Saya, Awam yang Berandai-andai: Gelombang Ultrasonik untuk Menghancurkan Virus Corona yang Tak Kasat Mata

Saya, Awam yang Berandai-andai Gelombang Ultrasonik untuk Menghancurkan Virus Corona yang Tak Kasat Mata

Saya, Awam yang Berandai-andai: Gelombang Ultrasonik untuk Menghancurkan Virus Corona yang Tak Kasat Mata

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Genap sudah dua minggu ditambah beberapa hari saya bekerja dari rumah. Menghadapi wabah pandemi Covid-19 yang urung reda membuat saya dan bahkan masyarakat dunia semakin terkurung dalam kekhawatiran.

Harapan selalu dihaturkan dalam setiap doa beriringan dengan eskalasi jumlah pasien positif Covid-19 di setiap sudut dunia. Berbagai upaya dalam karantina dilakukan untuk menjaga setiap pasien yang terjangkit positif Covid-19 menuju tahap kesembuhan.

Upaya preventif banyak dilakukan seperti himbauan physical distancing sampai penyiraman disinfektan di berbagai fasilitas umum guna mencegah diseminasi virus sialan ini.

Untuk memenangkan “perang” melawan Covid-19 ini, dunia berlomba-lomba dalam bidang penelitian untuk menemukan vaksin yang ampuh. Tercatat di berbagai kanal berita, mulai dari China, Jerman hingga Israel mengklaim telah menemukan vaksin untuk menangkal Covid-19.

China sendiri mengerahkan hampir 1.000 ilmuwan dalam keterlibatan pengembangan vaksin dengan menghasilkan sembilan vaksin potensial. Secara teknis, pengembangan vaksin ini melibatkan CanSino Bioligics Inc dan Akademi Ilmu Kedokteran Militer China yang dipimpin oleh Chen Wei, seorang ahli virologi.

Dilansir oleh Bloomberg, uji coba akan dilakukan oleh CanSino kepada 108 orang dewasa yang sehat, dengan rentang usia 18 hingga 60 tahun mulai bulan ini hingga akhir tahun. Dan, sebelumnya vaksin tersebut telah diuji-cobakan pada hewan yang kemudian mampu menghasilkan kekebalan terhadap virus Corona.

Dari Jerman, perusahaan bioteknologi BioNTech bekerjasama dengan Fosun Pharma khusus di China serta perusahaan farmasi terbesar di AS, Pfizer untuk pengembangan di luar China. Uji coba vaksin ini rencananya akan dimulai pada awal April 2020.

Selain itu, lebih dari 50 ilmuwan di Institut Penelitian Biologi Israel diklaim berhasil mengembangkan vaksin untuk Covid-19. Menteri Sains, Teknologi dan Ruang Angkasa Israel, Ofir Akunis mengatakan bahwa vaksin ini siap beredar dalam beberapa minggu kedepan.

Udang di Balik Batu

Selain dijadikan ajang perlombaan dalam menyelamatkan dunia, ada intensi politik yang kemudian menjadi konflik baru bagi beberapa negara. Seakan kepentingan bersama kini ditransformasi sebagai pertaruhan harga diri dalam manifesto sebagai penemu vaksin, hak paten, keuntungan ekonomi hingga benefit pengakuan dalam sejarah perjalanan peradaban.

Adalah perusahaan bioteknologi asal Jerman, CureVac yang mati-matian menjaga “dapur” mereka agar tidak tersentuh oleh pihak eksternal. Karena progres pengerjaan vaksin mereka yang telah menyentuh tahap uji klinis, membuat Donald Trump siap membayar berapapun untuk mendapatkan akses penelitian ke CureVac. Bahkan presiden berambut kuning ayam itu meminta agar vaksin tersebut hanya diperuntukkan bagi warga AS saja. Meski pada akhirnya, AS membantah rumor untuk memonopoli hak paten atas vaksin tersebut.

Pemilik CureVac, Dietmar Hopp mengatakan bahwa ia menolak kontan permintaan semacam itu. Pria yang juga tercatat sebagai pemilik salah satu klub Bundesliga, TSG Hoffenheim ini mempertegas bahwa vaksin tidak akan diperuntukkan bagi kaum tertentu atau suatu negara saja, tetapi untuk dunia. Tindakan ini banyak mendapatkan apresiasi berbagai kalangan, dan juga menghilangkan rasa benci pecinta sepakbola Jerman sebelumnya.

Fantasi, Buah Pemikiran Sang Awam Tentang Virus Corona

Dari semua yang sudah diuraikan di atas, semua terpatok dalam disiplin ilmu bio-medik atau kesehatan. Saya yang hanya lulusan keguruan informatika tentu tak akan mampu berfikir dalam koridor tersebut—sekalipun ada istilah interdisipliner.

Selama masa karantina diri, saya berfikir bagaimana bisa untuk mendeteksi eksistensi dari virus Corona di sekitar kita. Siapa yang bisa menjamin bahwa rumah, yang selama ini menjadi tempat tinggal kita, yang selalu dihimbau pemerintah sebagai tempat ter-aman selama adanya wabah pandemi, bebas dari virus Corona itu sendiri?

Ditunjang fakta bahwa virus ini menyebar dan mampu menempel pada benda mati. Langkah preventifnya sudah ramai diupayakan lewat gerakan relawan menyemprotkan disinfektan ke ruang publik yang bisa diadopsi untuk sterilisasi rumah kita. Atau jika malas membeli, meracik atau meminta disinfektan, kita bisa membersihkan pegangan tangga, stang motor, daun pintu dengan menggunakan sabun yang ada di rumah.

Tapi lelah juga jika setiap hari harus melakukan hal tersebut, bukan?

Untuk alat pendeteksi keberadaan virus Corona, sejauh mata berselancar, saya belum menemukan pemberitaan terkait penemuannya.

Sehingga saya sendiri cukup khawatir saat akan menyentuh pegangan tangga, daun pintu, atau benda lainnya saat di rumah. Tak lain tak bukan karena virus ini unseen things atau “antara ada dan tiada” atau “hantu”.

Hingga suatu hari saya terfikirkan bagaimana jika ada gelombang ultrasonik untuk membunuh virus Corona ini?

Ya, berlebihan memang jika menyebut dan bahkan harus menggunakan gelombang ultrasonik untuk membunuh sebuah virus yang telah pandemi.

Literally, gelombang ultrasonik menurut Wikipedia adalah suara atau getaran dengan frekuensi yang terlalu tinggi untuk bisa didengar oleh telinga manusia, yaitu kira-kira di atas 20 kiloHertz. Hanya beberapa hewan yang mampu menangkap gelombang ultrasonik, yaitu lumba-lumba, paus, kelelawar dan lainnya.

Konsep dari gelombang suara yang saya fikirkan tersebut adalah gelombang dengan frekuensi tertentu yang mampu menjangkau secara destruktif bagi virus Corona, entah apapun namanya nanti.

Baca Juga: “Lockdown 309 Tahun”, Sebuah Narasi Satir-an yang “Melempar” Kita ke Lautan Ke-illahi-an

Secara teknis gelombang suara tersebut bisa diputar atau disetel dimanapun-kapanpun, termasuk kita yang sedang berada di rumah. Untuk ruang publik, pemerintah hanya perlu menyiapkan pengeras suara di setiap sudut kota, atau mengerahkan armada kendaraan yang berkeliling kota sambil membawa pengeras suara. Pada akhirnya, virus Corona yang menempel di fasilitas publik sampai yang tak terlihat sekalipun akan mati karena paparan gelombang itu.

Banyak keuntungan yang bisa didapat apabila gelombang suara “ultrasonik” ini benar-benar ada. Terutama dari segi ekonomi yang tidak akan memakan biaya distribusi yang besar, secara daring pun setiap orang bisa mengunduhnya. Biaya produksi tentu tidak akan sebesar apabila memproduksi vaksin dalam jumlah masif.

Tentunya, penelitian dan pengembangan gelombang ultrasonik tersebut akan memakan waktu, tenaga dan fikiran yang sangat banyak. Penelitian tersebut harus memahami dulu karakteristik virus Corona dan reaksinya terhadap gelombang dengan frekuensi yang berbeda-beda. Dan juga, penyusunan komposisi gelombang suara tersebut tentunya akan amat-sangat kompleks jika tujuannya membuat virus itu mati saat dipaparkan gelombang tersebut.

Tahap yang menjadi kunci adalah pada tahap uji coba kepada pasien positif Covid-19 dan benda mati yang dihinggapi oleh virus tersebut (apabila berhasil). Dari uji coba tersebut akan menentukan petunjuk teknis bagi masyarakat, salah satunya durasi pemutaran gelombang ultrasonik hingga virus Corona tersebut mati.

Saya yakin, banyak para ilmuwan, ahli, dan pakar di seluruh penjuru dunia yang apabila bersatu mampu menemukan komposisi gelombang ultrasonik ini demi kebaikan dunia.

Wah, fantasi ini semakin-makin liar, namanya juga orang awam.

Saya akhiri saja ya, sebelum menjadi Einstein gadungan..

Share Artikel:

One thought on “Saya, Awam yang Berandai-andai: Gelombang Ultrasonik untuk Menghancurkan Virus Corona yang Tak Kasat Mata

  1. Fantasi yang menarik karena gelombang ultrasonik lebih mudah diaplikasikan langsung ke seluruh dunia, bandingkan dgn pemberian vaksin ke manusia satu persatu. Berapa lama, berapa biaya?? jadi ikutan berfantasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.