Santai Sore dan Mengabadikan Sekawanan Monyet

Santai Sore dan Mengabadikan Sekawanan Monyet

Santai Sore dan Mengabadikan Sekawanan Monyet

Penulis Zain Sinjay

Hai para penikmat dan pengabadi momen, yang menikmati momen tersebut dalam tuangan seni fotografi.

Ketika saya sedang sendiri dalam sebuah perenungan, mencoba mencari jawaban dan konsep-konsep yang kian memenuhi isi kepala ini.

Lalu terbersit sebuah pertanyaan yang sampai kini saya tak tahu bagaimana menjawabnya, begini bunyinya:

“Apa itu keindahan?”

Seketika saya saya berpikir keras seakan-akan mesin di dalam kepala ini bekerja dengan kerasnya hingga menimbukan suara gemuruh yang menakutkan.

Mencoba mengkorelasikan kata indah dengan segudang kata-kata tentang kebaikan yang tercatat dalam berkas ingatan.

Sedikit meragu kembali. Apakah definisi-definisi yang terlintas itu sudah benar, atau hanya sekedar pembenaran?

Cukup sudah, urat kepala saya semakin menegang berusaha mencari jawabnya.

Tolong bagi siapapun yang ingin bantu menjawabnya silahkan tulis di kolom komentar.

Berhenti dari perenungan yang tak ada hentinya, maka kuputuskan untuk keluar dan mencari momen-momen dengan ekspresi luar biasa untuk diabadikan. Sembari berharap menemukan jawaban tentang keindahan.

Permulaan

Balikpapan, kota ini berkembang dengan sangat cepat. Kadang saya bertanya, apa benar ini kota Balikpapan?

Dijuluki sebagai kota minyak, Balikpapan juga memiliki sebuah jalan yang dikenal sebagai Jalan Minyak. Meskipun nama sebenarnya adalah Jl. Yos Sudarso.

Jalan Minyak membentang di Kecamatan Balikpapan Kota mulai dari Perumahan Pertamina, Kilang RU V Balikpapan, hingga ke Pelabuhan Semayang Balikpapan. Pada tepi Jalan Minyak terdapat hutan kota yang dikelola oleh PT Pertamina.

Jalan Minyak terkenal bebas macet meskipun jalan ini sering dijadikan sebagai jalan alternatif bagi masyarakat kota Balikpapan untuk menempuh perjalanan dari arah Balikpapan Utara maupun Barat menuju ke Balikpapan Selatan pun sebaliknya.

Saya sering melewati jalan ini kerena cukup menghemat waktu dan dapat menghindar dari kemacetan tak terduga yang kerap kali terjadi di jalanan.

Semakin kedalam menyusuri Jalan Minyak maka kita akan melihat hutan di kanan dan kiri jalan meskipun kini sebagian telah tak hijau lagi.

Muncul kembali sekilas ingatan masa kecil tentang Jalan Minyak yang juga dikenal seram dengan segudang cerita mistisnya.

Di sini udara yang cukup segar masih terasa karena banyaknya pepohonan meskipun telah sedikit bercampur dengan debu.

Perhentian

Lalu saya terhenti melihat sesosok berwarna gelap, berbulu, dan berekor yang dengan santainya nongkrong di tengah jalan. Karena rasa penasaran saya yang sangat tinggi ini maka kaki ini berjalan menghampiri sosok tersebut.

Monyet Di Pinggir Jalan

Dan benar ternyata saya melihat seekor monyet, ia tampak sedang asyik nongkrong di pinggir jalan

Monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis), yang ternyata memang sering tampak di Jalan Minyak.

Seekor Monyet Mencoba Mencari Makan

Tak lama ia bergerak ke arah sebrang jalan, lalu hal inilah yang terjadi. Ternyata beberapa monyet juga mencari makan di tempat yang tak biasa rupanya.

Hati saya sedikit bergetar melihatnya, apakah di habitat asli mereka sudah begitu sulitnya untuk mencari makanan hingga mereka mencarinya sampai seperti ini?

Pengendara Berhenti Untuk Melihat dan Memberi Makan Monyet

Beberapa pengendara lain juga menghentikan kendaraannya untuk mengamati monyet kecil itu. Lalu ada pengendara yang membawa buah pisang dan kacang, ternyata itu adalah makanan yang akan ia berikan pada si monyet.

Para Monyet di Atas Pohon

Segera si monyet menyebrang jalan dan kembali ke atas pohon bersiap menyantap makanannya yang telah datang.

Beberapa monyet lainnya mulai bermunculan di atas pohon.

Rupanya para pengendara yang melintas sering menjadikan penampakan monyet-monyet tersebut sebagai hiburan untuk ditonton.

Monyet Bergelantung Menangkap Pisang Yang diberikan oleh Pengendara

Aksinya yang lincah dengan melompat dari satu pohon ke pohon yang lain tampak memukau dan membuat para pengendara yang melihatnya merasa terhibur.

Tak sedikit diantara mereka memberi makan kawanan monyet dengan pisang dan kacang termasuk kalangan anak-anak yang terlihat tampak ceria saat memberi makan kepada monyet-monyet tersebut.

Senang sekali rasanya dapat menyaksikan eksresi yang menyenangkan pada hari ini.

Baca Juga: Memori Tentang Melengkapi, Sebuah Imajinasi Yang Terealisasi

Pulang

Mencukupkan diri pada perjalanan ini maka saya memutuskan untuk kembali pulang.

Merebahkan diri diatas kasur yang nyaman sembari menenangkan pikiran.

Dan tanpa sadar telah berada di dalam perenungan, entah kapan itu bermula.

Lalu terbersit sebuah pertanyaan yang sampai kini aku juga tak tahu bagaimana menjawabnya, begini bunyinya:

“Bagaimana cara menghargai keindahan?”

Menurut saya cukup sederhana, menghargai keindahan cukup dengan menyadari bahwa kita hidup berdampingan dengan makhluk hidup lainnya di alam yang sama.

Berbagi dan menjaga keindahan alam beserta setiap bagiannya merupakan simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan.

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.