akan menerima, saya rela mewakafkan diri saya menulis pledoi tentang “manusia”.

Saya akan menjabarkan sudut pandang manusia, berlandaskan argumentatif. Saya akan menyudutkan kaum-kaum langit. Kalian, para malaikat, pernah mencemooh manusia karna begitu mudahnya mengingkari Sang Hyang Tunggal.

Lalu bagaimana kalian menjelaskan bagaimana Harut dan Marut meniduri seorang wanita lalu membunuh bayi tak berdosa, sebab menegak anggur sampai tandas?!

Saya tersenyum puas.

Begitu pula, Azazil.

Saya tersentak. Saya bahkan telah menyerupai Azazil. Kesombongan menyelimuti saya. Pekat hitam menutupi malam yang semula cerah. Saya sadar seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. Peluh membasahi sudut-sudut muka. Saya merasa bersalah.

Malam itu, saya berakhir dengan mengutuk diri saya sendiri.

Saya jera, saya meminta maaf kepada sekalian kawanan malam yang gelap. Saya menyadari, tak ada yang lebih rapuh selain kami, manusia.

Lalu saya mencoba melihat ke sisi-sisi yang lebih realistis. Saya berdiri di depan cermin. Saya ingat hari itu saya mengenakan kemeja biru muda dan jins biru tua. Saya menanggalkan satu persatu.

Satu persatu kancing baju saya lepas perlahan. Saya murung sekali. Saya lebih tenang ketika saya menatapi diri saya yang utuh. Telanjang.

Lalu datang sepasang sejoli menepuk pundak saya. Ketakutan dan keresahan. Saya tak berani menoleh, saya menggigil. Saya menatap mereka dari cermin. Lucu juga sebenarnya, saya melihat diri saya ada 3.

Kemudian saya dibawa menapaki kembali perjalanan hidup saya. Disitu, saya melihat kembali ketika saya tertawa, menangis, merenung, ketakutan, berhujanan, berteduh, mengamati semut, menutup wajah dengan bantal ketika kilat menyambar, jatuh cinta, patah hati, kesepian, kelaparan, kekenyangan, dan blass! Semua gelap.

Disitu pula, saya ingat ketika membantu beberapa teman, namun hanya satu yang memeluk, sisanya berjalan riang sebab dunia menyorot mereka. Saya menangis. Apa-apaan ini, bukankah saya nawaitu menolong? Saya lekas membalik sudut pandang, saya menegakan kembali kepala, saya berkonsentrasi, berkontemplasi.

Lalu bagaimana jika, saya yang tidak tau berterimakasih kepada orang-orang yang menolong saya?

Lagi, saya tersentak seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. Saya bernafas lega, saya selamat.

Adapula hari dimana saya mendapati berita duka dari seorang teman. Ayahnya meninggal. Saya sendiri tak sampai hati untuk sekedar memeluknya dan berucap, ‘yang sabar kawan, yang tabah, seperti karang’.

Lidah saya kelu mata saya kosong melebihi yang kehilangan. Saya bertanya kepada… entah kepada siapa. Disebrang sana, kawan saya tampak lebih sedih ketimbang suara rintik hujan di kala subuh. Sedang diluar sana, manusia tetap melanjutkan hidup seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Apa hanya karena kita semua tidak saling mengenal, lantas ikatan emosi hanya terbatas pada ikatan perkenalan?

Bukankah kita semua, adalah rangkaian kosmos yang saya bilang tadi, misterius?

Ternyata tidak juga. Tidak juga.

Satu daun kehidupan yang saya petik. Adalah kemungkinan-kemungkinan. Mungkin… hidup adalah tentang kehilangan. Diluar itu, hanya perkara waktu.

Saya kemudian kembali bercermin, dan masih tetap telanjang.

Pertanyaanya sekarang adalah? Apakah saya siap jika suatu hari, saya akan kehilangan? Apakah saya siap, jika suatu hari, saya yang harus hilang?

Jantung saya berdetak lebih cepat dari biasanya, pupil mata saya membesar. Tekanan darah tinggi saya kembali memuncak. Dunia serasa bergerar di mata saya. Segera saya meminum pil penenang.

Siapakah saya? Bagaimanakah dunia?

Keesokan harinya, saya menonton televisi. Pembawa acara berita nampak elegan selayaknya wanita-wanita karir. Namun tidak dengan apa yang dia wartakan.

‘Seorang lelaki gantung diri akibat cintanya ditolak’. Saya mematikan televisi.

Keesokan harinya, berita televisi kembali muncul.

‘Seorang perempuan tewas meminum racun akibat kekasihnya selingkuh’. Saya mematikan televisi.

‘Seorang istri, membacok suaminya hingga tewas karna cemburu buta’. Saya tetap melanjutkan menonton berita itu sampai habis.

Baca Juga: Mengenai Déjà Vu dan Saya Membencinya

Begitukah cinta? Tak punya mata, berbahaya, dan hanya manis didepannya?

Saya tidak tahu. Cinta memang irasional. Saya urung mengulas ini. Saya pasrahkan problemanya ke masing-masing jiwa.

Jatuh cintalah, jatuh cintalah.

Sore hari ketika hujan turun dengan lebat. Saya iseng bermain ke kamar mama sebab suara riang adik saya menggaduhkan seisi rumah. Rupa-rupanya, ia girang bukan kepalang karna mama membuat perahu kertas, yang oleh adik saya, dilemparkanya keluar jendela, perahu kertas itupun mengambang diatas genangan air hujan.

Kerutan diwajah mama terlihat jelas, adik perempuan saya juga tanpa terasa semakin besar. Begitupula saya, semakin menuju tiada.

Penutup tulisan ini, mungkin adalah sebuah nada. Karna bayangkan saja saya bernyanyi sebuah lagu yang mengingatkan saya kepada hangatnya sebuah kasih sayang.

‘Ambilkan bulan, bu… ambilkan bulan, bu… yang selalu bersinar di malam gelap’

Saya sadar dengan penuh kesadaraan. Saya, anda, kita semua, akan redup pada waktunya. Namun, seperti pelita, saya harus mampu tetap tertawa sepanjang hayat masih dikandung badan, menyisakan ketabahan yang nyata.

Saya hanya perlu harus bertahan, sisanya, perkara Tuhan.

Kepada anda yang membaca tulisan saya sampai di sini? Saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya.

Ingat? Kita adalah pelita. Pelita.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.