Saya dan Status Saya Sebagai Perokok

Saya dan Status Saya Sebagai Perokok

Saya hanyalah saya, saya dan rokok adalah kehidupan.

Penulis Al Fikrie | Editor Rizaldi Dolly

Bagi perokok, merokok adalah kenikmatan tersendiri, dan bagi yang tidak? Ya pasti memiliki persepsi yang berbeda. Saya adalah seorang perokok aktif, saya sering tersinggung, ketika merokok di “smoking area”, masih ada saja yang mengibaskan tangan dengan tatapan sinis, karena asap rokok yang saya hembuskan.

“mas, asapnya mengganggu”.

Dahi saya mengernyit, Pembelaan saya ketika itu,

“lah, apa yang salah? Bukannya sudah jelas saya merokok pada tempatnya?

Kalau tidak suka ya jangan disini. Saya bukan merasa yang paling benar, tapi saya merasa bahwa saya telah merokok pada tempatnya–selayaknya membuang puntung yang pada tempatnya pula.

Sampai detik ini, saya terus berusaha menghargai orang yang tidak merokok dengan etika yang sepantasnya, seperti tidak merokok di kerumunan orang banyak, Etc.

Dilihat dari posisinya, rokok adalah produk legal yang telah diatur dalam Undang-undang. Bukan hanya soal tata niaganya, termasuk juga soal aktivitas mengonsumsinya. Regulasi yang mengikat produk legal ini didasari asas untuk memberi rasa keadilan bagi semua pihak. Lantaran asap rokok memiliki kemungkinan mengganggu kenyamanan orang lain.

Saya secara pribadi yakin, sinisme terhadap para perokok serta “kebencian” yang ikut tersemat didalamnya, dikarenakan perilaku buruk yang dilakukan oleh kebanyakan perokok.

Saya punya pembenaran. Pembenaran, ya? Bukan kebenaran.

Buat saya merokok bukanlah suatu perbuatan dosa yang patut di laknat. Kalaupun termasuk dosa? Apalagi dosa besar? Tentu tidak separah perilaku koruptif pejabat, kan? Hehe.

Saya memiliki keresahan yang dari dulu hingga sekarang menjadi-jadi. Mengapa moralku, karakterku atau bahkan sisi “jahat” ku kadang hanya dinilai dari sebatas rokok?

Padahal, kalau mau membahas soal dampaknya? Dampak ekonomi rokok terhadap perekonomian nasional, besar, lho! Industri hasil tembakau (IHT) merupakan salah satu sektor strategis domestik yang memiliki daya saing tinggi dan terus memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Sumbangan sektor yang dikategorikan sebagai kearifan lokal ini meliputi penyerapan tenaga kerja, pendapatan negara melalui cukai serta menjadi komoditas penting bagi petani dari hasil perkebunan berupa tembakau dan cengkeh.

Kemenperin mencatat, pendapatan negara dari IHT yang berasal dari cukai dan pajak setiap tahunnya mengalami peningkatan. Kontribusi IHT pada tahun 2016 memberikan pembayaran cukai sebesar Rp138,69 triliun atau 96,65 persen dari total cukai nasional. Sedangkan, serapan tenaga kerja di sektor manufaktur dan distribusi mencapai 4,28 juta orang serta di sektor perkebunan sebanyak 1,7 juta orang.

Ya walaupun, juga setara terhadap dampak kesehatan bagi para pemakainya hehe.

Tapi sudahlah, merokok adalah sebuah keputusan yang hanya boleh dipilih ketika kita telah beranjak dewasa. Sebuah konsekuensi pribadi. Meskipun belajar merokoknya sudah sedari jaman sekolah.

Kini kita semua telah “terjebak” dalam kesalahpahaman. The thing is, bagimana caranya kita mengakhiri stereotip budaya negatif ini dan juga berusaha berhenti merokok untuk kesehatan diri yang lebih baik. As soon as possible, ya!

Kita semua sadar merokok adalah aktivitas yang berpotensi mengganggu orang lain. Potensial dalam arti bisa saja mengganggu, dan bisa saja tidak. Karena itulah para perokok harus bisa menghindari potensi tersebut dan bisa menghargai hak orang yang tidak merokok. Upaya menghargai hak masyarakat itulah kunci agar masyarakat bisa menyadari bahwa merokok tidak seburuk yang mereka bayangkan. Karena apapun yang kita lakukan, selama aktivitas merokok masih kerap mengganggu hak mereka yang tidak merokok, maka sinisme yang saya katakan di awal tetap merajalela.

Selain itu, saya rasa tidak ada hukum yang menuliskan bahwa merokok adalah pure tindakan kriminal. Namun, Disini juga ada peraturan dan etika yang mengatur para perokok merokok.

Sesuai dengan Pasal 49 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, ada beberapa tempat larangan merokok, yaitu a) fasilitas layanan kesehatan, b) tempat proses belajar mengajar, c) tempat anak bermain, d) tempat ibadah, e) angkutan umum, f) tempat kerja, g) tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan. Sebab, tempat-tempat tersebut memang membutuhkan kondisi udara yang bersih dan steril.

Jadi, demi menghargai sesama yang tidak merokok, diharapkan bagi para perokok agar merokok ditempat yang sudah disediakan, atau paling tidak merokok di luar ruangan, agar asap rokok segera ternetralisir oleh udara luar.

Sampai saat ini pula rokok masih beredar luas dipasaran, dan berbagai merek rokok terus bermunculan setiap tahunnya. Penikmat rokokpun tidak hanya orang dewasa, tetapi sudah mengarah pada pelajar/anak yang masih di bawah umur. Hal ini menandakan bahwa masyarakat masih diberikan kebebasan sepenuhnya untuk menikmati rokok, walaupun larangan dan dampak buruk rokok telah dipublikasikan. Namun, di balik kebebasan tersebut hendaknya jangan sampai melupakan etika serta ketentuan yang telah disarankan.

Jika semua perokok bisa berlaku menyenangkan dan mampu menghargai masyarakat, niscaya masyarakat tak bakal lagi menganggap perokok sebagai biang keladi semua hal-hal yang buruk. Dengan membuktikan diri bahwa perokok memahami etika dan mampu menghargai hak masyarakat.

Akhir kata, perokok barangkali tidak butuh dihargai, namun, dimengerti.

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.