Santai Sejenak; Mereka yang Kondangan dengan Menutup Jalanan Umum

Santai Sejenak; Mereka yang Kondangan dengan Menutup Jalanan Umum

Santai Sejenak; Mereka yang Kondangan dengan Menutup Jalanan Umum

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Weekend tlah tiba, weekend tlah tiba, hatiku gembira!”

Betapa senangnya hati mengetahui akhir pekan segera tiba. Kebetulan weekend kali ini tlah ku agendakan untuk berkeliling kota Malang, sembari menghabiskan waktu dengan kekasih. Bukan tanpa alasan merayakan weekend dengan cara seperti itu. Penatnya pekerjaan, tekanan dari atasan, hingga jenuhnya lingkungan pertemanan di kantor yang penuh dengan drama menjadi momok tersendiri bagiku di weekday.

Sabtu yang cerah di siang hari disertai cuaca yang tidak begitu mendung sangat mendukung untuk menjalankan semua rencana. Untuk mengawali hari ini, aku coba memodifikasi sebuah life-theory dari Hindia; “Cuci muka, gosok gigi, dan pasti mandi”. Karena teori yang biasa ku anut ketika weekend itu sangat-sangat-nggak-banget, tapi oke sih buat anak-anak kekinian yang berpegang teguh dengan kebiasan futuristik, mager; “Hari libur ngapain mandi?”.

Mandi pun selesai dan seluruhnya siap termasuk si motor tua yang siap menjemput kekasih yang sudah menunggu.

Dalam perjalanan, baru saja melewati tikungan pertama, jalan utama diblokir karena ada hajatan pernikahan tetangga jauh. Aku masih memaklumi dan kepikiran jalan utama alternatif yang ada di blok sebelah. Akhirnya setelah memutuskan untuk melewati blok sebelah, aku kembali dibuat terkejut karena jalan juga diblokir karena ada kondangan lainnya.

“Wah, kacau. Terus lewat mana nih, masa iya muter jauh.” bathinku.

Memang Sih..

Pernikahan merupakan kebutuhan fitri sebagian besar manusia dan memberikan dampak yang cukup besar untuk masa yang akan datang. Stigma yang tumbuh di peradaban adalah tahapan tersebut merupakan kegiatan yang sangat sakral. Dengan jalan pernikahan yang sah, pergaulan antar pria dan wanita menjadi terhormat sesuai kedudukan manusia sebagai makhluk yang ber-kehormatan.

Sebegitu sakralnya pernikahan, tahap sebelum kedua pasangan resmi menyandang status yang sah tentu bagai sebuah turbulensi. Mulai dari tahapan meminta restu orang tua—tidak semua pasangan mendapatkan kelancaran pada tahap ini, faktor-faktor seperti perbedaan keyakinan, suku, status ekonomi, pekerjaan hingga tradisi yang sangat-sangat-kuno yaitu “perjodohan” menjadi momok yang menyebabkan gagalnya sebuah pernikahan.

Banyak yang beranggapan bahwa restu orang tua juga menjadi sebuah kunci dalam sebuah hubungan pernikahan, yang kemudian menimbulkan sebuah praduga jikalau pernikahan tanpa restu tidak akan bertahan lama. Terlepas dari benar atau tidaknya, dianalisis secara ilmiah atau ilmu agama, substansinya ialah orang tua pasti mengerti yang terbaik untuk anak-anak mereka.

Setelahnya, memasuki tahapan teknis juga sangat ribet. Yakni menyiapkan seluruh berkas adminsitrasi syarat pernikahan, pelaksanaan resepsi pernikahan hingga orang-orang yang terlibat dalam resepsi pernikahan. Namun masyarakat biasa menyederhanakan menjadi tahapan yang perlu-perlu-saja sehingga fokus kepada dari sewa gedung, pemesanan cathering hingga penyebaran undangan.

Lalu, mengapa penyederhanaan itu hanya condong kepada keterlibatan orang banyak? Seolah penyelenggaraan resepsi pernikahan bagai sebuah pentas seni yang harus menyenangkan para hadirin undangan.

Penting untuk kita kembalikan ke diri masing-masing dan meninjau kembali hakikat dari sebuah pernikahan. Ada benarnya orang-orang zaman dulu yang mengatakan bahwa “Sebenarnya pernikahan itu mudah, yang membuat sulit itu ialah adat, budaya dan gengsi orangtua.”. Sebenarnya yang paling penting kan adalah akad yang menjadikan kedua insan sah menjadi sepasang suami-istri.

Realita seolah menampar seolah berkata “Cmon bro, bangun dong. Kita masih hidup di Indonesia, resepsi pernikahan sangat erat dengan budaya kita!”. Kalau tidak ada resepsi pasti akan dirasani (bahasa jawa: diomongin) kemudian jadi bahan perbincangan tetangga tujuh hari tujuh malam tiada henti. Walaupun ada solusi alternatif yang tidak akan dalam merogoh kocek dengan perayaan se-sederhana mungkin dengan menyuguhkan makanan di rumah dengan mengundang tetangga dan rekan-rekan.

Apabila kita rajin dan tidak lelah untuk mengeksplorasi, sangat banyak vendor pernikahan yang memberikan paket pernikahan dengan harga terjangkau. Dengan penyesuaian konsep pernikahan yang sesuai budget, sepertinya hal ini akan menjadi solusi baru oleh kalangan masyarakat kelas menengah.

Alasan budget tersebut yang menjadi penyebab beberapa pasangan mencoba untuk melakukan penyesuaian terhadap pelaksanaan resepsi pernikahan. Tempat pelaksanaan atau venue merupakan hal pertama yang menjadi mimpi buruk bagi pasangan yang memiliki budget pas-pasan.

Biasanya resepsi dilaksanakan di aula atau ballroom sebuah hotel atau mall atau ruangan auditorium skala besar yang identik dengan harga sewa yang besar pula. Hingga akhirnya, dipilihlah rumah sendiri untuk meminimalisir keluarnya uang sewa gedung yang cukup besar.

Di sinilah inti permasalahannya, dengan jumlah undangan yang hampir ratusan orang tentu tidak akan cukup dilaksanakan di dalam rumah saja. Ya, kecuali rumahnya seluas stadion.

Baca Juga: Santai Sejenak; Januari 2020 yang Berasa Setaun Sendiri

Tentunya akan ada tenda yang terpasang di tengah jalan yang kemudian mengganggu kepentingan orang lain. Kalau masih di kompleks perumahan yang jalanannya luas sih it’s okay, tapi kalau di jalan umum yang dilalui berbagai jenis kendaraan dan menjadi “diafragma” yang menghubungkan satu titik dengan titik lain tanpa ada jalanan lain sebagai alternatif, inilah yang bikin gerah.

“Ada gak sih undang-undang yang ngatur jalan sebagai kepentingan umum gini?” tanyaku penasaran dalam hati.

Sambil mencari, google menampilkan beberapa referensi yang juga menjadi penambahan wawasan diri sendiri—bagaimanapun educate yourself itu penting, kan?

Sangat jelas tertuang dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”) dan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. 10 Tahun 2012 tentang Pengaturan Lalu Lintas Dalam Keadaan Tertentu dan Penggunaan Jalan Selain Untuk Kegiatan Lalu Lintas (“Perkapolri 10/2012”).

Bunyi pasal yang menarik dan pas dengan keresahan saya adalah “Jika penggunaan jalan untuk kepentingan pribadi tersebut mengakibatkan penutupan jalan, maka penggunaan jalan dapat diizinkan apabila ada jalan alternatif. Pengalihan arus lalu lintas ke jalan alternatif tersebut harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas sementara.”

Sesuai bunyi pasal di atas, membuat mulut ini seolah gatal untuk melakukan protes. Karena mereka tidak melakukan perencanaan terhadap jalan alternatif bagi masyarakat umum. Dengan blok sebelah yang juga merupakan jalan utama melaksanakan kondangan juga, tentu tidak ada koordinasi kan antara kedua pihak yang “memakan” hak masyarakat umum? Kacau..

Pada pasal lainnya berbunyi “Jika penggunaan jalan tersebut mengakibatkan penutupan jalan, harus ada izin penggunaan jalan yang diberikan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (“Polri”). Polri nantinya akan bertanggung jawab menempatkan petugas pada ruas jalan untuk menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan.” Sementara yang terlihat di lapangan tidak terlihat satupun petugas dari kepolisian yang berjaga di kondangan tersebut.

Semakin gatal untuk mempertanyakan hal terkait. Ngundang kagak, nyusahin iya.

Tapi sudahlah, biarkan orang berbahagia, toh juga kondangannya nggak tiap hari. Akhirnya sambil menahan emosi kulanjutkan perjalanan sambil berusaha ber-positif-thinking; mungkin dari pernikahan yang menutup jalan itu nantinya akan lahir anak-anak yang bermanfaat bagi nusa, bangsa, dan agama. [aamiin paling serius] [aww malu bgt mara-mara]

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.